Raspberry Pi kembali menaikkan harga sebagian besar produk papan komputer andalannya. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap krisis global yang menyebabkan kenaikan biaya komponen memori.
Kenaikan harga ini merupakan penyesuaian kedua dalam dua bulan terakhir. Tekanan dari biaya produksi menjadi faktor utama yang memaksa perusahaan melakukan penyesuaian harga.
CEO Raspberry Pi, Eben Upton, menyatakan bahwa kekurangan chip memori dan penyimpanan menjadi penyebab utama kenaikan harga. Pabrik-pabrik produksi komponen LPDDR4 saat ini banyak dialihkan untuk membangun infrastruktur AI yang berkembang pesat.
Produk dan Varian yang Terpengaruh
Penyesuaian harga berlaku untuk semua model Raspberry Pi 4 dan Raspberry Pi 5 dengan kapasitas RAM 2GB ke atas. Produk turunan seperti Compute Module 4, Compute Module 5, serta Raspberry Pi 500 dan Raspberry Pi 500+ juga mengalami kenaikan. Berikut rincian kenaikan harga berdasarkan kapasitas RAM:
- RAM 2GB naik Rp167.700
- RAM 4GB naik Rp251.550
- RAM 8GB naik Rp503.100
- RAM 16GB melonjak Rp1.006.200
Harga ini adalah akumulasi dari kenaikan sebelumnya yang terjadi pada Desember lalu, sehingga varian tertinggi Raspberry Pi 5 dengan RAM 16GB kini dihargai mencapai Rp3.437.850.
Varian 8GB untuk Pi 4 dan Pi 5 juga mencapai harga Rp2.096.250 hingga Rp2.263.950. Harga ini membuat model dengan RAM besar menjadi cukup mahal dibanding perangkat sekelas.
Produk yang Tidak Terpengaruh Kenaikan Harga
Raspberry Pi varian entry-level dengan RAM 1GB tetap dijual dengan harga stabil. Raspberry Pi 4 dengan RAM 1GB dipatok Rp586.950, sedangkan Raspberry Pi 5 dengan RAM 1GB dijual Rp754.650.
Komputer keyboard Raspberry Pi 400 juga tidak mengalami perubahan harga dan tetap menjadi pilihan PC termurah di level Rp1.006.200.
Stabilitas harga pada model lama seperti Raspberry Pi 3 dan Pi Zero juga dipertahankan. Alasannya, perusahaan masih memiliki persediaan memori LPDDR2 yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi beberapa tahun ke depan.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Pasar
Kenaikan harga yang beruntun ini menggeser posisi Raspberry Pi dari komputer ekonomis menjadi perangkat yang harus bersaing dengan mini PC berbasis x86 dan PC bekas. Harga yang kian tinggi tentunya dapat mempengaruhi preferensi konsumen dan komunitas penghobi teknologi.
Eben Upton memproyeksikan tekanan pada rantai pasokan dan harga memori bakal berlanjut sepanjang 2026. Namun, perusahaan berkomitmen untuk meninjau kembali kebijakan harga begitu kondisi pasar membaik.
“Situasi ini diharapkan bersifat sementara, dan kami berharap bisa membatalkan kenaikan harga setelah keadaan membaik,” ujar Upton dalam pernyataannya.
Krisis kelangkaan chip memori yang juga diperburuk oleh kebutuhan besar untuk infrastruktur AI menyebabkan penyesuaian harga produk elektronik semakin umum. Raspberry Pi sebagai salah satu pelopor komputer papan tunggal menghadapi tantangan yang sama dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan produk di pasar global.
