Presiden Prabowo Subianto mengaku sempat menerima laporan bahwa sejumlah BUMN strategis akan dijual ke asing karena kinerjanya buruk. Ia menolak rencana itu dan menyebut beberapa perusahaan yang sempat terancam justru mulai menunjukkan perbaikan.
Dalam pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo menyebut PT PAL, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, hingga Garuda Indonesia sebagai perusahaan yang pernah berada dalam situasi sulit. Menurutnya, pembenahan dilakukan agar aset negara tidak hilang dan perusahaan pelat merah kembali sehat.
PT PAL, Pindad, dan PTDI Didorong Bangkit
Prabowo mengatakan PT PAL sempat disebut hendak dijual, padahal perusahaan itu kini sudah mampu memproduksi kapal perang, kapal selam, dan tengah mengembangkan kapal dengan teknologi yang lebih maju. Ia menilai capaian itu menjadi bukti bahwa industri pertahanan bisa dibangkitkan bila dikelola dengan benar.
Untuk PT Pindad, Prabowo mengungkap adanya laporan kontrak dari Arab Saudi untuk penyediaan senapan dan senapan mesin bagi militer negara tersebut. Ia menyebut perkembangan itu sebagai sinyal bahwa BUMN pertahanan Indonesia masih punya peluang di pasar internasional.
PT Dirgantara Indonesia juga masuk daftar perusahaan yang menurut Prabowo sempat “dibunuh” dan hendak dijual. Meski begitu, ia menegaskan pemerintah memilih untuk membangkitkan kembali kemampuan industri nasional, bukan melepasnya ke pihak asing.
| Perusahaan | Situasi yang Disebut Prabowo | Perkembangan Terkini |
|---|---|---|
| PT PAL | Sempat hendak dijual | Memproduksi kapal perang, kapal selam, dan mengembangkan kapal berteknologi lebih maju |
| PT Pindad | Sempat hendak dijual | Mendapat kontrak dari Arab Saudi untuk senapan dan senapan mesin |
| PT Dirgantara Indonesia | Sempat “dibunuh” dan mau dijual | Disebut sedang dibangkitkan kembali |
| Garuda Indonesia | Sempat hampir dilepas ke investor asing | Disebut bulan depan sudah mulai untung |
Garuda dan BUMN Rugi Mulai Berbalik Arah
Selain sektor pertahanan, Prabowo juga menyinggung Garuda Indonesia yang menurutnya sempat hampir dijual. Ia mengatakan pemerintah kini memperbaiki tata kelola maskapai nasional itu dan berharap perusahaan tersebut segera kembali mencetak laba setelah bertahun-tahun merugi.
“Garuda tadinya mau dijual, bulan depan sudah mulai untung. Pelan-pelan kita perbaiki semua kekurangan,” kata Prabowo dalam pidatonya. Pernyataan itu menunjukkan arah pembenahan yang tidak hanya menyasar aset strategis, tetapi juga BUMN yang selama ini terbebani kerugian.
Prabowo juga mengaku menerima laporan bahwa sejumlah BUMN yang selama puluhan tahun merugi kini mulai untung. Menurutnya, perubahan itu muncul setelah restrukturisasi yang dilakukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Ia menilai pembenahan tersebut penting karena sebagian BUMN selama ini menjadi tempat praktik korupsi yang menggerus kinerja perusahaan. Karena itu, restrukturisasi disebut tidak sekadar menutup kerugian, tetapi juga menertibkan tata kelola yang dianggap lama dibiarkan berantakan.
Danantara Menutup Ratusan BUMN Tidak Sehat
Prabowo juga mengungkap bahwa saat awal menjabat, ia baru mengetahui jumlah BUMN beserta anak usahanya mencapai 1.077 entitas. Ia bahkan menyebut masih mungkin ada lapisan lain berupa anak, cucu, hingga cicit perusahaan yang dipakai untuk menyembunyikan uang negara dan uang rakyat.
Menurutnya, kondisi itu sedang ditertibkan melalui konsolidasi dan penataan ulang perusahaan pelat merah. Danantara disebut telah menutup sekitar 240 BUMN yang dinilai tidak sehat dan merugi, dengan target bertambah menjadi sekitar 250 perusahaan pada akhir Juli.
Pemerintah berharap langkah itu membuat BUMN lebih efisien, lebih kuat bersaing, dan memberi kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Di sisi lain, pernyataan Prabowo menunjukkan bahwa pemerintah ingin mempertahankan kendali atas perusahaan strategis yang selama ini dianggap terlalu mudah dilepas.
