Bahlil Akui Tak Mudah Jadi Menteri ESDM Saat Geopolitik Global Memanas

Author: Qoo Media

Mengurus sektor energi di tengah geopolitik yang memanas ternyata bukan pekerjaan sederhana. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui, tekanan dari situasi global membuat keputusan di bidang energi sering jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Musyawarah Besar Luar Biasa Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026). Dalam pernyataannya, Bahlil menekankan bahwa tantangan di lapangan kerap melampaui apa yang bisa dipelajari di ruang kelas.

Ilmu Sekolah Tidak Selalu Cukup

Bahlil menilai pendidikan formal memang penting untuk melatih cara berpikir kritis dan memahami kebijakan. Namun, menurut dia, kondisi nyata di sektor energi menuntut respons yang lebih cepat dan fleksibel ketika situasi internasional berubah tiba-tiba.

Ia mencontohkan gangguan di Selat Hormuz saat ketegangan di Timur Tengah meningkat dan jalur pelayaran sempat terdampak. Dalam situasi itu, kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) disebut sempat tertahan di kawasan Teluk Arab akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Dalam penjelasannya, Bahlil menegaskan bahwa persoalan seperti itu tidak selalu memiliki jawaban yang bisa dicari di buku pelajaran. “Ilmu sekolah enggak cukup. Tidak ada itu mata kuliah di energi kalau Selat Hormuz ditutup ambil minyak dari mana? Enggak ada. Itu butuh dinamika yang sangat luar biasa sekali,” ujarnya.

Jaga Harga BBM Subsidi Tetap Stabil

Bahlil juga menekankan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap harus berpihak pada masyarakat. Sebagai Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, ia menyebut kepentingan rakyat menjadi prioritas di tengah dinamika global yang terus bergerak.

Menurut Bahlil, ia telah melaporkan dan memberikan rekomendasi kepada Presiden Prabowo Subianto agar harga BBM subsidi tidak dinaikkan meski tekanan geopolitik berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi dunia. Ia juga menyebut Presiden mengarahkan agar harga BBM subsidi tetap tidak dinaikkan.

“Saya melaporkan kepada Bapak Presiden, menyarankan kepada Bapak Presiden dan sekaligus Bapak Presiden mengarahkan agar harga BBM subsidi tidak perlu kita naikkan. Alhamdulillah harga BBM subsidi tidak ada kita naikkan,” kata Bahlil.

Pernyataan itu menunjukkan betapa keputusan energi saat ini tidak hanya bergantung pada kondisi domestik, tetapi juga pada perkembangan konflik dan jalur logistik internasional. Di tengah ketidakpastian itu, pemerintah disebut berupaya menjaga agar beban masyarakat tidak bertambah melalui kenaikan harga BBM subsidi.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru