Lonjakan harga minyak dunia diperkirakan bisa berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun dalam acara diskusi yang bertema "Timur Tengah Membara, Susun Ulang Strategi Ekonomi Indonesia." Dia menekankan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Israel, berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang bisa mempengaruhi kestabilan harga BBM di dalam negeri.
Menurut Misbakhun, saat ini harga minyak dunia masih relatif berada di bawah ambang batas yang dianggap aman, yaitu sekitar US$ 82 per barel. Dengan kondisi seperti ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mampu menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi. Namun, dia mengingatkan bahwa jika harga minyak dunia melonjak lebih tinggi, akan ada konsekuensi terhadap harga BBM yang dibayar oleh konsumen.
"Semua pasti berpotensi (harga BBM naik). Kita lihat apakah harga itu naik begitu tinggi. Jika terlalu tinggi dan tidak bisa diserap subsidi energi, maka sebagian bisa ditanggung negara, dan sebagian lainnya akan berdampak pada kenaikan harga BBM," ungkap Misbakhun.
Komisi XI DPR berencana untuk segera membahas implikasi dari situasi global terkini terhadap APBN 2025 bersama kementerian terkait. Ini termasuk rapat dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bappenas. Rapat-rapat tersebut diharapkan dapat membahas langkah mitigatif yang bisa diambil untuk menghadapi gejolak global, khususnya terkait potensi inflasi domestik akibat gangguan rantai pasokan.
Tak hanya itu, Misbakhun juga menjelaskan bahwa konflik geopolitik bisa membuka peluang ekonomi bagi Indonesia. Dia menyebutkan adanya potensi "windfall" dari kenaikan harga minyak, meskipun Indonesia merupakan net importir minyak. "Seluruh produksi minyak nasional diekspor dan jenis minyak kita punya harga premium, biasanya beberapa dolar di atas harga pasar global," jelasnya.
Dampak Kenaikan Harga di Sektor Komoditas
Lonjakan harga minyak seringkali diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain. Misbakhun mencatat bahwa komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara biasanya juga mengalami kenaikan harga. Hal ini memang dapat meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan dan ekspor.
"Kalau harga minyak naik, biasanya komoditas unggulan kita, seperti CPO dan batubara ikut terdongkrak. Ini bisa menambah pendapatan negara. Pemerintah harus melihat ini dengan jeli," tambahnya.
Kesiapsiagaan Pemerintah
Dengan semakin meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, penting bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Kesiapan ini tak hanya berfokus pada pengendalian harga BBM, tetapi juga pada stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Pemerintah diharapkan untuk mempunyai strategi yang jelas dalam menghadapi turbulensi ini, baik dari segi fiskal maupun kebijakan energi. Hal ini menjadi sangat vital mengingat potensi dampak yang bisa terjadi akibat lonjakan harga minyak dunia.
Kesimpulan
Situasi di tingkat global, khususnya yang berkaitan dengan harga minyak, menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan DPR. Meskipun saat ini harga minyak masih dalam batas aman, kelanjutan ketegangan geopolitik berpotensi mengubah segala sesuatunya. Dengan kesiapsiagaan yang baik, pemerintah diharapkan dapat mengelola risiko yang ada, sekaligus memanfaatkan peluang yang juga mungkin muncul seiring dengan dinamika harga komoditas global.







