Vietnam dan Filipina Sejajar Indonesia, Tantangan Berat Justru Baru Dimulai

Vietnam dan Filipina kini masuk kelompok negara berpendapatan menengah ke atas menurut klasifikasi Bank Dunia. Status baru ini menempatkan keduanya sejajar dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand, tetapi juga membuka tantangan yang lebih sulit untuk menjaga laju ekonomi.

Kenaikan kelas pendapatan bukan otomatis jalan mulus menuju negara maju. Saat upah murah tak lagi menjadi keunggulan utama, Vietnam dan Filipina dituntut memperbesar produktivitas, inovasi, serta sektor bernilai tambah tinggi.

Bank Dunia menentukan kelompok pendapatan negara berdasarkan Pendapatan Nasional Bruto atau PNB per kapita pada tahun sebelumnya. Suatu negara digolongkan berpendapatan menengah ke atas jika PNB per kapitanya pada 2025 berada di kisaran 4.636 dollar AS hingga 14.375 dollar AS.

Perubahan posisi ini juga membawa konsekuensi pembiayaan. Kepala Ekonom Union Bank of the Philippine, Ruben Carlo Asuncion, mengatakan kenaikan klasifikasi dapat mengurangi akses pendanaan pembangunan dari lembaga seperti Bank Dunia.

Menurut Asuncion, posisi yang lebih tinggi dalam klasifikasi mencerminkan tuntutan kemandirian yang lebih besar bagi sebuah negara. Hal itu mencakup kemampuan memenuhi kebutuhan pembangunan dan sumber daya, termasuk dari sisi fiskal.

Pertumbuhan Vietnam Lebih Cepat

Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun lalu, tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. Kinerja itu didorong peralihan perdagangan akibat perang dagang AS-China, lonjakan investasi asing langsung, serta kuatnya pasar ekspor Amerika Serikat.

Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan PDB rata-rata 10 persen hingga akhir dekade ini. Hanoi juga memasang ambisi untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2045.

NegaraPertumbuhan Tahun LaluProyeksi Pertumbuhan Tahun Ini
Vietnam8 persen7,4 persen
Filipina4,4 persen5,3 persen
ASEAN4,6 persen
Singapura3,4 persen
Thailand1,7 persen

Proyeksi Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 menunjukkan Vietnam dan Filipina masih berpeluang tumbuh lebih cepat daripada rata-rata ASEAN tahun ini. Lembaga itu memperkirakan pertumbuhan Vietnam 7,4 persen dan Filipina 5,3 persen, saat pertumbuhan kawasan diproyeksikan 4,6 persen.

Vietnam juga melanjutkan agenda reformasi ekonomi dan belanja infrastruktur dalam skala besar. Salah satu proyek yang disiapkan adalah kereta api cepat senilai 67 miliar dollar AS untuk menghubungkan Hanoi dan Kota Ho Chi Minh dengan waktu perjalanan delapan jam.

Pada awal Juli 2026, Vietnam melaporkan pertumbuhan ekonomi 8,4 persen pada kuartal II-2026. Sektor industri dan konstruksi tumbuh 10,5 persen, namun laju tersebut masih perlu dipercepat untuk mengejar target pertumbuhan tahunan pemerintah sebesar 10 persen.

Filipina Hadapi Tekanan Cuaca dan Pertumbuhan

Filipina tumbuh lebih moderat, yakni 4,4 persen pada tahun lalu. Ekonominya menghadapi dampak topan super Ragasa dan El Nino kuat yang disebut menyebabkan kerugian sekitar 24 juta dollar AS di berbagai wilayah negara itu.

Sekretaris perencanaan ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, menyatakan pemerintah tetap mengejar pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan global dan domestik. “Terlepas dari guncangan global dan domestik, kami tanpa henti mengejar pertumbuhan inklusif, memperkuat fundamental, dan tetap berada di jalur yang benar dengan agenda pembangunan kami,” katanya.

Filipina dijadwalkan merilis angka PDB kuartal kedua pada awal Agustus. Namun, ekonom di Universitas Asia dan Pasifik memperkirakan pertumbuhan kuartal sebelumnya hanya 2,6 persen.

Risiko Jebakan Pendapatan Menengah

Profesor Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew Singapura, Khuong Minh Vu, menilai Vietnam dan Filipina baru memasuki fase pembangunan yang paling menantang. Ia menekankan bahwa mempertahankan pertumbuhan cepat akan jauh lebih sulit setelah sebuah negara masuk kelompok pendapatan menengah ke atas.

Menurut Khuong, negara pada tahap ini dapat kehilangan keunggulan tenaga kerja murah tanpa memiliki inovasi domestik yang cukup untuk membangun sektor bernilai tinggi. Kondisi tersebut dikenal sebagai jebakan pendapatan menengah, ketika ekonomi cenderung stagnan setelah melewati periode pertumbuhan cepat.

Indonesia telah berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke atas selama enam tahun, sedangkan Thailand selama 15 tahun dan Malaysia selama 37 tahun. Ketiga negara tersebut umumnya mencatat pertumbuhan jangka panjang di bawah 5 persen sejak bergabung ke kelompok itu.

Khuong menilai jalan Vietnam dan Filipina menuju status berpenghasilan tinggi harus bertumpu pada produktivitas, inovasi, dan penciptaan nilai. Bagi Vietnam, pemanfaatan revolusi AI serta reformasi kelembagaan disebut akan menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan cepat menuju target 2045.

Source: money.kompas.com
Terkait