4 Alasan Warren Buffett Tak Pernah Menjadikan Emas Pilihan Investasi Utama

Di saat banyak investor melihat emas sebagai pelindung nilai, Warren Buffett justru punya pandangan yang jauh berbeda. Investor legendaris dan eks CEO Berkshire Hathaway itu selama puluhan tahun lebih memilih aset yang bisa tumbuh dan menghasilkan pendapatan.

Pandangan itu kembali ramai dibahas karena Buffett dikenal konsisten menilai emas bukan instrumen utama untuk membangun kekayaan jangka panjang. Melansir Forbes yang dikutip www.viva.co.id, ada empat alasan utama mengapa emas jarang masuk prioritas investasi Buffett.

Emas Tidak Menghasilkan Arus Kas

Menurut Buffett, kelemahan paling mendasar dari emas adalah tidak menghasilkan pendapatan apa pun. Berbeda dengan saham perusahaan yang bisa mencetak laba atau membagikan dividen, emas hanya bergantung pada pergerakan harga di pasar.

Buffett pernah menyebut emas sebagai cara untuk bertaruh bahwa rasa takut di pasar akan terus meningkat. Namun, menurutnya, emas itu sendiri tidak menghasilkan apa pun.

Bukan Aset Produktif

Buffett juga menilai emas tidak produktif karena tidak menciptakan nilai ekonomi baru setelah ditambang. Ia menggambarkan emas sebagai sesuatu yang digali dari tanah, dilebur, lalu disimpan kembali dengan biaya tambahan untuk menjaganya.

Dalam pandangannya, emas hanya berpindah tangan dari satu pemilik ke pemilik lain, tanpa menghasilkan barang atau jasa seperti perusahaan yang aktif beroperasi.

AspekEmasAset Produktif
Arus kasTidak menghasilkanBisa menghasilkan laba atau dividen
Nilai ekonomiTidak mencipta nilai baruMencipta barang, jasa, dan keuntungan
Fungsi utamaBergantung pada harga pasarBertumbuh lewat operasional bisnis

Lebih Suka Bisnis yang Menguntungkan

Filosofi investasi Buffett sejak lama berpusat pada aset yang mampu menghasilkan keuntungan berkelanjutan. Karena itu, ia lebih tertarik pada perusahaan dengan fundamental kuat dibandingkan pada emas fisik.

Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett pernah membandingkan seluruh emas di dunia dengan aset produktif seperti lahan pertanian dan perusahaan besar. Menurutnya, dengan nilai yang sama, investor bisa memiliki aset yang terus menghasilkan pendapatan setiap tahun.

Investasi Produktif Dinilai Lebih Unggul Jangka Panjang

Buffett juga kerap menekankan bahwa perusahaan sehat memiliki peluang berkembang dari waktu ke waktu. Ketika bisnis memperoleh laba dan nilainya meningkat, imbal hasil yang didapat investor dinilai lebih kuat daripada aset yang hanya mengandalkan kenaikan harga.

Itulah alasan Buffett lebih sering menaruh perhatian pada bisnis yang bisa bertumbuh, bukan pada instrumen yang sekadar disimpan tanpa menghasilkan arus pendapatan.

Mengapa Berkshire Hathaway Pernah Membeli Saham Emas

Meski kerap mengkritik emas, Berkshire Hathaway sempat membeli saham perusahaan tambang emas Barrick Gold pada 2020. Langkah itu sempat memunculkan dugaan bahwa Buffett mulai berubah sikap terhadap emas.

Namun, pembelian tersebut bukan emas batangan, melainkan saham perusahaan yang menghasilkan pendapatan, laba, dan berpotensi membagikan dividen. Tak lama kemudian, Berkshire Hathaway juga mengurangi sebagian besar kepemilikan saham itu.

Emas Tetap Punya Tempat di Portofolio

Pandangan Buffett bukan berarti emas harus dihindari sepenuhnya. Banyak pakar keuangan tetap melihat emas sebagai aset lindung nilai saat inflasi naik, nilai mata uang melemah, atau pasar saham tertekan.

Sejarah juga menunjukkan harga emas bisa naik signifikan pada periode tertentu. Karena itu, sebagian investor tetap menempatkan emas sebagai alat diversifikasi, bukan satu-satunya pilihan investasi.

Pada akhirnya, setiap instrumen punya fungsi berbeda, termasuk saham, obligasi, dan emas. Bagi Buffett, yang paling penting tetap memilih aset yang mampu menciptakan nilai dan tumbuh dalam jangka panjang.

Source: www.viva.co.id
Terkait