Investor Asing Berburu Emas dan Dolar AS, Tekanan Geopolitik Mulai Menguasai Pasar

Author: Qoo Media

Ketegangan di Timur Tengah kembali membuat pasar global defensif. Di tengah aksi saling serang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, investor asing ramai-ramai mengalihkan dana ke emas dan dolar AS.

Perpindahan arus modal itu mencerminkan sikap risk-off yang makin kuat saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Aset berisiko seperti saham dan kripto mulai ditinggalkan, sementara instrumen yang dianggap lebih aman justru diburu.

Investor memilih perlindungan, bukan risiko

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa situasi ini mendorong investor global bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio. Dalam risetnya yang dikutip www.beritasatu.com, ia mengatakan, “Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas.”

Emas batangan dan dolar AS menjadi tujuan utama perpindahan dana tersebut. Menurut David, lonjakan permintaan atas dua aset safe haven itu berpotensi terus mendongkrak harga emas sekaligus memperkuat dolar AS di pasar valuta asing dalam waktu dekat.

Dampak ke Indonesia masih harus diwaspadai

Dari dalam negeri, kondisi fiskal Indonesia masih terbilang terukur. Pemerintah melaporkan defisit APBN pada paruh pertama 2026 sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% dari PDB.

Angka itu masih aman karena jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 3%. Namun, David mengingatkan bahwa laju belanja negara yang lebih cepat daripada penerimaan tetap memberi sinyal kewaspadaan bagi otoritas fiskal.

Ia menilai pemerintah perlu mengelola pembiayaan negara dengan lebih ketat dan selektif pada paruh kedua tahun ini. Langkah itu penting untuk meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi domestik di tengah gejolak global.

IHSG masuk pekan yang sarat agenda

Memasuki pekan 13-17 Juli 2026, pergerakan IHSG diperkirakan masih dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi penting dari luar negeri. Rilis data inflasi CPI AS untuk Juni pada hari Selasa menjadi perhatian utama karena akan menjadi kompas pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga global.

Selain itu, pasar juga akan mencermati rangkaian pidato pejabat bank sentral AS atau The Fed serta rilis data pertumbuhan PDB Singapura. Di sisi domestik, pergerakan rupiah dan saham Indonesia masih berpotensi dibayangi dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Agenda Periode Relevansi Pasar
Inflasi CPI AS bulan Juni Selasa, pekan 13-17 Juli 2026 Menjadi acuan arah suku bunga global
Pidato pejabat The Fed Pekan 13-17 Juli 2026 Memengaruhi ekspektasi pasar
Pertumbuhan PDB Singapura Pekan 13-17 Juli 2026 Menambah petunjuk kondisi ekonomi regional
Rupiah dan pasar saham domestik Pekan 13-17 Juli 2026 Masih dibayangi ketegangan geopolitik Timur Tengah

Dengan sentimen global yang belum mereda, arus dana ke aset aman diperkirakan tetap menjadi tema utama pasar. Emas dan dolar AS kini berada di posisi yang paling diuntungkan saat investor memilih bertahan di tengah ketidakpastian.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru