Dokter Salah Penanganan, Bayi yang Lumpuh Seumur Hidup Baru Dapat Titik Terang Setelah 16 Tahun

Author: Qoo Media

Kasus medis yang membuat seorang bayi lumpuh seumur hidup di Hong Kong akhirnya menemukan titik terang setelah penantian 16 tahun. Namun bagi keluarga Li Zhijian dan Peng Hongying, putusan itu belum sepenuhnya memberi keadilan karena dampak pada putra mereka, Li Yuanjian, bersifat permanen.

Pasangan asal China itu baru bisa melihat hasil nyata setelah badan pengawas medis Hong Kong memutuskan seorang dokter anak bersalah atas pelanggaran kode etik profesional. Putusan ini menjadi penutup sementara dari perjuangan panjang yang sejak awal dipenuhi penundaan dan rasa frustrasi.

Kejang yang Berujung Kelumpuhan Permanen

Menurut hasil sidang panel penyelidikan Dewan Medis Hong Kong pada 5 Juli lalu, dokter anak Sit Sou-chi dinyatakan bersalah. Ia dianggap lalai karena tidak segera melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang yang diperlukan setelah bayi Yuanjian mengalami gejala kejang-kejang.

Peristiwa itu terjadi pada 22 Desember 2009 di Rumah Sakit Baptist di kawasan Kowloon Tong. Akibat keterlambatan penanganan, Yuanjian kemudian didiagnosis menderita cerebral palsy dan quadriplegia, sehingga tidak mampu merawat dirinya sendiri.

“Kami hanya bisa mengatakan bahwa kami dapat menerimanya, dan kami bisa menemukan sedikit penutupan serta melupakan hal ini,” kata Li kepada South China Morning Post, seperti dikutip internasional.kompas.com. “Namun, jika Anda bertanya apakah kami puas, kami jelas tidak.”

Fakta Utama Rincian
Dokter yang diperiksa Sit Sou-chi
Putusan Bersalah atas pelanggaran kode etik profesional
Lokasi kejadian Rumah Sakit Baptist, Kowloon Tong
Dampak pada korban Cerebral palsy dan quadriplegia
Sanksi Larangan praktik selama sembilan bulan

Penyelidikan yang Sempat Mandek

Keluarga Li pertama kali mengajukan draf pengaduan resmi pada 2010, tetapi putusan baru keluar jauh kemudian. Penyidikan yang semula dijadwalkan pada 2016 berulang kali ditunda sebelum akhirnya dihentikan pada Oktober lalu.

Alasan penghentian itu adalah penundaan administratif yang berkepanjangan yang dinilai membuat sidang tidak adil bagi dokter. Protes publik dan keterlibatan Sekretaris Kesehatan Lo Chung-mau kemudian mendorong lembaga pengawas tersebut membatalkan keputusan itu dan melanjutkan penyelidikan.

Bagi keluarga, putusan ini memang memberi sedikit kelegaan, tetapi belum cukup untuk mengubah kenyataan bahwa Yuanjian harus hidup dengan kondisi permanen. Li mengatakan dirinya belum memberi tahu putranya karena khawatir informasi itu membuatnya kewalahan.

“Dia sensitif. Jika dia mengetahuinya, dia akan terus memikirkannya. Kami akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepadanya,” ujar Li.

Biaya Perawatan Masih Menjadi Beban Besar

Yuanjian kini berusia 16 tahun dan bersekolah di sebuah sekolah khusus di Hong Kong. Ia membutuhkan bantuan untuk hampir semua aktivitas sehari-hari, mulai dari makan hingga menggunakan kamar mandi.

Li menyebut keluarga masih harus menempuh perjalanan panjang untuk menghadapi biaya perawatan jangka panjang. Ia dan istrinya sedang bersiap mengajukan gugatan perdata terhadap Sit dan rumah sakit swasta tersebut untuk meminta ganti rugi.

Biaya itu dibutuhkan untuk menutup sebagian kebutuhan masa depan Yuanjian, termasuk rehabilitasi dan kemungkinan perawatan di panti jompo swasta jika ia tidak mendapat tempat di fasilitas yang disubsidi pemerintah. Li, yang bekerja di bidang konstruksi, menilai beban itu akan sangat besar selama beberapa dekade mendatang.

Ia juga mengatakan Yuanjian akan tetap tinggal di Hong Kong untuk menjalani pemeriksaan rutin dan rehabilitasi, meski artinya pasangan itu harus bepergian dari Shenzhen setiap bulan untuk menjenguknya. Setelah berusia 18 tahun, mereka juga mengajukan permohonan agar putranya bisa ditempatkan di panti perawatan yang disubsidi pemerintah bagi orang dewasa penyandang disabilitas.

Namun, Li mengakui tantangan lain masih menunggu, termasuk masa tunggu yang bisa berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, keluarga masih menempatkan kasus ini sebagai perjuangan yang belum selesai meski keputusan Dewan Medis sudah dijatuhkan.

Dorong Perombakan Dewan Medis

Kasus yang tertunda lama ini ikut mendorong pihak berwenang untuk merombak Dewan Medis. Usulan yang diumumkan bulan lalu mencakup perluasan jumlah anggota dari 32 menjadi 35 orang serta peningkatan proporsi anggota awam dari 25 persen menjadi 31 persen.

Proses penyelidikan untuk kasus-kasus sebelumnya disebut memakan waktu rata-rata 42 bulan. Setelah reformasi, waktu itu diperkirakan turun menjadi 29 bulan, yang diharapkan membuat pelapor dan dokter tidak lagi harus melalui prosedur yang terlalu panjang.

Li menyambut baik perubahan tersebut dan menilai reformasi bisa membantu banyak pihak. Menurutnya, perubahan pada komposisi dewan dan pemangkasan waktu penyelidikan akan membuat sistem lebih masuk akal bagi semua yang terlibat.

Source: internasional.kompas.com
Terbaru