Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam upaya tersebut, BI mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter secara agresif di pasar domestik maupun internasional. Selain itu, BI mengimbau para investor untuk turut berperan menjaga kestabilan pasar keuangan demi menciptakan iklim yang kondusif.
Rupiah Tertekan dan Proyeksi Pergerakan
Rupiah kembali mengalami pelemahan pada pekan akhir September 2025. Pada perdagangan Rabu (23/9/2025), nilai tukar rupiah melemah 0,39% atau sekitar 64,50 poin ke level Rp16.749 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sedikit menguat 0,01% menuju angka 97,88. Kondisi ini diprediksi akan berlanjut dengan rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah ke kisaran Rp16.740 hingga Rp16.810 dalam perdagangan Jumat (26/9/2025).
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan baik dari sisi global maupun domestik. Namun, apabila dilihat dalam skala bulan, rupiah pada September 2025 justru mengalami penguatan tipis sebesar 0,30% dibandingkan Agustus 2025. “Depresiasi terjadi dalam beberapa hari terakhir, meskipun secara keseluruhan rupiah menguat dari bulan lalu,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI.
Optimalisasi Instrumen Kebijakan
Untuk merespons dinamika tersebut, BI telah mengambil langkah-langkah strategis dengan memanfaatkan seluruh instrumen yang tersedia, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Perry menjelaskan, BI secara aktif menggunakan instrumen spot, kontrak DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga menjalankan intervensi secara berkelanjutan di pasar internasional melalui transaksi NDF (Non-Deliverable Forward) di wilayah Asia, Eropa, dan Amerika. “Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, melalui intervensi di berbagai pasar, untuk menstabilkan nilai tukar sesuai fundamentalnya,” katanya.
Peran Investor dalam Menjaga Stabilitas
Gubernur BI juga mengajak seluruh pelaku pasar, khususnya investor, untuk bersama-sama menjaga iklim pasar yang sehat dan stabil. Hal ini dianggap sangat penting agar volatilitas nilai tukar tidak semakin menyulitkan proses pemulihan ekonomi nasional.
BI menilai peran investor strategis dalam menciptakan stabilitas nilai tukar. Oleh karenanya, komunikasi yang baik serta koordinasi dengan pasar keuangan terus diperkuat oleh bank sentral. BI berharap agar para pelaku pasar tidak melakukan aksi spekulatif yang dapat memperburuk kondisi nilai tukar rupiah.
Sejarah Tekanan Rupiah dan Komitmen BI
Tekanan pada rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun ini, ketika kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat yang diberlakukan Presiden Donald Trump sempat membuat rupiah terdepresiasi hingga menembus Rp17.000 per dolar AS. Intervensi BI berhasil menguatkan kembali rupiah ke level sekitar Rp16.300 per dolar AS pada beberapa bulan berikutnya.
Namun, memasuki September 2025, nilai tukar rupiah kembali mengalami fluktuasi melemah hingga menyentuh kisaran Rp16.500. Meski demikian, BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar, berusaha agar tren rupiah bergerak stabil hingga menguat seiring dengan peningkatan imbal hasil instrumen keuangan dan prospek ekonomi nasional.
“Tren nilai tukar bergerak stabil dan ada kecenderungan menguat sejalan dengan komitmen BI menjaga stabilitas dan prospek ekonomi yang cukup membaik,” ujar Perry.
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Dengan merujuk pada kondisi ekonomi dan dinamika pasar keuangan saat ini, BI terus mengoptimalkan kebijakan moneter dan intervensi pasar sebagai upaya menangkal tekanan eksternal maupun internal. Otoritas moneter juga menekankan pentingnya sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kepercayaan pasar.
Bank Indonesia telah menunjukkan kesiapan dengan penggunaan berbagai instrumen yang fleksibel dan responsif, termasuk pengelolaan likuiditas dan penguatan pasar valas. BI juga memonitor risiko-risiko yang muncul dari ketidakpastian global, seperti gejolak ekonomi dunia dan kebijakan moneter negara maju.
Dengan langkah koordinasi yang matang dan keterlibatan aktif investor, diharapkan volatilitas rupiah dapat diminimalisasi dan stabilitas pasar keuangan terjaga. Langkah tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
