7 Ular Pemakan Siput Ini Punya Rahang Aneh, Hampir Tak Bisa Makan Selain Itu

Author: Qoo Media

Ular umumnya dikenal sebagai karnivora oportunistik yang memangsa beragam hewan. Namun, ada kelompok ular yang justru menyempitkan menu mereka hanya pada siput, dan sebagian di antaranya punya rahang yang sudah beradaptasi khusus untuk itu.

Adaptasi ini membuat mereka berbeda dari banyak ular lain. Beberapa spesies bahkan tidak mampu memakan hewan lain, karena bentuk rahangnya memang dirancang untuk menangani mangsa bercangkang seperti siput dan bekicot.

Dipsas georgejetti
Spesies ini hidup nokturnal di semak-semak dataran rendah kering, sabana, dan hutan kering musiman di Ekuador. Habitatnya juga meliputi padang rumput, dan kadang ular ini masuk ke dalam rumah.

Di permukaan tanah atau di semak hingga ketinggian 2 meter, Dipsas georgejetti bergerak aktif tetapi lambat. Ular ini hanya memakan siput dan bekicot, serta tidak berbahaya bagi manusia karena tidak pernah menggigit dan tidak berbisa.

Garter
Ular garter tersebar luas di berbagai negara di benua Amerika dan paling sering ditemukan dekat air. Habitatnya sangat bervariasi, tetapi kedekatannya dengan perairan menjadi ciri yang menonjol.

Menu ular ini tidak terbatas pada siput saja. Mereka juga memakan cacing tanah, katak, lintah, serangga, udang karang, ikan kecil, dan ular lainnya, lalu melumpuhkan mangsa dengan gigi tajam, refleks cepat, serta air liur beracun.

Dipsas klebbai
Dipsas klebbai memiliki punggung cokelat muda dengan bercak lonjong cokelat tua hingga hitam, sementara kepalanya hitam dengan tepi putih. Spesies ini hidup di hutan pegunungan, padang rumput, kebun pedesaan, dan rumah-rumah.

Ular ini aktif sejak petang hingga dini hari, meski kadang berjemur di serasah daun pada siang hari. Di penangkaran, Dipsas klebbai hanya memakan siput dan menggunakan racun dari sel-sel mukosa kelenjar infralabial untuk melumpuhkannya.

Dipsas bobridgelyi
Spesies ini dikenal sebagai ular pemakan siput yang hidup di atas pohon. Aktivitas berburunya berlangsung pada malam hari, sementara siang hari digunakan untuk beristirahat.

Statusnya terancam punah karena habitatnya terfragmentasi dan terus menurun dalam luas serta kualitas akibat penggundulan hutan. Hingga kini, spesies ini hanya ditemukan di dua lokasi.

Sibon bevridgelyi
Sibon bevridgelyi memiliki kepala yang lebih lebar dari leher, mata melotot, dan pola bercak hitam tidak beraturan berwarna cokelat kemerahan dengan celah kuning pucat. Ular ini hidup di hutan gugur, semak belukar, padang rumput, dan perkebunan kakao, biasanya dekat aliran sungai.

Aktivitasnya meningkat pada malam hari, terutama saat hujan atau gerimis. Makanannya meliputi siput dan bekicot, sedangkan pada siang hari ular ini kerap melingkar di bawah kulit pohon atau di tengah pohon palem.

Smooth green snake
Ular ini mudah dikenali dari punggung hijau dan perut kuning yang kontras. Sifatnya jinak, akan kabur saat terancam, dan tidak berbisa sehingga sering dipilih sebagai hewan peliharaan.

Makanannya terdiri atas hewan-hewan kecil, termasuk cacing, laba-laba, semut, ulat, jangkrik, kecoak, ngengat, dan siput. Meski tidak eksklusif pemakan siput, spesies ini tetap masuk dalam daftar ular yang mengandalkan mangsa kecil bertubuh lunak.

Pareas iwasakii
Pareas iwasakii berasal dari Kepulauan Yaeyama di selatan Kepulauan Ryukyu, Jepang. Spesies ini termasuk famili Pareidae dan memiliki rahang asimetris.

Khusus pada ular ini, siput menjadi satu-satunya makanan, bahkan sejak individu baru menetas. Rahang asimetris itu membantu mereka memakan siput dengan cangkang dekstral, sehingga spesies ini menjadi salah satu contoh paling jelas dari ular dengan adaptasi makan yang sangat spesifik.

Source: www.idntimes.com
Terbaru