Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menekankan pentingnya inovasi dan tata kelola keuangan yang kuat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan setoran dividen ke negara. Pernyataan ini mencuat seiring dengan capaian PT PLN (Persero) yang berhasil menyetorkan dividen sebesar Rp 65 triliun, angka yang menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam pengelolaan keuangan dan inovasi perusahaan.
Menurut Anggawira, setoran dividen yang meningkat sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya adalah hasil dari transformasi bisnis yang dilakukan PLN sejak tahun 2020. “Berbagai inovasi dan perbaikan tata kelola keuangan telah memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi perusahaan,” ujarnya, menunjukkan keyakinan bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan semata.
Capaian PLN yang membukukan pendapatan sebesar Rp 545 triliun dan laba bersih hampir Rp 18 triliun mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah tantangan sektor energi. Anggawira menambahkan, menjalankan bisnis ketenagalistrikan saat ini bukanlah perkara mudah. Berbagai faktor, seperti fluktuasi harga energi primer dan tuntutan elektrifikasi sektor industri, memberikan tekanan yang cukup berat.
Pencapaian sepanjang tahun 2024, yang disebut Anggawira sebagai bukti nyata kontribusi BUMN dalam mendukung ketahanan fiskal dan pembangunan nasional, memang layak diapresiasi. Setoran dividen yang mencapai lebih dari Rp 65 triliun tidak hanya menunjukkan keberhasilan PLN tetapi juga peran strategisnya dalam menopang fiskal negara. “Setoran ke negara tersebut mencerminkan peran strategis PLN sebagai BUMN yang mampu menopang fiskal negara,” tambahnya.
Malahan, selama tahun 2024, PLN tercatat berhasil menjual tenaga listrik sebesar 306,22 terawatt hour (TWh), yang meningkat 6,17 persen dibandingkan realisasi tahun 2023. Capaian ini juga terbilang memuaskan karena mencapai 102,08 persen dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 299,99 TWh. Penjualan listrik ini menjadi penopang utama pendapatan perseroan senilai Rp 353,17 triliun, naik dari Rp 333,19 triliun tahun sebelumnya.
Sektor rumah tangga menyumbang kontribusi terbesar pada penjualan listrik dengan porsi 43 persen, diikuti sektor industri 30 persen, bisnis 19 persen, dan sektor lainnya 8 persen. Peningkatan ini tercapai berkat upaya penambahan aset serta konsolidasi seluruh proses bisnis PLN yang berfokus pada modernisasi dan inovasi. Jumlah pelanggan PLN pun bertumbuh sebesar 5,88 persen, yang setara dengan 3,72 juta pelanggan baru.
Dari perspektif sosial, PLN juga memperluas jangkauan layanannya melalui program listrik desa (Lisdes). Program ini, sesuai arahan pemerintah, bertujuan mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan di daerah yang tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hasilnya, rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,83 persen, yang pada gilirannya membantu meningkatkan penjualan listrik bagi pelanggan rumah tangga.
Dalam konteks industri, PLN turut mendukung program hilirisasi nasional, yang tercermin dari penjualan tenaga listrik yang meningkat sebesar 92,28 TWh atau tumbuh 4,17 persen dibandingkan tahun lalu. Program hilirisasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan industri pengolahan dan manufaktur, termasuk dalam aspek smelter dan industri berbasis mineral strategis, yang langsung berdampak pada peningkatan konsumsi listrik.
Dengan pencapaian yang konsisten, PLN menunjukkan bahwa inovasi dan tata kelola keuangan yang baik di BUMN tidak hanya berdampak pada kinerja perusahaan tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan setoran kepada negara. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi BUMN lainnya untuk menerapkan praktik terbaik dalam governance dan inovasi demi kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan nasional.
