Global Landscapes Forum (GLF), platform pengetahuan terbesar dunia yang fokus pada tata guna lahan terpadu, kini dipimpin oleh seorang putra Indonesia, Kamal Prawiranegara. Kamal resmi menjabat sebagai direktur GLF yang berpusat di Bonn, Jerman, sejak September 2025, dengan tanggung jawab mengelola forum global yang menghubungkan lebih dari 4 miliar orang di 175 negara. GLF bertujuan menciptakan bentang alam yang produktif, menguntungkan, adil, sekaligus tangguh dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Kamal Prawiranegara, yang berusia 44 tahun ini, membawa pengalaman lebih dari 20 tahun dalam kerja sama multilateral dan sebelumnya menjabat sebagai wakil direktur GLF. Ia menjadi direktur pertama dari Indonesia yang memimpin GLF, menandai tonggak penting bagi peran Indonesia dalam upaya global menghadapi krisis lingkungan dan sosial yang saling berkaitan. Dalam pernyataannya pada Selasa (16/9/2025), Kamal menegaskan bahwa GLF akan memperkuat komunitas global yang bekerja dari akar rumput, bukan secara top-down.
Kamal menyatakan, “Ini adalah momen keberlanjutan sekaligus pertumbuhan bagi Global Landscapes Forum. Kami terus memperluas solusi lokal dan menghubungkan aksi lintas wilayah dan realitas.” Ia melihat kolaborasi lintas sektor serta sinergi antara ilmuwan, pemimpin adat, pelaku restorasi, pembuat kebijakan, pendana, dan penggerak perubahan sebagai kunci transformasi bentang alam yang berkelanjutan dan lebih adil.
GLF menggabungkan ilmu pengetahuan mutakhir dan kearifan lokal, dengan fokus pada penciptaan bentang alam yang mampu memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan atau memperburuk ketidakadilan sosial. Kamal menyoroti pentingnya keberpihakan pada komunitas lokal sebagai pahlawan yang menjaga bentang alam mereka. Contohnya, ia menyebut pemimpin adat di Kalimantan, ilmuwan muda Argentina, hingga pelaku restorasi di Kamerun sebagai figur yang memberikan solusi efektif bagi krisis iklim dan pembangunan.
John Colmey, mantan direktur sekaligus salah satu pendiri GLF yang kini menjadi penasihat strategis senior dan direktur senior di CIFOR-ICRAF, mengapresiasi penunjukan Kamal. Ia menuturkan, “Krisis yang saling berkaitan saat ini, seperti konflik, ketidakstabilan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, dan kesenjangan sosial, menuntut respons yang lebih besar.” Menurut John, Kamal memiliki kualifikasi dan keahlian yang sangat tepat untuk membawa GLF menghadapi tantangan besar dalam dekade mendatang.
CIFOR-ICRAF (Center for International Forestry Research and World Agroforestry), organisasi yang mendukung GLF, menjadi basis pengetahuan utama bagi forum ini. Kamal akan memanfaatkan dukungan serta energi dari 35 anggota resmi (Charter Members) GLF untuk terus mengembangkan jaringan global. GLF berupaya menjembatani berbagai pengetahuan dan pengalaman dari berbagai belahan dunia demi menghasilkan dampak nyata dalam merespons krisis iklim dan sosial.
Ke depan, GLF di bawah kepemimpinan Kamal fokus pada tiga pilar utama:
1. Penguatan komunitas akar rumput sebagai penggerak perubahan.
2. Penyebaran dan pertukaran pengetahuan antara ilmuwan dan praktisi.
3. Kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah untuk solusi bentang alam.
Dengan peran global yang semakin krusial, posisi Kamal Prawiranegara membawa harapan baru dalam mendukung agenda keberlanjutan dunia. Pengalaman luasnya dalam diplomasi dan kolaborasi internasional diharapkan dapat memperluas jangkauan dan dampak GLF bagi dunia. Indonesia juga semakin menunjukkan peran strategisnya dalam mengelola bentang alam dan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kepemimpinan Kamal menjadi bukti nyata kontribusi putra Indonesia dalam percaturan global yang bersinergi untuk mewujudkan bentang alam yang produktif, adil, dan tahan terhadap tantangan masa depan. Hal ini sangat penting mengingat bentang alam adalah kunci dari pemulihan ekosistem sekaligus penanggulangan perubahan iklim. Upaya GLF tak hanya sekadar pertukaran informasi, tetapi juga penguatan aksi nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dunia.
