Produk home decor dari kayu bekas asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil menarik pembeli dari luar negeri seperti China dan Spanyol. Usaha bernama Nangoma itu tumbuh dari garasi rumah dan kini dikenal lewat produk handmade yang mengangkat nilai estetika material daur ulang.
Di tengah tren produk berkelanjutan, kayu bekas justru menjadi kekuatan utama Nangoma. Jejak paku lama, tetesan cat, hingga karakter permukaan kayu yang tidak seragam dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar global.
Nangoma berlokasi di Jl. Bandulan, Purworejo, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Usaha ini memproduksi dekorasi rumah, kerajinan, hingga mebel mini dengan fokus pada segmen home decor yang dinilai lebih fleksibel bagi pelaku UMKM.
Pemilik Nangoma, Rita Cahaya Sari, membangun usaha ini setelah bekerja belasan tahun di industri mebel di Yogyakarta. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya pada 2018 dan memulai usaha sendiri dengan modal dari tabungan gaji UMR yang disisihkan sedikit demi sedikit.
Nama Nangoma juga lahir dari filosofi yang dekat dengan rumah. Rita menjelaskan, “Nangomah” berasal dari bahasa Jawa yang berarti di rumah, dengan harapan produk-produknya bisa memberi warna di rumah para pelanggan.
Perjalanan usaha itu tidak langsung mulus. Setelah mulai berjalan, Nangoma harus menghadapi hantaman pandemi Covid-19 yang datang setahun kemudian.
Rita tetap bertahan dengan memilih fokus pada barang-barang berukuran kecil dan furniture mini seperti stool. Pilihan itu membuat usaha lebih lincah dibanding harus bersaing di segmen furniture besar pabrikan.
Kayu bekas jadi bahan utama
Keunikan Nangoma terletak pada bahan baku utamanya, yaitu kayu recycle. Material itu diperoleh dari pembongkaran rumah-rumah lama hingga kayu kapal nelayan dari Probolinggo yang sudah bocor atau tak terpakai.
Bagi Rita, kayu bekas bukan sekadar bahan sisa. Material itu justru memberi identitas kuat pada setiap produk karena tidak ada satu pun hasil akhir yang benar-benar sama.
Ia menilai pasar luar negeri lebih menghargai proses mengubah barang yang tak terpakai menjadi benda fungsional. Selain itu, sifat handmade membuat tiap produk memiliki karakter yang berbeda, bukan barang seragam seperti produksi pabrikan.
Produk Nangoma juga bisa dibuat sesuai permintaan pembeli. Pelanggan dapat menyesuaikan bentuk, ukuran, material, hingga anggaran, lalu harga dihitung berdasarkan tingkat kesulitan dan spesifikasi pesanan.
Untuk produk dekorasi, harga dibuka mulai Rp200 ribuan. Rita menyebut nilai estetika kayu recycle kini sangat tinggi, bahkan dalam kondisi tertentu kastanya bisa berada di atas kayu jati baru.
Produk unggulan dan pasar ekspor
Dari berbagai produk yang dibuat, pot kayu dan kerajinan burung menjadi andalan Nangoma. Dua jenis produk itu disebut paling sering mendapatkan repeat order dari pembeli di China dan Spanyol.
Rita melihat perbedaan selera yang cukup jelas antara pasar lokal dan pasar luar negeri. Menurut dia, konsumen domestik cenderung lebih menyukai barang yang mulus dan seragam, sedangkan pembeli asing justru tertarik pada bekas-bekas alami yang menempel pada kayu lama.
Pemasaran ke pasar ekspor dilakukan lewat korespondensi email, situs web, dan pameran. Nangoma juga mengikuti pameran furniture internasional yang rutin digelar setiap Maret untuk bertemu buyer dari berbagai negara.
Di pasar dalam negeri, Nangoma pernah mengikuti Brilianpreneur yang digelar BRI di Jakarta. Program itu menerapkan proses kurasi bagi UMKM dari seluruh Indonesia sebelum produk ditampilkan.
Produksi dan tantangan logistik
Menembus pasar internasional tidak lepas dari tantangan teknis. Rita menyebut pengiriman menjadi salah satu risiko terbesar karena barang dapat rusak selama proses distribusi, sementara ongkos kirim kerap lebih mahal daripada harga produknya sendiri.
Dari sisi produksi, Nangoma membutuhkan waktu sekitar delapan minggu setelah deposit untuk menyelesaikan pesanan. Dua minggu pertama dipakai untuk proses oven agar kelembapan kayu turun hingga aman di angka 12 persen.
Proses itu menjadi penting untuk menjaga kualitas produk, terutama untuk pesanan luar negeri. Dengan tahapan tersebut, risiko masalah pada bahan kayu dapat ditekan sebelum barang dikirim ke pembeli.
Saat ini Rita dibantu tiga karyawan tetap dalam menjalankan usaha. Jika permintaan meningkat, ia menambah hingga lima pekerja borongan lepas agar operasional tetap efisien dan modal tidak terlalu terbebani.
Salah satu pekerja, Yono, telah berkarya di Nangoma hampir tiga tahun. Setiap hari ia bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB untuk memilah kayu bekas dan mengolahnya menjadi produk bernilai seni.
Yono mengaku dunia perkayuan sudah akrab baginya sejak lulus SMA. Ia menilai pekerjaan di Nangoma memberinya penghidupan yang layak dan lingkungan kerja yang membuatnya nyaman untuk terus berkarya.
Dukungan inkubasi usaha
Fondasi bisnis Nangoma ikut diperkuat setelah bergabung dalam program BRIncubator. Rita mengatakan program itu memberinya banyak pelatihan untuk meningkatkan kemampuan, terutama dalam pemasaran dan pengelolaan usaha yang lebih profesional.
Selain pelatihan, Nangoma juga mendapat kesempatan memamerkan produk di Rumah BUMN BRI Yogyakarta atau RuBy di kawasan Sagan. Ruang pamer itu menjadi etalase tambahan yang membantu memperkenalkan produk daur ulang buatan Sleman kepada calon pembeli yang lebih luas.
Kisah Nangoma menunjukkan bahwa limbah kayu tidak selalu berakhir sebagai barang buangan. Di tangan perajin lokal, material bekas dari rumah tua dan kapal nelayan justru berubah menjadi dekorasi bernilai tinggi yang sanggup menembus pasar global.
