ICT Watch & Meta Gelar Pelatihan Literasi AI Inklusif untuk Penyandang Disabilitas di Jakarta

ICT Watch bekerja sama dengan Meta Indonesia mengadakan pelatihan literasi AI inklusif yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Kegiatan ini diselenggarakan khusus untuk mendukung penyandang disabilitas netra dan tuli agar dapat memahami serta mengakses teknologi kecerdasan buatan secara setara.

Pelatihan yang digelar di Jakarta ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari komunitas penyandang disabilitas netra dan tuli. Materi pelatihan tidak hanya disampaikan oleh para ahli, melainkan juga melibatkan pelatih yang berasal dari kalangan peserta itu sendiri. Metode ini membuat pembelajaran lebih relevan dan memberdayakan komunitas yang ada.

Materi Pelatihan dan Pendekatan Berbasis Komunitas
Peserta dikenalkan dengan konsep dasar tentang cara kerja AI dan didorong untuk berdiskusi mengenai pemanfaatan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab. Tujuannya adalah menghilangkan pandangan AI sebagai teknologi yang menakutkan dan menggantinya dengan sikap kritis dan sadar dalam penggunaannya.

Indriyatno Banyumurti, Direktur Eksekutif ICT Watch, menekankan pentingnya menyediakan akses teknologi yang setara melalui sumber daya edukasi yang inklusif. Ia mengatakan, “Panduan dan modul literasi AI yang kami buat dapat digunakan secara luas, terutama untuk menjangkau teman-teman netra dan tuli.” Pendekatan berbasis komunitas ini memperkuat proses belajar dengan membuka ruang dialog antar peserta.

Peluncuran Modul dan Panduan Literasi AI Inklusif
Selain pelatihan, ICT Watch dan Meta juga meluncurkan dua dokumen penting sebagai sumber belajar bagi siapa saja yang ingin mengadakan pelatihan literasi digital inklusif. Dokumen tersebut meliputi Panduan Pelaksanaan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli serta Modul Literasi AI Inklusif.

Modul ini dibuat dengan melibatkan komunitas disabilitas, pendidik Sekolah Luar Biasa (SLB), dan Komisi Nasional Disabilitas. Formatnya juga ramah akses, seperti easy-to-read, dukungan screen reader, video dalam Bisindo, audio narasi, dan subtitle. Hal ini memastikan materi dapat dipahami dengan mudah oleh audiens yang beragam.

Inklusivitas dan Tanggung Jawab dalam Penggunaan AI
Indriyatno menyatakan bahwa ekosistem digital yang adil harus dibangun di atas akses teknologi yang merata. Penyandang disabilitas harus berada dalam posisi yang aktif dan punya suara dalam perkembangan AI. Meta Indonesia turut menggarisbawahi pentingnya demokratisasi teknologi agar inovasi AI manfaatnya dapat dirasakan semua kalangan.

Pelatihan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, Komisi Nasional Disabilitas, serta kementerian terkait lainnya. Hal ini membuktikan bahwa literasi AI bukan sekedar kemampuan teknis, tetapi juga mencakup aspek kesadaran etika dan transparansi teknologi.

Rencana Pelatihan dan Akses Modul Publik
Kegiatan pelatihan ini tidak hanya berlangsung di Jakarta. ICT Watch berencana melanjutkan pelatihan serupa di Bandung. Selain itu, modul dan panduan yang diluncurkan dapat diakses secara publik melalui laman s.id/aiinklusif.

Langkah ini bertujuan membuka peluang kolaborasi lintas komunitas dan institusi demi memperluas cakupan literasi teknologi yang inklusif. Komitmen jangka panjang dan sinergi berbagai pihak sangat dibutuhkan agar manfaat kecerdasan buatan bisa dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang selama ini kurang mendapatkan akses.

Ringkasan poin penting pelatihan literasi AI inklusif:

  1. Pelatihan diikuti oleh penyandang disabilitas netra dan tuli.
  2. Materi disampaikan secara partisipatif dengan pelatih dari komunitas penyandang disabilitas.
  3. Diskusi fokus pada pemanfaatan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab.
  4. Peluncuran modul dan panduan literasi AI inklusif yang ramah akses.
  5. Dukungan dari lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
  6. Modul dapat diakses publik dan pelatihan akan dilanjutkan ke daerah lain.

Pelatihan literasi AI inklusif ini mencerminkan upaya nyata dalam mewujudkan transformasi digital yang tidak meninggalkan siapa pun. Dengan memberikan akses dan pengetahuan kepada penyandang disabilitas, Indonesia bergerak menuju ekosistem AI yang adil, demokratis, dan bertanggung jawab.

Terkait