Proyek gas raksasa Blok Masela yang tertunda selama 28 tahun kini memasuki tahap konstruksi. Proyek di Laut Arafura, Maluku, itu ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 setelah groundbreaking dilakukan.
Kepastian pembangunan tersebut menandai perubahan penting bagi Proyek Abadi LNG yang sempat melewati enam periode kepresidenan. Selama hampir tiga dekade, proyek bernilai besar ini tertahan oleh perdebatan mengenai skema pengembangannya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan Blok Masela sudah ada sejak 1998. Menurutnya, proyek itu telah melewati enam presiden hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Blok Masela ini sudah 28 tahun, dari tahun 1998 sudah ada. Itu sudah melewati enam presiden, terakhir Pak Presiden Prabowo,” ujar Bahlil usai membuka Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulsel di Hotel Claro Makassar, Sabtu (18/7).
Hambatan utama proyek selama ini berkaitan dengan perdebatan antara pilihan pembangunan fasilitas di laut atau offshore dan di darat atau onshore. Perbedaan pandangan yang berlangsung panjang membuat investasi dan potensi penerimaan negara dari sektor migas belum dapat berjalan.
Bahlil menilai perdebatan yang terus berlanjut hanya akan menunda manfaat ekonomi dari proyek tersebut. “Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Dampaknya, kita baru akan mendapatkan pendapatan negara ketika proyek ini berjalan,” tegasnya.
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Bahlil menyatakan langkah untuk mengeksekusi proyek akhirnya dilakukan. Ia mengatakan proses penyelesaian persoalan proyek itu dapat diklarifikasi dalam satu tahun hingga groundbreaking terlaksana.
Mediaindonesia.com melaporkan, proyek tersebut dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitranya dengan nilai investasi sekitar 21 miliar dolar AS. Nilai itu termasuk tambahan investasi 1 miliar dolar AS untuk teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS.
Besarnya investasi itu sejalan dengan kapasitas produksi yang diproyeksikan dari blok migas tersebut. Blok Masela direncanakan menghasilkan LNG, gas pipa, serta kondensat setiap hari saat sudah beroperasi.
| Komponen | Rencana Produksi atau Nilai |
|---|---|
| Nilai investasi | 21 miliar dolar AS |
| Tambahan investasi CCS | 1 miliar dolar AS |
| Produksi LNG | 9,5 juta ton per tahun |
| Produksi gas | 150 juta standar kaki kubik per hari |
| Produksi kondensat | 35.000 barel per hari |
Kapasitas LNG yang direncanakan mencapai 9,5 juta ton per tahun. Selain itu, proyek ini diproyeksikan menghasilkan gas sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari atau MMSCFD serta 35.000 barel kondensat per hari.
Groundbreaking menjadi penanda bahwa tahapan pembangunan fisik proyek mulai berjalan. Bahlil memperkirakan seluruh pembangunan dapat selesai pada 2029.
“Dengan groundbreaking itu, maka tahap pembangunan mulai berjalan dan diperkirakan selesai, Insyaallah, tahun 2029,” pungkasnya. Target tersebut menempatkan 2029 sebagai tahun yang dituju untuk dimulainya produksi dari Blok Masela.
Source: mediaindonesia.com






