Buah kelengkeng sering kali menghadapi masalah rontok sebelum masa panen tiba. Kondisi ini membuat petani dan pekebun merasa kecewa karena usaha perawatan selama ini tidak membuahkan hasil maksimal. Rontoknya buah kelengkeng dapat terjadi akibat faktor internal tanaman dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung.
Untuk menghindari kerugian tersebut, perlu dilakukan serangkaian upaya pengelolaan tanaman yang tepat. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah buah kelengkeng agar tidak rontok dan memastikan panen yang berhasil.
1. Pilih Bibit Kelengkeng Berkualitas
Kualitas bibit sangat berpengaruh pada kemampuan tanaman dalam mempertahankan buah. Bibit yang ideal memiliki tinggi 50–80 cm, batang lurus dengan diameter minimal 1 cm, dan daun hijau tua yang tidak menggulung. Bibit dari okulasi atau cangkok umumnya lebih cepat berbuah dan cenderung stabil dibandingkan bibit dari biji.
Pastikan bibit bebas dari penyakit dan kerusakan daun saat akan ditanam. Bibit unggul lebih adaptif terhadap perubahan cuaca dan nutrisi sehingga risiko buah rontok dapat diminimalisasi.
2. Tanam Pada Musim yang Sesuai
Kelompok tanaman kelengkeng tumbuh optimal di suhu antara 27 hingga 32 derajat Celsius. Intensitas sinar matahari harus mencapai minimal 6–8 jam setiap hari. Kondisi ini biasanya ada pada musim kemarau atau musim peralihan menuju kemarau.
Penanaman yang dilakukan saat musim hujan dengan curah hujan tinggi dan kelembapan udara di atas 80 persen berisiko membuat bunga mudah rontok. Untuk itu, tanam atau rangsang pembungaan pada akhir musim hujan hingga awal musim kemarau agar penyerbukan efektif dan jamur tidak mudah menyerang.
3. Kendalikan Serangan Hama dengan Tepat
Hama seperti kutu daun, ulat bunga, dan lalat buah sering menyerang saat kelengkeng mulai berbunga hingga buah muda. Serangan hama menyebabkan aliran nutrisi ke buah terganggu, sehingga buah menjadi mudah gugur.
Lakukan penyemprotan pestisida nabati secara rutin setiap 7–10 hari, terutama saat ada bunga. Bila diperlukan, gunakan insektisida dosis ringan sesuai petunjuk kemasan. Pemangkasan cabang yang terlalu rimbun juga meningkatkan sirkulasi udara dan mengurangi tempat berkembangnya hama.
4. Penuhi Nutrisi Tanaman Secara Optimal
Saat kelengkeng memasuki fase berbunga dan pembentukan buah, kebutuhan nutrisi meningkat tajam. Ketersediaan unsur kalium, fosfor, dan kalsium sangat penting untuk mencegah kerontokan buah. Kalium memperkuat tangkai buah, sementara kalsium menjaga kekuatan jaringan tanaman.
Berikan pupuk NPK dengan komposisi 10-30-20 atau 12-24-12 sebanyak 200–300 gram per pohon dewasa setiap 1–1,5 bulan. Setelah buah mulai terbentuk, tingkatkan dosis kalium menjadi sekitar 250 gram per pohon. Tambahan pupuk mikro seperti boron dan magnesium dapat disemprotkan melalui daun setiap 10–14 hari agar penyerapannya lebih cepat.
5. Atur Penyiraman Sesuai Kebutuhan
Kelengkeng membutuhkan tanah yang lembap dengan kandungan air 60–70 persen agar fisiologinya stabil. Hindari penyiraman berlebihan yang membuat tanah tergenang lebih dari 24 jam karena dapat merusak akar.
Selain itu, kekeringan lebih dari 3–5 hari saat pembungaan juga memicu rontoknya buah. Penyiraman sebaiknya dilakukan 2–3 kali seminggu pada musim kemarau. Pastikan air meresap hingga kedalaman 30–40 cm agar akar menerima air cukup, tanpa menimbulkan genangan.
6. Lakukan Penjarangan Buah secara Bertahap
Jika buah tumbuh terlalu banyak dalam satu dompol, risiko rontok massal semakin tinggi. Tanaman memiliki keterbatasan nutrisi untuk menopang banyak buah sekaligus sehingga akan menggugurkan sebagian buah secara alami.
Penjarangan disarankan ketika buah berdiameter 0,5–1 cm atau 2–3 minggu pasca bunga mekar. Sisakan 15–25 buah per dompol pada tanaman dewasa, dan 10–15 buah untuk tanaman muda. Penjarangan membantu distribusi nutrisi lebih merata, membuat buah lebih besar dan tangkainya kuat.
7. Kurangi Stres Lingkungan dan Jaga Suhu Tanaman
Perubahan suhu ekstrem dan angin kencang sering menjadi penyebab tidak disadari kerontokan buah kelengkeng. Panas di atas 35 derajat atau suhu di bawah 20 derajat Celsius dapat menyebabkan stres fisiologis pada tanaman.
Angin kencang juga melemahkan ikatan buah ke cabang karena getaran terus menerus. Pasang penahan angin dari paranet atau bangunan tanaman pagar untuk mengurangi tekanan tersebut. Selain itu, mulsa organik tebal 5–10 cm di sekitar batang membantu menjaga suhu tanah tetap stabil sekaligus mempertahankan kelembapan.
Fakta Pendukung dan Data Penting
Menurut pengelolaan tanaman yang berhasil, penggunaan bibit okulasi dan cangkok dapat mempercepat masa panen serta mengurangi risiko buah rontok. Data dari Liputan6 juga menyarankan aplikasi pupuk NPK dengan angka fosfor tinggi dan kalium yang seimbang. Pemupukan dan penyemprotan hama secara tepat sangat penting agar aliran nutrisi ke buah tidak terganggu.
Pengaturan penyiraman yang sesuai dan penjarangan buah merupakan langkah efektif yang banyak diaplikasikan di kebun-kebun kelengkeng produktif. Adanya upaya menstabilkan lingkungan mikro tanaman terbukti mencegah buah rontok secara signifikan.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, petani dan pekebun dapat mengurangi kerugian akibat rontoknya buah kelengkeng dan meningkatkan hasil panen secara keseluruhan. Pengelolaan yang telaten dan tepat waktu adalah kunci utama keberhasilan budidaya kelengkeng yang berbuah lebat dan stabil hingga panen tiba.
