BP-AKR dan Vivo Tolak Base Fuel Pertamina, Klaim Tak Sesuai Spesifikasi

Dua perusahaan penyedia bahan bakar swasta, BP-AKR dan Vivo Energy Indonesia (Vivo), menolak membeli bahan bakar dasar (base fuel) dari PT Pertamina Patra Niaga karena produk yang disediakan belum memenuhi spesifikasi yang mereka tetapkan. Penolakan ini menimbulkan tekanan tambahan pada pasokan bahan bakar minyak (BBM) di beberapa wilayah, mengingat keterbatasan stok yang sudah terjadi.

Spesifikasi Base Fuel Belum Sesuai

Presiden Direktur BP-AKR, Vanda Laura, mengungkapkan bahwa pihaknya mensyaratkan base fuel yang dibeli harus dalam kondisi murni, yakni belum dicampur dengan etanol atau aditif lain. Hal ini penting agar BP-AKR dapat mengolah bahan baku tersebut menjadi BBM yang sesuai dengan standar mereka. Namun, impor base fuel yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga ternyata sudah mengandung etanol, sehingga tidak sesuai dengan ketentuan teknis BP-AKR.

"Kami minta sesuai dengan persyaratan yang sudah kami sampaikan ke Pertamina Patra Niaga, yaitu bahan bakar ini belum dicampur etanol," jelas Vanda saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (1/10).

Aspek Kepatuhan dan Dokumen Pendukung

Selain persoalan kandungan etanol, BP-AKR juga menekankan aspek kepatuhan dan administrasi dalam pembelian base fuel. Salah satunya adalah keharusan untuk mendapatkan dokumen certificate of origin sebagai bukti asal produk. Dokumen ini krusial karena salah satu pemegang saham BP-AKR memiliki bisnis di lebih dari 70 negara, sehingga BP-AKR perlu memastikan bahwa produk yang dibeli tidak berasal dari negara-negara yang dikenai embargo internasional. Hal ini bertujuan menghindari risiko sanksi perdagangan (trade sanction) yang dapat merugikan perusahaan.

“Yang belum disepakati juga karena tambahan dokumen itu belum tersedia,” imbuh Vanda.

Kondisi Pasokan BBM di SPBU BP-AKR

Vanda juga menyampaikan kondisi ketersediaan BBM di jaringan SPBU BP-AKR saat ini sangat terbatas. Hanya tersisa 1-2 SPBU yang masih menjual gasoil atau bensin, dan diperkirakan stok tersebut hanya cukup sampai akhir Oktober 2024. Situasi ini dapat berdampak pada kelancaran distribusi dan pelayanan kepada konsumen.

Vivo Batalkan Negosiasi Karena Persyaratan Teknis Tidak Terpenuhi

Perwakilan Vivo Energy Indonesia dalam rapat yang sama juga menjelaskan bahwa perusahaan mereka telah melakukan berbagai tahap negosiasi dengan Pertamina untuk membeli base fuel sebagai upaya mengatasi kelangkaan stok BBM. Namun, kesepakatan gagal tercapai karena beberapa permintaan teknis terkait kualitas dan kandungan base fuel tidak dapat dipenuhi oleh Pertamina.

"Sehingga, proses pembelian tersebut terpaksa dibatalkan," ujar perwakilan Vivo.

Hal ini mempertegas adanya ketidaksesuaian kualitas base fuel yang disediakan oleh Pertamina dengan standar yang dibutuhkan oleh para pelanggan korporasi.

Dampak terhadap Pasokan dan Ketersediaan BBM

Penolakan dua perusahaan besar ini terhadap base fuel dari Pertamina Patra Niaga menimbulkan tantangan lanjutan dalam rantai pasok BBM nasional. Apabila kondisi ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan memperparah kelangkaan BBM di sejumlah wilayah. Pemerintah dan Pertamina diharapkan dapat mengambil langkah cepat dan transparan untuk menyelaraskan spesifikasi produk agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan korporasi sekaligus menjaga ketersediaan BBM di pasaran.

Informasi lebih lanjut terkait permasalahan teknis dan administratif ini memerlukan perhatian khusus mengingat peran strategis BBM bagi mobilitas dan aktivitas perekonomian di Tanah Air. Kedua perusahaan tersebut memperlihatkan kebutuhan yang sangat spesifik dalam hal mutu dan dokumentasi, sehingga penyediaan base fuel harus dilakukan dengan standar ketat agar semua pihak di dalam rantai pasok dapat berjalan lancar tanpa hambatan.

Source: mediaindonesia.com

Terkait