Pelemahan rupiah bukan hanya urusan pasar keuangan atau bank sentral. Dampaknya bisa masuk langsung ke dapur rumah tangga melalui kenaikan harga barang impor, biaya transportasi, energi, dan produk kesehatan.
Di tengah tekanan global dan domestik, warga juga punya ruang untuk ikut membantu menjaga stabilitas kurs. Sejumlah langkah sehari-hari dinilai bisa mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS sekaligus memperkuat ekonomi domestik.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik dunia, meningkatnya permintaan dolar AS, dan tingginya impor menjadi faktor utama yang menekan kurs.
Nilai tukar rupiah penting karena memengaruhi harga banyak kebutuhan di Indonesia. Ketika rupiah melemah, perusahaan harus membayar lebih mahal untuk barang dan bahan baku dari luar negeri, lalu beban itu bisa diteruskan ke harga jual.
UGM menjelaskan kondisi itu sebagai inflasi impor. Dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pemerintah karena beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri ikut membesar.
Karena itu, menjaga rupiah tidak berhenti pada kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan melalui laman Sikapi Uangmu serta sejumlah akademisi menilai perilaku konsumsi dan keputusan keuangan masyarakat juga berpengaruh.
Belanja Lokal dan Tahan Impor
Langkah yang paling mudah adalah mengutamakan produk dalam negeri. Saat masyarakat memilih barang lokal, perputaran uang tetap berada di ekonomi domestik dan ketergantungan pada impor bisa ditekan.
OJK menilai tingginya impor barang konsumsi ikut mendorong permintaan dolar AS. Semakin besar pembelian barang luar negeri, semakin besar pula kebutuhan valuta asing untuk transaksi perdagangan.
Pilihan berikutnya adalah menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak. Barang seperti smartphone, kendaraan, dan gadget disebut sebagai produk impor dengan permintaan tinggi di Indonesia.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Medan Area menyebut tingginya permintaan barang impor sebagai salah satu penyebab pelemahan rupiah. Mengurangi konsumsi barang luar negeri berarti ikut menekan tekanan terhadap devisa negara.
Produk lokal dinilai semakin kompetitif dari sisi kualitas dan desain. Kategori seperti fesyen, makanan, kosmetik, hingga produk teknologi dalam negeri terus berkembang dan mampu bersaing di pasar.
Selain membantu rupiah, belanja lokal juga berdampak pada UMKM dan lapangan kerja. Efek gandanya muncul karena uang berputar di dalam negeri, bukan keluar untuk membiayai impor.
Jangan Ikut Borong Dolar
Di saat rupiah melemah, sebagian orang tergoda membeli dan menyimpan dolar AS. Namun OJK mengingatkan aksi borong dolar berlebihan justru bisa memperparah tekanan pada kurs.
Logikanya sederhana karena semakin banyak orang menukar rupiah ke dolar, permintaan dolar naik. Ketika permintaan itu meningkat, rupiah bisa makin tertekan.
Bagi masyarakat yang memang memiliki simpanan dolar dalam jumlah besar, menukarkannya kembali ke rupiah dinilai dapat membantu stabilitas pasar valuta asing. Langkah itu juga mencerminkan kepercayaan pada ekonomi nasional.
Sikap lain yang dianggap penting adalah tidak memicu kepanikan. Akademisi UGM, Eddy Junarsin, menilai komunikasi kebijakan yang jelas, stabilitas politik, dan keamanan sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Dalam konteks itu, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang memicu kepanikan ekonomi dan tidak berspekulasi berlebihan. Dukungan pada penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari juga dinilai penting.
Investasi, Transportasi, dan Wisata Domestik
Masyarakat juga bisa membantu lewat pilihan investasi. OJK menyarankan instrumen dalam negeri seperti Surat Berharga Negara, Obligasi Ritel Indonesia, atau Sukuk Ritel.
Investasi di instrumen domestik membantu pemerintah memperoleh pembiayaan pembangunan tanpa terlalu bergantung pada utang luar negeri. Langkah ini juga ikut menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
UGM menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Semakin tinggi kepercayaan pada instrumen keuangan domestik, semakin kuat fondasi ekonomi nasional.
Pilihan transportasi juga punya kaitan dengan kurs rupiah. Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan bakar minyak, sehingga konsumsi BBM yang tinggi ikut memperbesar kebutuhan impor energi.
OJK dan Universitas Medan Area menilai penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan menaikkan konsumsi BBM nasional. Beralih ke bus, kereta, atau berbagi kendaraan bisa membantu menekan konsumsi energi dan mengurangi tekanan pada devisa.
Mendukung pariwisata dalam negeri juga termasuk langkah yang relevan. Saat warga berlibur di dalam negeri, uang berputar di hotel, restoran, transportasi, dan UMKM daerah tanpa perlu mengeluarkan devisa untuk transaksi dalam mata uang asing.
OJK menilai sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam meningkatkan devisa negara. Di saat yang sama, wisata domestik membantu ekonomi lokal tumbuh lebih kuat.
Dorong Ekspor dari Level Warga
Pelemahan rupiah tidak selalu hanya membawa dampak negatif. Menurut UGM, kondisi ini juga bisa membuat produk Indonesia lebih murah di pasar internasional sehingga lebih kompetitif.
Karena itu, warga yang memiliki usaha kerajinan, makanan khas, fesyen, atau produk kreatif dapat mulai mengarah ke pasar ekspor. Semakin banyak produk lokal menembus luar negeri, semakin besar devisa yang masuk ke Indonesia.
OJK mencontohkan produk kerajinan tangan Indonesia yang telah dikenal di berbagai negara. Jika langkah-langkah seperti belanja lokal, menahan impor, tidak menimbun dolar, berinvestasi di instrumen domestik, menggunakan transportasi publik, memilih wisata dalam negeri, mendorong ekspor, dan menjaga optimisme dilakukan bersama, dampaknya dinilai bisa membantu menopang stabilitas rupiah.







