Tekanan ke Rupiah Masih Besar, BI Andalkan Suku Bunga dan LCT

Author: Qoo Media

Tekanan terhadap rupiah masih terasa besar di tengah meningkatnya permintaan aset dolar AS dan ketidakpastian global. Bank Indonesia menilai dorongan utama pelemahan bukan berasal dari fundamental ekonomi domestik, melainkan dari persepsi pasar yang ikut terbawa kondisi global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut penguatan indeks dolar membuat investor cenderung memegang dolar maupun aset lain di luar negeri. Ia menyampaikan hal itu dalam Investment Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/7), saat menjelaskan mengapa rupiah masih menghadapi tekanan yang cukup berat.

Sentimen Global Lebih Menekan daripada Fundamental

Destry mengatakan kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya tidak terlalu sejalan dengan tekanan yang terjadi pada rupiah. Namun, sentimen seperti trust dan confidence yang dipengaruhi situasi global membuat pasar valas bergerak lebih hati-hati.

Media Indonesia mencatat bahwa pandangan itu muncul di tengah ketegangan pasar yang membuat aset dolar AS tetap lebih diminati. Dalam kondisi seperti ini, BI menilai stabilitas nilai tukar menjadi kunci agar perekonomian tidak ikut terseret volatilitas yang terlalu tajam.

Respons BI untuk Menahan Volatilitas

Untuk menjaga stabilitas, BI telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin sejak Mei hingga Juni 2026. Saat ini, suku bunga acuan berada di level 5,75%.

Destry menjelaskan kebijakan itu ditempuh untuk meredam volatilitas rupiah sekaligus menciptakan stabilitas yang dibutuhkan sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Ia menegaskan mandat BI memang menjaga stabilitas, khususnya nilai tukar, karena volatilitas yang terkendali akan berdampak positif bagi perekonomian secara keseluruhan.

Kebijakan BI Detail Tujuan
Kenaikan suku bunga acuan 100 basis poin sejak Mei hingga Juni 2026 Meredam volatilitas rupiah
Level suku bunga acuan saat ini 5,75% Menjaga stabilitas nilai tukar
Perluasan Local Currency Transaction Mengurangi ketergantungan pada dolar AS Menekan permintaan dolar

LCT Jadi Jalur Mengurangi Ketergantungan pada Dolar

Selain lewat suku bunga, BI juga memperluas penggunaan Local Currency Transaction atau LCT. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Destry mengatakan transaksi dengan mata uang lokal bersama mitra dagang, khususnya Tiongkok dan Jepang, terus meningkat. BI juga telah menyediakan fasilitas transaksi spot yuan dan yen terhadap rupiah di pasar domestik agar pelaku usaha tidak perlu mencari valuta asing melalui dolar AS.

Ia menambahkan, jika mekanisme local currency transaction bisa dioptimalkan, permintaan dolar akan ikut berkurang. Pada saat yang sama, BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat lebih mudah dikelola tanpa mengganggu aktivitas perdagangan dan pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, BI juga menanggapi keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia. Hasil itu dinilai memberi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik, dan penguatan rupiah mulai terlihat pada perdagangan berikutnya meski pasar valas sudah tutup saat pengumuman keluar.

Destry menyebut penguatan rupiah hari itu menjadi salah satu yang terbaik di kawasan, sekitar 0,2%. Sinyal itu menunjukkan bahwa sentimen eksternal dan kebijakan domestik sama-sama memainkan peran besar dalam arah pergerakan rupiah.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru