Harga emas dunia masih bertahan di atas level US$ 4.000 per ounce, tetapi pergerakannya belum benar-benar lepas dari tekanan. Setelah data inflasi produsen Amerika Serikat lebih rendah dari perkiraan, pelemahan emas memang sempat mereda, namun kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi belum hilang.
Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah ikut menjaga pasar tetap waspada. Kombinasi dua sentimen ini membuat emas bergerak hati-hati, meski sebagian pelaku pasar melihat ada ruang bagi pemulihan jika level support penting bisa bertahan.
Reaksi pasar setelah data inflasi AS
Mengutip CNBC, Kamis (16/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,2% ke level US$ 4.047,27 per ounce setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1%. Kontrak emas berjangka AS juga melemah 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per ounce.
Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, menilai emas berhasil memangkas pelemahannya setelah data PPI AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar. Ia mengatakan kondisi itu sedikit meredakan kekhawatiran bahwa The Fed akan beberapa kali menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Ekspektasi suku bunga ikut berubah
Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics mencatat indeks harga produsen atau PPI turun 0,3% pada Juni setelah pada Mei direvisi naik 0,6%. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni.
Data inflasi konsumen AS sehari sebelumnya juga menunjukkan laju kenaikan harga melambat lebih besar dari perkiraan analis. Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2% dari sebelumnya 16,6% sebelum data PPI diumumkan.
| Indikator | Perubahan | Catatan |
|---|---|---|
| PPI AS Juni | -0,3% | Setelah Mei direvisi naik 0,6% |
| Peluang The Fed naikkan suku bunga pada pertemuan Juli | 10,2% | Turun dari 16,6% sebelum data PPI |
| Emas spot | US$ 4.047,27 per ounce | Turun 0,2% |
| Emas berjangka AS | US$ 4.053,70 per ounce | Turun 0,4% |
Geopolitik tetap jadi faktor penentu
Meski data inflasi memberi napas bagi emas, sentimen pasar masih dibayangi tensi di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di sejumlah pelabuhan Iran.
Iran kemudian mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu dan membuat pasar komoditas tetap berada dalam mode waspada.
Level teknikal yang dipantau analis
Senior Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, mengatakan perkembangan di sekitar Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran soal tekanan inflasi global. Ia menilai jika harga minyak naik lebih tinggi, tekanan itu justru bisa menekan pergerakan harga emas.
Otunuga menilai emas berada di titik krusial secara teknikal. Jika level US$ 4.000 gagal bertahan, ia melihat jalan menuju US$ 3.950 bahkan US$ 3.000 bisa terbuka, tetapi jika support itu kuat maka emas berpeluang naik lagi ke US$ 4.100.
Menurut Otunuga, kenaikan harga bahan bakar berpotensi mempertahankan inflasi lebih lama sehingga bank-bank sentral bisa tetap menjaga suku bunga tinggi dalam waktu lebih panjang. Dalam kondisi itu, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil dapat berkurang meski harganya masih berada di area psikologis penting.
Logam mulia lain juga bergerak beragam pada perdagangan yang sama. Harga perak spot turun 1,6% menjadi US$ 57,67 per ounce, platinum naik 0,2% ke US$ 1.634,13 per ounce, sedangkan palladium melemah 0,8% menjadi US$ 1.294,25 per ounce.
Source: www.liputan6.com






