Pelaku Usaha Heran: Apa Penyebab Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen?

Pelaku usaha di Indonesia belakangan ini mengekspresikan kebingungan menyusul pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,12 persen pada kuartal kedua tahun 2025. Angka tersebut muncul di tengah penurunan daya beli masyarakat yang mulai terasa, terutama di sektor ritel dan konsumer. Ini menimbulkan tanda tanya besar bagi banyak pihak, mengingat proyeksi sebelumnya menyebutkan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 4,69%-4,81 persen.

Ajib Hamdani, Analis Kebijakan Ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menyebutkan bahwa data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur menunjukkan kontraksi yang signifikan. PMI untuk bulan April mencatat angka terendah dalam empat tahun terakhir, yaitu 46,7. Meskipun ada peningkatan di bulan Mei menjadi 47,4, angka tersebut kembali menurun ke 46,9 pada bulan Juni. Fenomena ini, diistilahkan sebagai “rombongan jarang beli” dan “rombongan hanya nanya-nanya”, menunjukkan bahwa masalah daya beli masyarakat benar-benar nyata.

Daya beli yang menurun ini harusnya menjadi perhatian utama, karena konsumsi adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi. Namun, meski pertumbuhan ekonomi terkesan paradox, Ajib tetap optimis bahwa kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dapat menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. “Pemerintah harus terus menggandeng dunia usaha untuk mendorong pertumbuhan yang lebih sustain dan eskalatif,” ujarnya.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa fenomena yang dihadapi masyarakat tidak menggambarkan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Ia menunjukkan bahwa sektor ritel dan marketplace tumbuh cukup signifikan, dengan angka pertumbuhan 7,55 persen secara kuartalan. Airlangga menyebutkan bahwa ada pergeseran dalam konsumsi masyarakat ke belanja online, dimana kategori produk personal care dan kosmetik mencatatkan pertumbuhan mendekati 17 persen. Sektor rumah tangga dan keperluan kantor juga menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih baik.

Data ini mencerminkan bahwa meski di permukaan banyak berita tentang penurunan daya beli, ada juga segmen-segmen tertentu dalam perekonomian yang tetap menarik perhatian dan menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Misalnya, kinerja sektor ritel yang mencakup fabrikan, minimarket, dan outlet di mall tumbuh dengan baik, masing-masing mencatatkan pertumbuhan 4,99 persen, 6,85 persen, dan 12,87 persen pada semester pertama tahun ini.

Di saat yang sama, Airlangga menyoroti angka inflasi inti yang stabil di 2,32 persen. Ini menunjukkan bahwa meski ada ketidakpastian global, masyarakat masih mampu melakukan konsumsi dengan kuat. Namun, ia juga menegaskan bahwa isu daya beli yang lemah bisa jadi overstated dan perlu dilihat dari perspektif yang lebih komprehensif.

Melihat potret yang terjadi, para pelaku usaha masih optimistis tentang prospek perekonomian Indonesia. Arah kebijakan pemerintah yang kolaboratif dengan dunia usaha diharapkan bisa memberikan dorongan bagi pertumbuhan yang lebih lanjut. Misalnya, jika pemerintah fokus pada inovasi dan digitalisasi, hal ini bisa menarik lebih banyak konsumen dan mendongkrak daya beli.

Dengan semua informasi yang ada, tantangan di depan tetap besar. Menciptakan pemulihan yang berkelanjutan dan meningkatkan daya beli masyarakat adalah dua hal yang harus diperhatikan. Ada harapan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa continu dan tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi juga terefleksikan dalam kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Terlebih dengan adanya ketidakpastian global yang dapat mempengaruhi dinamika ekonomi di dalam negeri.

Para pelaku usaha dan pemangku kebijakan harus terus mencari jalan keluar untuk mendukung kebangkitan ekonomi, tanpa mengabaikan tantangan yang ada di lapangan. Masyarakat, di sisi lain, juga perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumsi, termasuk pergeseran ke platform digital yang semakin berkembang.

Terkait