Sudaryono Pimpin BGN, MBG Disebut Buka Pasar Besar bagi Petani dan Nelayan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya menyasar perbaikan gizi masyarakat, tetapi juga dapat membuka pasar konsumsi pangan dalam skala besar. Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Sudaryono, menegaskan dampak program itu harus dirasakan oleh petani, peternak, hingga nelayan.

Sudaryono melihat kebutuhan pangan MBG sebagai peluang untuk memperkuat rantai pasok dalam negeri. Permintaan yang besar diharapkan memberi kepastian penyerapan hasil produksi, terutama bagi pelaku sektor pertanian dan peternakan.

MBG Dipandang sebagai Pasar Baru

Mantan Wakil Menteri Pertanian itu menyebut MBG sebagai emerging market dengan besaran konsumsi yang signifikan. Menurutnya, karakter program tersebut membuat pemerintah perlu memastikan kesiapan produksi pangan nasional sejak awal.

“Program MBG ini seperti Pac-Man, dia emerging market. Dia punya besaran konsumsi yang cukup besar,” kata Sudaryono, seperti dikutip dari Infopublik.

Ia menilai sektor pertanian memiliki kepentingan langsung dalam keberlangsungan MBG karena menjadi pemasok berbagai kebutuhan pangan. Ketersediaan bahan pangan, kelancaran rantai pasok, dan dampak harga menjadi hal yang perlu dijaga bersama.

Sudaryono secara khusus menyoroti komoditas telur dan ayam yang memiliki kaitan dengan kebutuhan program. Pemerintah, kata dia, perlu mengantisipasi dampak MBG terhadap produksi maupun harga kedua komoditas tersebut.

Antisipasi Kekurangan Telur dan Ayam

Kebutuhan telur dan ayam, terutama di luar Jawa, disebut menjadi salah satu perhatian dalam persiapan pasokan pangan. Sudaryono mengatakan pemerintah merespons potensi defisit melalui rencana investasi Danantara.

Rencana tersebut juga melibatkan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Langkah itu diarahkan untuk mendukung kesiapan pasokan protein hewani bagi kebutuhan MBG.

“Salah satunya bagaimana defisit telur dan ayam, terutama di daerah luar Jawa, direspons dengan rencana investasi Danantara yang juga melibatkan Kementerian Pertanian,” ujar Sudaryono.

Menurut Sudaryono, meningkatnya permintaan dari MBG dapat mengubah kondisi pemasaran hasil produksi petani dan peternak. Saat pasar tersedia, hasil pangan memiliki peluang lebih besar untuk terserap.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah peristiwa pada beberapa tahun lalu ketika sebagian produksi tidak terserap secara optimal. Sudaryono menyinggung kejadian susu dan wortel yang sempat dibuang karena persoalan penyerapan.

“Kementan dan petani ini orang yang happy, karena dulu kita sering lihat ada mandi susu, ada orang buang-buang wortel. Saat ini alhamdulillah itu tidak terjadi,” katanya.

Sudaryono Siap Jalankan Amanah di BGN

Sudaryono dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional menggantikan Nanik S Deyang. Ia menyatakan siap menjalankan amanah Presiden Prabowo Subianto dalam mengawal program yang menjadi prioritas pemerintah tersebut.

Menurut laporan Medcom.id, Sudaryono mengatakan MBG telah dibahas jauh sebelum masa kampanye dan kemudian dijalankan setelah Prabowo dilantik sebagai presiden. Karena itu, ia menyatakan memahami latar belakang serta arah pelaksanaan program tersebut.

“Program MBG ini adalah program prioritas Presiden yang dibahas jauh sebelum kampanye, kemudian menjadi materi kampanye, dan setelah beliau dilantik menjadi Presiden langsung dilaksanakan,” ungkapnya.

Penugasan di BGN membuat Sudaryono berada pada posisi penting untuk menghubungkan kebutuhan gizi masyarakat dengan kesiapan produksi pangan. Keterlibatan sektor pertanian dinilai menentukan agar kebutuhan program dapat dipenuhi dari rantai pasok dalam negeri.

Pemerintah juga akan terus mengevaluasi pelaksanaan MBG dan menangani persoalan yang muncul di lapangan. Sudaryono menegaskan fokusnya ialah mencari solusi agar manfaat program dapat menjangkau masyarakat sekaligus memberi dampak positif bagi pertanian nasional.

“Kalau memang ada satu-dua permasalahan, kita bereskan,” kata Sudaryono. Ia menambahkan bahwa tugas pemerintah adalah menyelesaikan persoalan dengan solusi yang berdampak baik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Source: www.medcom.id
Terkait