Uni Eropa mengusulkan pelonggaran aturan emisi yang dapat memberi sejumlah perusahaan waktu lebih panjang untuk menekan jejak karbonnya. Dalam skema yang diajukan, izin emisi bagi industri tertentu dapat tersedia hingga 2038, bukan berakhir pada 2034 seperti rencana sebelumnya.
Usulan ini menjadi perubahan penting dalam kebijakan iklim blok tersebut karena menyentuh biaya dan kepastian investasi bagi sektor industri. Namun, kelonggaran itu masih berupa proposal dan harus mendapat persetujuan negara-negara anggota Uni Eropa serta para pembuat undang-undang.
Komisi Eropa memperkirakan proses persetujuan membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Jika diterapkan, perusahaan yang berkomitmen berinvestasi dalam dekarbonisasi di Eropa akan menjadi pihak yang berpeluang memperoleh kelonggaran tersebut.
Komisaris Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra menyebut pendekatan baru itu lebih mempertimbangkan kebutuhan dunia usaha. “Kami mengadopsi pendekatan yang lebih ramah bisnis, dan boleh saya katakan, lebih cerdas,” ujar Hoekstra.
Perubahan Laju Pengetatan Emisi
Pusat dari usulan ini adalah penyesuaian terhadap Sistem Perdagangan Emisi Uni Eropa atau emissions trading system (ETS). Sistem yang diperkenalkan pada 2005 itu merupakan instrumen utama Uni Eropa dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.
Melalui ETS, industri dan pembangkit listrik diwajibkan memiliki kuota untuk setiap ton karbon dioksida yang mereka lepaskan. Perusahaan dapat membeli izin tambahan atau memperdagangkannya, sehingga emisi memiliki konsekuensi finansial dan mendorong investasi pada teknologi yang lebih bersih.
ETS juga membatasi jumlah izin yang diterbitkan setiap tahun agar total emisi terus menurun. Komisi Eropa kini mengusulkan penurunan batas emisi tahunan yang lebih lambat dibandingkan laju yang berlaku saat ini.
| Periode | Laju Penurunan Batas Emisi | Keterangan |
|---|---|---|
| Saat ini | 4,3% per tahun | Laju penurunan yang berlaku |
| Mulai 2031 | 3,7% per tahun | Usulan Komisi Eropa |
| Mulai 2036 | 1,7% per tahun | Usulan Komisi Eropa |
Perlambatan penurunan ini berarti ruang emisi bagi industri akan menyusut dengan kecepatan yang lebih rendah. Komisi Eropa menyatakan perubahan tersebut tetap dirancang agar sejalan dengan target pengurangan emisi karbon Uni Eropa sebesar 90% pada 2040 dibandingkan tingkat 1990.
Izin Gratis Diperpanjang dengan Syarat Investasi
Bagian lain dari proposal adalah perpanjangan izin gratis hingga 2038. Sebelumnya, izin gratis itu direncanakan berakhir pada 2034 dan digantikan oleh biaya perbatasan karbon atas impor untuk beberapa sektor.
Izin gratis selama ini diberikan kepada sebagian bisnis agar mereka tetap dapat bersaing dengan perusahaan asing yang tidak membayar biaya karbon. Dalam rancangan baru, Komisi Eropa akan menawarkan 80% izin gratis lebih awal kepada perusahaan yang berencana melakukan investasi dekarbonisasi industri di Eropa.
Sisa 20% izin gratis baru akan diberikan setelah investasi tersebut dilaksanakan. Mekanisme itu dimaksudkan untuk mengaitkan kelonggaran aturan dengan komitmen nyata perusahaan dalam mengurangi emisi karbon.
Menurut laporan www.liputan6.com yang mengutip BBC, kebijakan ETS sebelumnya mendapat kritik dari sejumlah negara anggota, terutama Italia. Negara itu menilai skema perdagangan emisi menyerupai pajak de facto yang turut membuat harga energi tetap tinggi secara artifisial.
Dukungan dan Kekhawatiran dari Negara Anggota
Menteri Iklim Polandia Paulina Hennig-Kloska menyambut perubahan arah kebijakan tersebut dan mengatakan negaranya akan berupaya mendorong pelunakan lebih jauh. “Untuk pertama kalinya, kita melihat pelunakan sikap daripada penguatannya, ini adalah keberhasilan besar bagi Polandia. Meskipun kami akan berjuang lebih,” katanya.
Di sisi lain, anggota Parlemen Eropa asal Jerman Michael Bloss memperingatkan bahwa rencana itu dapat memicu polusi iklim dalam jumlah besar. Ia menilai generasi mendatang berisiko memiliki kualitas hidup yang lebih buruk sebagai dampaknya.
Perdebatan tersebut berlangsung ketika Eropa menghadapi pemanasan yang sangat cepat dan makin sering terpapar gelombang panas ekstrem yang lebih kuat. Karena itu, nasib proposal ini akan menentukan keseimbangan antara perlindungan daya saing industri dan ambisi pengurangan emisi karbon Uni Eropa.
Source: www.liputan6.com






