Dari dapur usaha rumahan di Nglipar, Gunungkidul, olahan gaplek yang dulu lekat sebagai makanan pokok masa lampau kini berubah menjadi camilan modern yang menembus pasar lebih luas. Produk cookies gaplek buatan Olya Widowati Putri bahkan ikut tampil dalam pameran di China dan laris di ajang besar dalam negeri seperti Pekan Raya Jakarta.
Daya tarik utamanya ada pada perpaduan rasa yang disebut lezat, konsep sehat, dan identitas lokal yang kuat. Di tangan Olya, tepung gaplek singkong tidak lagi hanya identik dengan tiwul, tetapi juga hadir sebagai cookies dan brownies yang dibungkus rapi sebagai oleh-oleh khas Gunungkidul.
Gaplek Diangkat Menjadi Produk Modern
Olya mengembangkan Delollie Cake & Cookies dengan tujuan menghadirkan produk yang tahan lama dan tidak musiman. Ia ingin memiliki makanan khas yang bisa mengangkat identitas tanah kelahirannya agar dikenal lebih luas di luar daerah.
Eksperimen itu bermula dari tepung gaplek milik mertuanya yang biasa dipakai untuk membuat tiwul. Tepung tersebut disaring berulang kali hingga sangat halus sebelum diolah menjadi adonan kue.
Ia menilai keunikan produknya terletak pada satu bahan yang bisa hadir dalam dua fungsi berbeda. Tepung gaplek dapat menjadi sumber makanan pokok seperti nasi tiwul, tetapi juga bisa diolah menjadi kudapan seperti cookies dan brownies.
Upaya memakai gaplek sebagai bahan utama dilakukan setelah Olya lebih dulu mencoba membuat cookies red velvet berbahan terigu pada 2021. Keinginan mengangkat kearifan lokal kemudian membawanya beralih ke tepung gaplek pada awal 2023.
Pada tahap awal, cookies dibuat tanpa tambahan isian agar karakter asli tepung singkong bisa terbaca jelas. Setelah rasanya dianggap pas, ia mulai menambahkan oatmeal dan variasi rasa lain untuk memperkaya pilihan konsumen.
Berangkat dari Usaha Kecil
Perjalanan usaha Olya tidak langsung berawal dari cookies gaplek. Sejak 2014, ia sudah berjualan burger dan cappuccino cincau di pinggir jalan kawasan Nglipar.
Usaha itu sempat berkembang pesat karena saat itu belum banyak pesaing. Gerai sederhananya lalu bertransformasi menjadi kafe mini dengan dekorasi lampu yang menarik minat anak muda.
Namun, bisnisnya sempat terganggu ketika ia harus pindah dari lokasi lama karena lahannya bukan milik sendiri. Perpindahan ke tempat yang kurang strategis membuat omzet turun drastis.
Dalam kondisi itu, Olya beralih membuat kue tart ulang tahun secara kustom untuk menjaga pemasukan. Pesanan tart disebut tetap datang setiap minggu hingga sekarang, ditopang pelanggan yang sudah mengenal rasa produknya.
Usung Konsep Sehat dan Bebas Gluten
Salah satu pembeda Delollie dengan kue lain adalah pilihan bahan yang lebih ramah bagi tubuh. Cookies dan brownies buatannya menggunakan tepung singkong tanpa campuran terigu sehingga mengusung konsep bebas gluten.
Produk itu juga dibuat dengan kadar gula yang minim. Setelah mendapat masukan dari ahli kuliner sehat, Olya mengganti gula pasir dengan gula aren atau gula semut dalam adonan.
Meski berbahan berbeda dari kue pada umumnya, brownies yang dihasilkan tetap lembut dan cookies-nya terasa gurih. Menurut Olya, ada pelanggan yang awalnya ragu, tetapi kemudian menyukai rasa camilan berbahan gaplek tersebut.
Keunggulan rasa inilah yang membuat produk lokal itu tidak terasa kuno meski berasal dari bahan tradisional. Olya juga menyebut hasil percobaannya membuktikan bahwa gaplek bisa bersaing dengan produk modern berbahan dasar terigu.
Dikemas untuk Pasar Oleh-oleh
Agar layak masuk pasar oleh-oleh, tampilan produk ikut digarap serius. Cookies gaplek dikemas dalam pouch dan kotak box dengan stiker informatif, sementara varian tertentu tersedia dalam toples kaca.
Untuk kemasan pouch, harga produk mulai dari Rp18 ribu. Sementara itu, kemasan toples kaca dipasarkan pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp65 ribu.
Keunggulan lain ada pada masa simpan yang panjang. Dengan kemasan kedap udara, cookies gaplek dapat bertahan hingga 12 bulan sehingga cocok dibawa wisatawan sebagai buah tangan dari Gunungkidul.
Brownies bebas gluten juga menjadi bagian dari lini produknya. Produk ini dijual seharga Rp55 ribu per porsi.
Didorong Ekosistem BRI, Jangkauan Makin Luas
Perluasan pasar Delollie Cake & Cookies ikut didukung ekosistem BRI. Melalui Rumah BUMN Yogyakarta yang dibina BRI, produk ini mendapatkan ruang display strategis yang mempertemukannya dengan konsumen premium.
Olya juga beberapa kali dilibatkan dalam pameran yang difasilitasi BRI. Dukungan itu membuka akses promosi yang lebih luas untuk produk berbasis gaplek dari Gunungkidul.
Salah satu capaian pentingnya adalah ketika cookies gaplek tersebut dibawa ke pameran di China. Produk itu dipilih karena dinilai merepresentasikan potensi lokal yang unik sekaligus sehat.
Di pasar domestik, Delollie juga hadir di ajang besar seperti Pekan Raya Jakarta. Dalam pameran itu, produknya disebut hampir selalu habis terjual.
Di sisi operasional, Olya sudah memakai QRIS BRI untuk memudahkan transaksi di gerai maupun saat pameran. Sistem pembayaran digital itu membantu transaksi lebih cepat, tanpa repot menyiapkan uang kembalian, sekaligus membuat arus masuk penjualan tercatat rapi secara real-time.







