Pasar keuangan dinilai tidak hanya menunggu kenaikan suku bunga, tetapi juga kepastian kapan siklus pengetatan moneter Bank Indonesia akan berakhir. Tanpa sinyal yang tegas, tekanan terhadap likuiditas perbankan berisiko bertahan lebih lama karena biaya dana terus menyesuaikan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai arahan ekspektasi atau expectation guidance kini sama pentingnya dengan keputusan bunga acuan. Komunikasi yang jelas dapat membantu pasar membentuk pandangan lebih netral terhadap arah kebijakan berikutnya.
Pasar Menunggu Kepastian Arah BI
Fakhrul memandang kenaikan suku bunga pada Juli perlu disertai penjelasan bahwa langkah tersebut merupakan bagian akhir, atau setidaknya mendekati akhir, dari fase pengetatan. Sinyal itu dinilai penting untuk membatasi efek lanjutan kenaikan bunga terhadap suku bunga simpanan dan biaya pendanaan bank.
Ketika pasar belum yakin bahwa pengetatan akan selesai, perbankan cenderung terus menaikkan imbal hasil simpanan untuk menjaga dana masuk. Situasi tersebut dapat memperpanjang ketatnya likuiditas, meski tekanan yang mendasari kebijakan moneter mulai mereda.
“Dengan memberikan arahan bahwa kenaikan Juli merupakan bagian akhir atau mendekati akhir dari siklus pengetatan, ekspektasi pasar akan menjadi lebih netral,” kata Fakhrul. Menurutnya, kondisi itu akan mempercepat terbentuknya pandangan bahwa likuiditas dapat membaik dalam beberapa bulan mendatang.
Dalam analisis yang dikutip www.suara.com, Fakhrul menekankan bahwa ekspektasi pasar berpengaruh besar terhadap penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi, hingga sektor perbankan. Karena itu, komunikasi bank sentral menjadi instrumen penting untuk membuat transmisi kebijakan berlangsung lebih efisien.
Rangkaian Kenaikan BI-Rate
Bank Indonesia telah melanjutkan pengetatan moneter dalam beberapa tahapan setelah bunga acuannya berada di level 4,75 persen sejak September 2025. Langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.
| Waktu | Keputusan | Keterangan |
|---|---|---|
| Mei 2026 | BI-Rate naik 50 bps | Penyesuaian pertama sejak September 2025 |
| 9 Juni 2026 | BI-Rate naik 25 bps | Diputuskan dalam RDG BI Mingguan |
| 18 Juni 2026 | BI-Rate naik 25 bps menjadi 5,75 persen | Diputuskan dalam RDG Bulanan |
| 21-22 Juli 2026 | RDG Bulanan dijadwalkan berlangsung | Pasar menanti arah kebijakan berikutnya |
Sejak kenaikan 25 basis poin pada 9 Juni, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS. Pada Senin, 20 Juli, kurs JISDOR ditutup di level Rp17.976 per dolar AS.
Perbaikan pasar keuangan dalam sepekan terakhir dinilai menjadi perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk meniadakan kebutuhan penyesuaian lanjutan. Fakhrul memperkirakan Bank Indonesia masih perlu menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin dalam RDG Juli untuk menjaga konsistensi pendekatan yang bersifat pre-emptive.
Modal Asing dan Kredibilitas Kebijakan
Menurut Fakhrul, Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir tahun. Dana tersebut diperlukan untuk membantu menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Sentimen investor turut ditopang keputusan S&P yang mempertahankan peringkat utang negara Indonesia pada level layak investasi BBB dengan outlook stabil. Meski demikian, stabilisasi jangka pendek tidak otomatis berarti seluruh risiko eksternal telah berakhir.
Fakhrul menilai daya tarik aset keuangan domestik perlu terus dijaga melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel. Implementasi yang sejalan dengan komunikasi sebelumnya menjadi faktor penting agar kepercayaan investor tidak melemah.
Keberhasilan Bank Indonesia ke depan, menurutnya, bukan hanya terkait kemampuan menjaga rupiah. Tantangan berikutnya adalah mengarahkan transisi menuju normalisasi likuiditas secara terukur tanpa menimbulkan tekanan berkepanjangan pada sektor keuangan dan momentum pemulihan ekonomi.
