Sisa lahan yang selama ini dibiarkan menganggur sebenarnya bisa diubah menjadi sumber penghasilan. Tren ini berkembang di perkotaan maupun pedesaan, karena banyak model usaha yang bisa dimulai dari area terbatas.
Pemanfaatan lahan sisa juga tidak semata soal tambahan cuan. Artikel referensi menyebut langkah ini berkaitan dengan keberlanjutan, ketahanan pangan, dan peluang usaha jangka panjang jika direncanakan dengan matang.
Modal besar bukan selalu syarat utama untuk memulai. Yang lebih penting adalah konsep yang jelas, kecermatan membaca pasar, dan kemampuan menyesuaikan jenis usaha dengan kondisi lahan.
Salah satu contoh datang dari Rini, pemilik agrowisata Rindu Farm di Klaten, Jawa Tengah. Kepada Liputan6.com, ia menjelaskan usaha melon hidroponik yang dikelola bersama suaminya berawal dari pemanfaatan sisa lahan sewa.
Agrowisata kebun buah
Di antara berbagai pilihan, agrowisata kebun buah menjadi salah satu model paling menjanjikan. Konsep ini menggabungkan penjualan hasil panen dengan pengalaman wisata, karena pengunjung dapat memetik buah langsung di kebun.
Rini memilih budidaya melon karena melihat permintaan pasar yang tinggi dan tanaman itu bisa dibudidayakan secara hidroponik. Ia juga mengaku awalnya memanfaatkan lahan sisa dari area usaha dagang yang disewa.
“Alasan memilih budidaya melon karena melihat permintaan melon di pasaran yang tinggi, dan bisa ditanam secara hidroponik,” kata Rini kepada Liputan6.com. Ia menambahkan lahan sisa itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk bertani melon.
Menurut penuturannya, total lahan sewa yang digunakan sekitar 2000 meter persegi. Area tanam dibagi menjadi empat greenhouse, dengan ukuran sekitar 200 meter persegi hingga 300 meter persegi per unit.
Untuk greenhouse seluas 300 meter persegi, kapasitasnya sekitar 980 lubang tanam. Bagian depan lahan dipakai untuk usaha dagang, sedangkan sisi samping dan belakang dikembangkan menjadi kebun melon.
Usaha itu dibangun lewat proses belajar mandiri. Rini menyebut ia memulai pembelajaran pertanian secara otodidak sejak April 2024.
Kini, kebun tersebut menampung sekitar 2000 tanaman melon dari berbagai varietas. Di antaranya honey globe, lavender, kirani, dan the blues.
Potensi pendapatannya cukup menarik. Satu tanaman disebut bisa menghasilkan 2 sampai 4 buah, dengan bobot per buah sekitar 1 sampai 2,5 kilogram.
Rini menjelaskan harga petik sendiri di kebun mencapai Rp25.000 per kg. Sementara jika dijual ke bakul untuk pasar, harganya Rp20.000 per kg.
Dari skema itu, agrowisata memberi nilai tambah dibanding penjualan biasa. Selain hasil panen terjual, ada daya tarik pengalaman yang bisa mendorong kunjungan.
Empat ide lain yang bisa disesuaikan dengan lahan
Selain kebun buah, lahan sisa juga bisa diubah menjadi kebun sayur organik modern. Referensi menyebut tren hidup sehat membuat permintaan sayur bebas pestisida terus meningkat.
Model ini menuntut pengelolaan yang konsisten. Pupuk alami, pengendalian hama tanpa bahan kimia, dan sistem langganan sayur bisa menjadi nilai jual utama.
Pilihan lain adalah budidaya ikan terpadu atau aquaponik. Sistem ini menggabungkan kolam ikan dan tanaman, sehingga air dari kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, sementara tanaman membantu menyaring air bagi ikan.
Konsep aquaponik cocok diterapkan di lahan terbatas. Referensi juga menilai sistem ini efisien dalam penggunaan air dan dapat memberi hasil ganda berupa ikan serta sayuran.
Sisa lahan juga dapat dimanfaatkan untuk peternakan unggas atau mamalia skala kecil. Ayam kampung, bebek, atau kambing bisa menjadi opsi karena tidak hanya menghasilkan daging, tetapi juga telur maupun pupuk organik.
Di lokasi yang dekat permukiman atau jalur ramai, area kuliner berkonsep alam juga berpeluang menarik pasar. Daya tarik utamanya ada pada suasana terbuka, desain yang nyaman, dan potensi menggabungkan makanan dengan hiburan sederhana.
Cara memilih usaha yang cocok
Mengutip panduan yang dilansir dari laman AESIA Kemenkeu dalam artikel referensi, langkah awal yang penting adalah menganalisis potensi lahan. Kondisi tanah, ketersediaan air, lokasi, luas area, dan aksesibilitas perlu dipahami sebelum memilih model usaha.
Tahap berikutnya adalah mengidentifikasi kebutuhan pasar sekitar. Jika permintaan sayur organik tinggi, kebun sayur bisa lebih relevan, sedangkan lokasi dekat area ramai dapat lebih cocok untuk konsep wisata atau kuliner.
Perencanaan operasional juga perlu dibuat sejak awal. Rencana itu mencakup anggaran, waktu pelaksanaan, potensi risiko, dan strategi pengembangan bertahap.
Eksekusi disarankan dimulai dari skala yang realistis. Dalam artikel referensi, Rini menekankan bahwa kunci budidaya melon adalah ketelatenan dan kemampuan mengamati kondisi tanaman secara detail.
“Kalau tanaman kita terserang jamur berarti harus dikasih obat ini. Pertumbuhan kurang harus pakai pupuk ini,” ujar Rini. Ia menilai pengamatan rutin menjadi faktor penting agar masalah pada tanaman bisa segera ditangani.
Karena itu, pemanfaatan sisa lahan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Dengan membaca kebutuhan pasar, menyesuaikan potensi lokasi, dan menjaga konsistensi perawatan, lahan kecil pun bisa berkembang menjadi usaha yang produktif, termasuk agrowisata kebun buah yang memberi nilai tambah dari panen sekaligus pengalaman pengunjung.







