Usaha angkringan terpal sederhana terus dilirik karena menawarkan titik masuk yang lebih ringan bagi pemula. Modalnya relatif terjangkau, tetapi tampilannya tetap bisa dibuat menarik agar pelanggan betah datang dan nongkrong lebih lama.
Daya tarik model ini juga terletak pada fleksibilitasnya. Angkringan bisa dijalankan di pinggir jalan, depan rumah, dekat kampus, hingga area pasar malam, sambil tetap membawa suasana santai khas budaya nongkrong ala Jawa.
Konsep angkringan identik dengan tempat makan sederhana yang hangat dan akrab. Menu seperti nasi kucing, kopi, wedang jahe, gorengan, dan sate usus tetap memiliki pasar luas karena akrab dengan kebiasaan makan harian banyak orang.
Penggunaan terpal menjadi salah satu alasan utama konsep ini banyak dipilih. Bahan ini dinilai murah, mudah dipasang, serta efektif melindungi pelanggan dari panas maupun hujan, sehingga cocok untuk usaha skala kecil yang belum memakai bangunan permanen.
Bagi pelaku usaha pemula, pilihan model angkringan tidak hanya soal bentuk tempat jualan. Desain yang tepat juga berpengaruh pada kenyamanan pelanggan, daya tarik visual, dan potensi usaha untuk dikenal lebih luas, termasuk lewat media sosial.
Enam model yang banyak dipilih pemula
Model pertama adalah lesehan tradisional yang paling umum ditemukan di berbagai daerah. Ciri utamanya ialah penggunaan tikar atau panggung kayu rendah, meja kecil, gerobak kayu, dan atap terpal sebagai pelindung area makan.
Konsep ini banyak dipilih karena biaya pembuatannya tergolong hemat. Suasana lesehan juga memberi kesan santai yang membuat pelanggan nyaman mengobrol dalam waktu lama, terutama di dekat kampus, pemukiman, atau area tongkrongan anak muda.
Model kedua menggabungkan terpal dengan elemen kayu pada meja, kursi, dan booth. Hasilnya adalah tampilan yang lebih hangat dan natural, tetapi tetap hemat karena terpal masih dipakai sebagai atap utama.
Kombinasi ini membuat angkringan terlihat lebih modern tanpa kehilangan nuansa tradisional. Tambahan lampu gantung klasik dan tanaman hias kecil juga kerap dipakai untuk menciptakan suasana yang lebih cozy dan estetik.
Model ketiga adalah angkringan dengan gerobak minimalis. Pada desain ini, terpal dipasang menyatu dengan gerobak sehingga mudah dibongkar pasang dan cocok untuk lokasi usaha yang tidak permanen.
Keunggulan utamanya ada pada fleksibilitas. Gerobak dapat dipindahkan sesuai kondisi lokasi jualan, sementara warna gerobak bisa dibuat lebih mencolok agar lebih mudah menarik perhatian pengguna jalan.
Model keempat mengusung gaya cafe outdoor. Konsep ini populer di kalangan anak muda karena area duduk dibuat lebih modern dengan meja dan kursi santai, meski tetap mengandalkan terpal sebagai pelindung utama.
Beberapa pelaku usaha menambah sofa kecil, bantal duduk, hingga Wi-Fi agar pelanggan betah lebih lama. Menu seperti kopi susu, pisang bakar, dan roti bakar sering dipadukan dengan konsep ini, terutama di area sejuk atau lokasi yang ramai pada malam hari.
Model kelima adalah tema garden yang menonjolkan suasana hijau. Terpal dipasang di bagian atas, sedangkan area sekitar dihiasi tanaman seperti monstera, kaktus, atau tanaman gantung.
Konsep ini dinilai mampu meningkatkan daya tarik visual usaha, bahkan saat lahan yang tersedia terbatas. Meja dan kursi kayu panjang biasanya dipakai untuk memperkuat kesan alami dan santai bagi teman maupun keluarga.
Model keenam adalah angkringan monochrome kekinian. Desain ini memakai dominasi warna hitam, putih, dan abu-abu pada gerobak serta area duduk untuk menciptakan kesan modern dan bersih.
Terpal warna gelap sering dipilih agar tampil lebih elegan, lalu dipadukan dengan lampu warm white. Konsep ini banyak diminati karena terlihat rapi, cocok dijadikan spot foto, dan mudah menarik pelanggan muda.
Perhitungan awal dan faktor penunjang
Dalam perhitungan awal usaha, penggunaan terpal membantu menekan biaya pembangunan tempat. Kebutuhan awal yang umum disebut meliputi gerobak kayu sekitar Rp3 juta, meja lesehan sekitar Rp150 ribu per unit, tikar lipat sekitar Rp120 ribu, terpal sekitar Rp5.500 ukuran A3, peralatan masak sekitar Rp600 ribu, alat makan sekitar Rp300 ribu, dan instalasi Wi-Fi sekitar Rp500 ribu.
Besaran modal awal usaha angkringan sederhana biasanya berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp10 juta. Nilainya tetap bergantung pada konsep, lokasi, dan perlengkapan yang dipakai, sehingga desain yang lebih sederhana bisa membuat biaya awal lebih hemat.
Di luar desain, lokasi tetap menjadi faktor penting untuk mendorong keramaian. Area dekat kampus, pasar, terminal, atau pemukiman biasanya lebih potensial karena mudah dijangkau dan terlihat oleh banyak orang.
Pelaku usaha juga perlu menjaga konsistensi rasa menu sederhana yang menjadi andalan. Kebersihan meja, tikar, dan gerobak ikut menentukan kenyamanan pelanggan serta membangun kesan usaha yang lebih profesional.
Fasilitas tambahan bisa menjadi nilai lebih tanpa harus mengubah konsep dasar angkringan. Wi-Fi, colokan listrik, dan pencahayaan yang nyaman kerap membantu membuat pelanggan bertahan lebih lama, terutama kalangan muda.
Promosi lewat media sosial juga semakin relevan untuk usaha seperti ini. Foto tempat yang estetik, suasana nongkrong yang hangat, dan tampilan gerobak yang rapi bisa membantu angkringan sederhana dikenal lebih cepat oleh calon pelanggan di sekitar lokasi.
