Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa menarik perhatian pelaku pasar modal Indonesia. Kebijakan fiskal yang akan dijalankan oleh Menteri Keuangan baru ini diprediksi membawa perubahan signifikan, menimbulkan kekhawatiran sekaligus optimisme di kalangan investor dan pengamat ekonomi.
Kebijakan Fiskal yang Lebih Ekspansif
Menurut Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, pasar sedang mengamati pergeseran kebijakan fiskal dari era Sri Mulyani yang mengedepankan disiplin fiskal dan transparansi anggaran, menuju kebijakan yang lebih ekspansif. Sebagaimana disampaikan Rully dalam acara Media Day Mirae Asset pada 23 September 2025, menteri keuangan baru mendapat mandat dari Presiden untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8 persen.
Perubahan ini menandai pergeseran fokus dari konsolidasi fiskal kepada mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan peran pemerintah dan swasta. Kebijakan fiskal ekspansif ini tercermin dari peningkatan belanja pemerintah serta dukungan terhadap program prioritas, seperti penyaluran dana kredit sebesar Rp 200 triliun ke bank-bank BUMN. Langkah ini diharapkan dapat menggenjot investasi serta konsumsi yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Dinamika Pasar Modal dan Volatilitas Jangka Pendek
Meskipun latar belakang Purbaya sebagai ekonom dan mantan pejabat BUMN memberikan keyakinan atas kapasitasnya, pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai komitmen atas disiplin fiskal dan transparansi anggaran. Ketidakpastian ini berpotensi menimbulkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Rully menjelaskan, pasar modal saat ini masih menahan pergerakan indeks saham dan mencatat peningkatan volatilitas di pasar obligasi karena belum ada kepastian tentang bagaimana kebijakan ekspansif ini akan menjaga keberlanjutan fiskal. Kondisi tersebut berimplikasi pada potensi pelemahan pasar saham dalam waktu dekat, tetapi menjanjikan peluang beli di kala koreksi harga (buy on weakness) untuk saham-saham unggulan selama periode konsolidasi.
Saran Investasi di Tengah Konsolidasi Pasar
Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, Rully merekomendasikan beberapa sektor dan saham yang dinilai menarik untuk dikoleksi investor. Sektor perbankan di pusat perhatian setelah adanya alokasi dana Rp 200 triliun untuk kredit di bank-bank BUMN. Namun, ia mengingatkan pentingnya mengawasi kualitas kredit agar tidak terjadi kenaikan signifikan pada non-performing loan (NPL).
Selain itu, saham pilihan lain yang berpeluang menguntungkan selama masa konsolidasi pasar meliputi sektor telekomunikasi dan konsumer, antara lain TLKM, TOWR, MTEL, JPFA, KLBF, dan BRPT. Saham-saham ini dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek pemulihan yang baik seiring kebijakan fiskal yang lebih pro-growth dijalankan.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Ke depan, tantangan utama yang dihadapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa adalah menyeimbangkan kebijakan fiskal yang ekspansif tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi dan keberlanjutan anggaran negara. Pengelolaan transparan dan tepat sasaran atas belanja pemerintah menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dengan penyesuaian kebijakan yang tepat dan pengawasan ketat, dana kredit yang disalurkan ke bank BUMN diharapkan mampu memacu investasi dan konsumsi, sehingga target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai. Di sisi lain, pelaku pasar dan investor terus memantau dengan seksama bagaimana implementasi kebijakan ini akan berjalan dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan nasional.
Dalam situasi yang penuh dinamika tersebut, respons pasar modal yang cermat dan strategi investasi yang adaptif menjadi penting untuk mengantisipasi volatilitas jangka pendek sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka menengah ke depan.







