Lini usaha asuransi umum di Indonesia, yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan industri, mengalami penurunan signifikan pada kuartal I tahun 2025. Total premi bruto yang dibukukan hanya tumbuh 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year), yaitu sebesar Rp30,53 triliun, dengan peningkatan yang terbilang minim sebesar Rp79 miliar. Tren ini menunjukkan bahwa sektor asuransi umum, khususnya dalam tiga lini usaha utama, mengalami kontraksi yang cukup mengkhawatirkan.
Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisa Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Trinita Situmeang, mengungkapkan bahwa tiga lini usaha asuransi penyumbang premi terbesar saat ini adalah asuransi kendaraan bermotor, asuransi properti, dan asuransi kredit. Namun, kuartal ini mencatat bahwa kedua lini pertama justru mengalami kontraksi. Premi asuransi kendaraan bermotor turun sebesar 5,3% atau Rp292 miliar menjadi Rp5,24 triliun, sedangkan kontribusi premi dari asuransi properti mengalami penurunan lebih tajam, yaitu 14,1% dengan total Rp7,80 triliun.
Asuransi kredit mencatat pertumbuhan sangat minim, hanya 0,3% atau Rp11 miliar menjadi Rp3,98 triliun. Meskipun masih tumbuh positif, lini usaha ini kini memiliki rasio klaim tertinggi, mencapai 90,3%. Hal ini mencerminkan tantangan besar bagi perusahaan asuransi dalam mengelola risiko dan premi, terutama saat klaim dibayar terus meningkat melebihi pertumbuhan premi yang diperoleh.
Data menunjukkan bahwa pangsa pasar premi asuransi properti turun dari 28,9% di kuartal I tahun 2024 menjadi 25,9% di kuartal I tahun 2025. Demikian pula, pangsa pasar asuransi kendaraan bermotor sedikit berkurang dari 17,6% menjadi 17,3%, sedangkan premi asuransi kredit turun dari 15,7% menjadi 13,3%. Kontraksi ini memberikan sinyal akan adanya masalah internal yang mendalam dalam kedua lini utama ini.
Dalam hal klaim, asuransi properti mengalami peningkatan klaim yang signifikan, dengan klaim dibayar naik Rp486 miliar atau 33% menjadi Rp1,96 triliun. Sebaliknya, klaim untuk asuransi kendaraan bermotor mengalami penurunan sebesar Rp80 miliar menjadi Rp1,82 triliun, sementara klaim asuransi kredit naik Rp275 miliar menjadi Rp3,59 triliun. Klaim dibayar dari lini usaha ini memberi kontribusi besar pada total klaim industri asuransi umum.
Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, mengidentifikasi beberapa faktor penyebab kontraksi pada lini usaha andalan. Untuk asuransi kredit, ada tantangan terkait pemenuhan ketentuan ekuitas dan rasio likuiditas yang baru, yang menyulitkan beberapa perusahaan dalam menjual produk ini. Dalam konteks asuransi properti, kondisi ekonomi global yang lesu dikaitkan dengan pengurangan belanja asuransi di kalangan perusahaan. Di sisi lain, penjualan kendaraan yang menurun berkontribusi pada kontraksi asuransi kendaraan.
Meski demikian, ada harapan di kalangan pelaku industri bahwa pasar otomotif mulai bergeliat kembali, yang bisa memicu pertumbuhan premi asuransi kendaraan pada kuartal kedua tahun 2025.
Secara keseluruhan, data dan analisis menunjukkan bahwa industri asuransi umum di Indonesia perlu melakukan strategi dan inovasi untuk mengatasi tantangan yang ada. Dengan pertumbuhan yang lambat dan tekanan dari berbagai sisi, penting bagi setiap lini usaha untuk beradaptasi dan mencari cara baru untuk meningkatkan kinerja di pasar yang kompetitif ini. Sebuah perhatian lebih besar harus diberikan untuk meningkatkan efisiensi dan penjualan dalam sektor yang tertekan ini agar dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang.





