Budidaya gurame di tandon air bekas kini menjadi opsi menarik bagi warga yang memiliki lahan sempit tetapi ingin membuka usaha perikanan. Metode ini dinilai efisien karena bisa dilakukan di halaman, teras, bahkan di dalam ruangan dengan modal yang lebih ringan.
Peluang usahanya juga terbuka lebar karena gurame tetap menjadi ikan air tawar yang banyak diminati. Daya tariknya ada pada rasa, daging yang tebal, kandungan protein tinggi, serta harga jual yang relatif tinggi dengan permintaan pasar yang stabil.
Dengan kondisi itu, pemanfaatan tandon atau drum air bekas tidak lagi dipandang sebagai solusi sementara. Wadah bekas justru bisa menjadi media budidaya yang produktif selama disiapkan dengan benar dan tidak pernah dipakai untuk menampung bahan kimia beracun atau oli.
Persiapan wadah jadi penentu awal
Tahap paling penting dimulai dari modifikasi tandon agar aman untuk benih gurame. Bagian atas tandon perlu dipotong menggunakan gerinda atau gergaji besi agar bukaan lebih lebar dan sirkulasi udara serta cahaya matahari dapat masuk.
Jika ada kebocoran pada sisi atau dasar wadah, bagian tersebut harus ditambal lebih dulu. Penambalan bisa dilakukan dengan lem pipa plastik yang kuat atau lem silikon khusus akuarium.
Setelah itu, seluruh bagian dalam tandon perlu dibersihkan total. Sisa lumut, endapan zat besi, dan residu sabun harus disikat sampai bersih lalu dibilas dengan larutan garam krosok atau antiseptik ringan.
Tandon lalu dijemur di bawah sinar matahari langsung selama 2–3 hari hingga benar-benar kering. Tahap ini penting untuk mengurangi bau plastik baru sekaligus membantu proses disinfeksi alami sebelum benih ditebar.
Air tidak bisa langsung dipakai
Air bersih yang baru dimasukkan ke dalam tandon belum siap dipakai untuk pemeliharaan. Air perlu diisi hingga ketinggian sekitar 70–80 sentimeter dari dasar, lalu diendapkan selama 24 jam agar kandungan kaporit, klorin, atau zat besi lebih stabil.
Sesudah itu, air bisa diperkaya dengan sedikit probiotik perikanan dan sejumput garam krosok. Dalam 3–5 hari, air yang mulai tampak kehijauan atau kecokelatan menandakan ekosistem mulai matang dan mikroorganisme positif mulai terbentuk.
Kondisi air seperti itu membantu menjaga pH tetap stabil pada kisaran 6,5 hingga 7,5. Stabilitas ini penting karena gurame yang baru ditebar sangat rentan stres jika masuk ke media yang belum siap.
Karena volume tandon terbatas dan bentuknya cenderung silinder vertikal, aerator juga perlu dipasang. Pompa udara kecil dengan batu aerasi di dasar tandon membantu menyuplai oksigen terlarut secara konstan dan mengurangi risiko pengendapan kotoran.
Benih sehat dan padat tebar harus terukur
Kualitas benih sangat menentukan keberhasilan panen. Benih yang dipilih sebaiknya aktif bergerak, tidak cacat pada sirip atau ekor, ukurannya seragam, dan responsif saat diberi pakan.
Untuk media tandon, benih minimal berukuran setara silet atau korek gas, sekitar 5–7 sentimeter. Ukuran ini dianggap lebih kuat untuk beradaptasi dengan ruang budidaya yang terbatas.
Sebelum benih dilepas, proses aklimatisasi perlu dilakukan agar ikan tidak mengalami syok suhu. Kantong plastik berisi benih cukup diapungkan di permukaan air selama 15–20 menit, lalu dibuka perlahan agar air tandon masuk sedikit demi sedikit.
Pada tandon berkapasitas sekitar 1.000 liter, padat tebar yang disarankan berkisar 50–70 ekor benih. Kepadatan berlebih sebaiknya dihindari karena dapat memicu perebutan oksigen, memperlambat pertumbuhan, dan mempercepat penularan penyakit.
Kunci untung ada pada pakan dan kualitas air
Pakan utama yang digunakan adalah pelet terapung dengan kandungan protein minimal 28–30 persen. Pemberiannya dilakukan dua kali sehari, pagi sekitar pukul 08.00 dan sore sekitar pukul 16.00, dengan porsi secukupnya.
Untuk menekan biaya operasional, gurame juga bisa diberi pakan alternatif hijau pada siang hari. Daun talas, daun singkong, azolla, dan kangkung termasuk jenis yang disukai dan disebut dapat menghemat pengeluaran pelet hingga 30 persen.
Metode pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit dengan feeding rate 2–3 persen dari bobot total ikan. Jika dalam 5–10 menit pelet tidak habis, sisa pakan harus segera diangkat agar tidak membusuk dan menghasilkan amonia beracun.
Kebersihan air juga wajib dijaga meski gurame dikenal tahan pada air minim oksigen karena memiliki organ pernapasan tambahan. Sistem pembuangan di dasar tandon atau bottom drain memudahkan pembuangan endapan kotoran tanpa perlu menguras seluruh air.
Pembuangan kotoran dasar dilakukan sekitar 10–15 persen dari total volume air setiap minggu. Setelah itu, air diganti dengan air baru yang telah diendapkan, dan setiap dua minggu bisa ditambah kembali sejumput garam krosok serta probiotik untuk menjaga keseimbangan bakteri pengurai.
Penyakit, sortir, dan waktu panen
Peternak perlu mewaspadai jamur kulit, kutu ikan, dan bintik putih yang kerap muncul saat pergantian musim atau suhu air turun drastis. Ikan yang berenang lemas di permukaan atau menggosokkan tubuh ke dinding tandon sebaiknya segera dikarantina dan diobati dengan larutan garam pekat atau methylene blue.
Pertumbuhan gurame juga tidak selalu seragam dalam satu wadah. Karena itu, penyortiran ukuran perlu dilakukan setiap 2 atau 3 bulan sekali agar ikan besar tidak mendominasi pakan dan menekan pertumbuhan ikan yang lebih kecil.
Jika tersedia lebih dari satu tandon, ikan hasil sortir bisa dipisahkan berdasarkan ukuran. Langkah ini membantu pertumbuhan lebih merata dan mengurangi risiko intimidasi antarikan di ruang terbatas.
Panen umumnya dapat dilakukan pada bulan ke-8 hingga ke-10 setelah tebar benih. Ukuran konsumsi yang banyak dicari pasar dan restoran berkisar 400–600 gram per ekor, dan pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar ikan tidak terlalu stres dan mutu daging tetap terjaga.
