Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Naik Tajam

Author: Qoo Media

Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran kini menyentuh titik paling rawan, setelah Selat Hormuz ditutup dan serangan rudal serta drone meluas ke sejumlah negara Teluk. Jalur yang selama ini menjadi urat nadi energi dunia itu kembali terganggu, dan dampaknya langsung terasa pada pasar global.

Dalam perkembangan terbaru pada Minggu, 12 Juli 2026, pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan di Timur Tengah. Teheran kemudian membidik fasilitas strategis sekutu AS di Qatar, Yordania, Kuwait, dan Oman, sekaligus menyatakan blokade maritim di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Sensitif

Selat Hormuz memegang peran besar dalam distribusi energi internasional karena sebelum perang jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Ketika arus pelayaran tersendat, efeknya tidak berhenti di kawasan Timur Tengah.

Iran menyebut pelayaran komersial sementara tidak dapat dilakukan karena apa yang mereka sebut sebagai pergerakan ilegal militer Amerika Serikat. Otoritas Selat Teluk Persia yang dibentuk Iran juga mengklaim telah menegakkan sistem penarikan retribusi permanen di jalur tersebut.

Di sisi lain, Komando Sentral AS atau CENTCOM menegaskan armadanya tetap dikerahkan untuk menjamin kebebasan navigasi internasional di bawah hukum laut. CENTCOM juga menyatakan, “Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Arus lalu lintas pelayaran tetap berjalan.”

Pihak Langkah yang Dinyatakan Dampak Langsung
Iran Menutup Selat Hormuz dan menahan pelayaran komersial Distribusi logistik global terganggu
CENTCOM Menjaga kebebasan navigasi internasional Armada AS tetap dikerahkan di kawasan

Dampak Ekonomi Mulai Merambat

Blokade ini berpotensi mendorong harga energi internasional naik tajam dan memperparah inflasi global. Harga BBM menjadi isu domestik yang sensitif bagi Presiden AS Donald Trump, terutama karena kondisi itu bisa memengaruhi peta politik menjelang pemilihan legislatif Kongres AS pada November mendatang.

www.suara.com menulis bahwa situasi ini juga mengancam kesepakatan interim pemulihan stabilitas yang baru ditandatangani AS dan Iran bulan lalu. Dalam perjanjian itu, Selat Hormuz semula ditargetkan dibuka kembali dalam masa negosiasi lanjutan selama 60 hari.

Serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman menambah kekhawatiran di jalur pelayaran. Pemerintah India melaporkan satu warganya hilang, sementara 23 kru lainnya telah dievakuasi oleh otoritas Oman.

Saling Serang dan Klaim Kerusakan

CENTCOM mengklaim telah menggempur 140 target militer Iran pada Sabtu dan lebih dari 300 target sepanjang pekan ini. Serangan itu disebut bertujuan mengikis kemampuan Iran dalam mengganggu kapal dagang.

Di sisi lain, media resmi pemerintah Iran melaporkan ledakan di sejumlah kota pelabuhan dan tewasnya seorang perwira militer akibat serangan udara gabungan AS-Israel. IRGC kemudian mengklaim menghancurkan pusat komando taktis dan hanggar drone di Yordania, situs radar di Kuwait, platform logistik lepas pantai di Oman, serta pusat pemeliharaan jet tempur di Qatar.

Qatar menyatakan tiga orang, termasuk seorang anak-anak, terluka akibat jatuhnya serpihan proyektil. Negara itu juga menegaskan Iran bertanggung jawab secara hukum atas insiden tersebut.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi bertemu di Muscat untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz. Namun, pertemuan diplomatik itu kini tertutup oleh ledakan baru dan saling balas serangan yang memperlebar arena konflik.

Tokoh politik Iran sekaligus negosiator senior, Mohammad Baqer Qalibaf, menyampaikan pesan keras melalui akun resminya di platform X. Ia menulis, “Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memperingatkan Anda: tepati janji Anda atau bayar harganya. Realitas kini sedang membuktikannya.”

Source: www.suara.com
Terbaru