Salah Pilih Bisa Bikin Rugi, 4 Jenis Ayam Cage Free Ini Lebih Tahan Penyakit untuk Pemula

Author: Qoo Media

Memulai ternak ayam dengan sistem cage free tidak cukup hanya mengandalkan kandang yang luas atau pakan yang baik. Jenis ayam menjadi faktor paling menentukan, terutama bagi pemula yang ingin menghindari kematian tinggi, ayam mudah sakit, dan hasil yang jauh dari target.

Pengalaman lapangan menunjukkan ayam yang cocok di atas kertas belum tentu tahan di kandang terbuka Indonesia. Karena itu, pilihan paling aman justru datang dari jenis yang adaptif terhadap iklim tropis, lebih tahan penyakit lokal, dan tidak terlalu rewel dalam perawatan.

Muji Purwanto, peternak ayam kampung organik di Kandang Gadri, Krajan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, menilai banyak pemula gagal karena salah memilih jenis ayam. Menurut dia, masalah utamanya bukan selalu bibit mahal atau fasilitas kandang, melainkan ketidaksesuaian ayam dengan tujuan ternak dan kondisi lokal.

Dalam sistem umbaran atau cage free, ketahanan tubuh ayam menjadi sangat penting. Ayam harus mampu menghadapi perubahan cuaca, kelembapan tinggi, serta paparan bakteri dan virus yang umum di lingkungan tropis.

Empat jenis ayam yang dinilai paling aman untuk pemula

Pilihan pertama adalah KUB atau Kampung Unggulan Balitbangtan. Ayam ini dikembangkan di Ciawi melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, sehingga dinilai punya keunggulan genetik untuk kondisi Indonesia.

KUB dikenal seimbang untuk telur dan daging. Produktivitas telurnya mencapai 180 hingga 200 butir per ekor per tahun, sementara bobot tubuhnya bisa berada di kisaran 1,2 hingga 1,5 kilogram.

Bagi pemula, KUB menjadi salah satu opsi paling aman untuk sistem cage free. Muji menyebut daya banting ayam ini cukup baik dan tidak terlalu rewel terhadap pakan, cuaca, maupun kondisi kandang yang belum ideal.

Pilihan kedua adalah Elba, ayam endemik dari kawasan Timur Tengah yang beriklim panas dan kering. Meski bukan ayam lokal, Elba disebut mampu beradaptasi cukup baik dan unggul pada produksi telur.

Produktivitas Elba bisa mencapai sekitar 300 butir telur per ekor per tahun. Angka itu mendekati ayam petelur komersial, dengan ukuran dan warna telur yang tetap menarik untuk pasar.

Namun Elba bukan pilihan utama untuk produksi daging. Bobot betinanya hanya sekitar 1,1 hingga 1,2 kilogram dan tidak mudah didorong lebih tinggi, sehingga lebih cocok untuk peternak yang fokus pada usaha telur.

Jenis ketiga adalah ayam kampung asli. Ayam ini telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Indonesia dan memiliki kemampuan adaptasi paling kuat terhadap lingkungan lokal.

Kelemahan ayam kampung asli ada pada produktivitas telur yang lebih rendah. Dalam setahun, produksinya berkisar 60 hingga 120 butir per ekor, sehingga kurang ideal untuk skala komersial besar.

Meski begitu, ayam kampung asli tetap menarik untuk pemula yang mengejar ketahanan alami dan biaya perawatan rendah. Nilai tambah lainnya terletak pada rasa daging dan telur yang khas.

Jenis keempat adalah hasil persilangan KUB dan Elba. Persilangan ini dikembangkan untuk menggabungkan daya tahan KUB dengan produktivitas telur tinggi dari Elba.

Hasilnya, ayam persilangan ini mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 250 butir telur per ekor per tahun. Pertumbuhan bobot tubuhnya juga disebut lebih cepat, sehingga lebih fleksibel untuk kebutuhan telur sekaligus daging.

Namun jenis persilangan ini lebih cocok untuk pemula yang sudah melewati tahap awal beternak. Alasannya, pengelolaan ayam hasil breeding membutuhkan pemahaman dasar yang lebih baik.

Mengapa ayam lokal lebih direkomendasikan

Muji menilai ayam endemik Indonesia seperti KUB dan ayam kampung asli lebih aman bagi pemula. Secara genetik, keduanya sudah terbiasa dengan iklim tropis, kelembapan tinggi, serta penyakit yang lazim ditemukan di Indonesia.

Keunggulan itu membuat biaya perawatan lebih terkendali. Ayam lokal juga dinilai tidak mudah stres saat cuaca berubah dan tidak terlalu bergantung pada obat-obatan.

Dalam praktiknya, pemula sebaiknya lebih dulu menentukan tujuan beternak. Jika fokus pada telur, Elba dan persilangan KUB-Elba menjadi pilihan kuat, sedangkan KUB lebih cocok bagi yang ingin hasil seimbang antara telur dan daging.

Untuk kebutuhan hobi atau konsumsi keluarga, ayam kampung asli dan KUB juga dinilai masuk akal. Keduanya bisa hidup sehat meski dipelihara di kandang sederhana.

Jenis ayam yang sebaiknya dihindari pemula

Selain memberi rekomendasi, Muji juga mengingatkan ada jenis ayam yang sebaiknya tidak dipilih untuk sistem cage free. Berdasarkan pengalamannya, ayam impor cenderung lebih riskan karena sistem imunnya tidak terbiasa dengan kondisi tropis Indonesia.

Ia menyebut pernah mencoba Australorp dari Australia dan ayam dari Italia. Hasilnya, daya adaptasi keduanya rendah dan risiko kematiannya tinggi saat dipelihara di lingkungan lokal.

Muji juga menyoroti Golden Permud yang dikembangkan dari Lampung. Meski terdengar lokal, ia menyebut gen endemik Indonesianya hanya sekitar 25 persen, sehingga tetap mudah mati saat dipelihara dalam sistem umbaran terbuka.

Karena itu, pemula disarankan tidak tergoda hanya oleh klaim produktivitas tinggi. Dalam fase awal beternak, ayam yang lebih tahan penyakit dan lebih mudah beradaptasi justru memberi peluang lebih besar untuk menjaga populasi tetap hidup dan usaha tetap berjalan.

Terbaru