Hampir 30 Persen Investasi Nasional Kini Masuk Hilirisasi, Bauksit Geser Nikel

Investasi hilirisasi terus naik dan kini menjadi porsi yang nyaris menyamai sepertiga total investasi nasional. Pada semester I 2026, nilainya mencapai Rp 300,1 triliun atau 29,7 persen dari total realisasi investasi Rp 1.010,6 triliun.

Angka itu menandai kenaikan 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut tren ini menunjukkan hilirisasi makin kuat di tengah realisasi investasi yang lebih luas.

Mineral masih mendominasi

Menurut Rosan, sektor mineral masih menjadi penopang terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp 206,5 triliun. Di dalamnya, nikel menyumbang Rp 71 triliun, bauksit Rp 53,8 triliun, tembaga Rp 37,4 triliun, besi baja Rp 30,2 triliun, pasir silika Rp 5,9 triliun, dan komoditas lain Rp 8,2 triliun.

Komoditas lain itu mencakup timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang. Data tersebut menunjukkan mineral tetap menjadi pusat utama hilirisasi di Indonesia.

Sektor HilirisasiNilai InvestasiRincian Utama
MineralRp 206,5 triliunNikel, bauksit, tembaga, besi baja, pasir silika, komoditas lain
Perkebunan dan KehutananRp 54,4 triliunKelapa sawit, kayu log, karet, pala, pinus, kelapa, kakao, biofuel
Minyak dan Gas BumiRp 35,4 triliunMinyak bumi dan gas bumi
Perikanan dan KelautanRp 3,8 triliunGaram, tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, tilapia

Di sektor perkebunan dan kehutanan, investasi hilirisasi tercatat Rp 54,4 triliun. Rinciannya berasal dari kelapa sawit Rp 29,5 triliun, kayu log Rp 16,3 triliun, karet Rp 5 triliun, serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp 3,6 triliun.

Sektor minyak dan gas bumi menyumbang Rp 35,4 triliun, dengan minyak bumi sebesar Rp 26,4 triliun dan gas bumi Rp 9 triliun. Sementara itu, perikanan dan kelautan mencatat investasi Rp 3,8 triliun.

Bergeser, bauksit kini di depan

Untuk kuartal II 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp 152,7 triliun atau 29,8 persen dari total realisasi investasi pada periode itu. Rosan juga mengungkap adanya perubahan komoditas yang paling banyak menarik investasi hilirisasi.

Jika biasanya nikel berada di posisi teratas, kali ini bauksit naik menjadi komoditas nomor satu. Rosan menilai pergeseran itu terjadi karena ada beberapa pembangunan proyek bauksit, baik oleh investor dalam negeri maupun luar negeri, sebagaimana disampaikannya di Kompleks Istana Kepresidenan pada Kamis (16/7/2026).

Masih terkonsentrasi di luar Jawa

Meski pertumbuhannya kuat, mayoritas investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Porsinya mencapai 75,7 persen atau sekitar Rp 227,3 triliun, menunjukkan arah investasi industri masih banyak bergerak ke wilayah penghasil bahan baku.

Rosan mengatakan pemerintah tidak ingin hilirisasi berhenti pada tahap pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi. Pemerintah mendorong rantai industri yang lebih lengkap, seperti yang sudah mulai terbentuk pada ekosistem nikel.

Ia mencontohkan industri nikel di Indonesia yang kini berkembang dari pengolahan bijih nikel hingga produksi baterai kendaraan listrik secara terintegrasi. Arah yang sama juga akan didorong untuk kelapa sawit, bauksit, karet, kayu, pasir silika, minyak dan gas bumi, hingga perikanan dan kelautan.

Dari sisi asal modal, Hong Kong menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp 75,2 triliun. Diikuti Singapura Rp 65,7 triliun, China Rp 28,3 triliun, Jepang Rp 8,7 triliun, dan Amerika Serikat Rp 8,1 triliun.

Source: money.kompas.com
Terkait