6 Kebiasaan Yang Diam-Diam Bikin Dosen Ilfeel, Banyak Mahasiswa Tak Sadar

Author: Qoo Media

Di lingkungan kampus, kesan mahasiswa di mata dosen tidak hanya dibentuk oleh nilai ujian atau IPK. Sikap sehari-hari, cara berkomunikasi, dan tanggung jawab dalam menjalani perkuliahan sering kali jadi penentu utama.

Karena itu, ada kebiasaan-kebiasaan yang tampak sepele, tetapi justru cepat menurunkan penilaian dosen terhadap mahasiswa. Enam hal berikut sering menjadi pemicu munculnya kesan buruk, meski dosen tetap dituntut bersikap profesional dalam menilai setiap mahasiswa.

Terlambat datang berulang kali

Sesekali terlambat masih bisa dimaklumi, terutama jika ada keadaan mendesak. Namun, jika kebiasaan ini muncul hampir di setiap pertemuan, dosen biasanya akan menilai mahasiswa kurang menghargai waktu.

Keterlambatan yang terus berulang juga bisa mengganggu jalannya kelas. Saat dosen sedang menjelaskan materi, kehadiran yang terlambat sering memecah konsentrasi dan memberi kesan kurang disiplin.

Mengabaikan tenggat tugas

Tenggat tugas bukan sekadar batas waktu administratif. Dosen menyusunnya agar proses penilaian dan perkuliahan berjalan sesuai rencana.

Mahasiswa yang sering mengumpulkan tugas melewati batas waktu bisa dianggap kurang bertanggung jawab. Jika alasan yang diberikan berubah-ubah, kesan yang muncul bisa lebih buruk karena dosen akan mempertanyakan keseriusan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah.

Terlalu sibuk dengan HP saat kelas berlangsung

Gadget memang menjadi bagian dari aktivitas belajar saat ini. Tetapi dosen juga bisa membedakan mana mahasiswa yang membuka materi dan mana yang justru sibuk scrolling media sosial atau membalas chat.

Sikap terlalu fokus pada HP saat dosen mengajar dapat terbaca sebagai tanda tidak menghargai usaha dosen. Sebaliknya, kontak mata dan respons sederhana sudah cukup menunjukkan bahwa mahasiswa memperhatikan penjelasan di kelas.

Pasif sepanjang semester, lalu protes saat nilai keluar

Tidak semua mahasiswa harus aktif berbicara di kelas. Sebagian mahasiswa memang lebih nyaman menyerap materi dengan mendengarkan.

Masalah muncul ketika selama satu semester hampir tidak pernah bertanya, berdiskusi, atau menunjukkan keterlibatan, tetapi langsung protes saat nilai keluar. Dosen biasanya lebih menghargai mahasiswa yang berusaha aktif selama proses belajar daripada yang baru muncul ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Tidak sopan saat berkomunikasi

Cara menyampaikan pesan kepada dosen juga ikut dinilai. Chat tanpa salam, bahasa yang terlalu santai, atau menghubungi dosen pada jam yang kurang pantas bisa menimbulkan kesan kurang profesional.

Etika komunikasi tetap penting dijaga meski percakapan dilakukan lewat pesan singkat. Bahasa yang sopan tidak harus kaku, tetapi cukup menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.

Terus mencari alasan, bukan mengakui kesalahan

Semua orang bisa melakukan kesalahan, termasuk mahasiswa. Yang membedakan adalah cara menyikapinya ketika kesalahan itu terjadi.

Mahasiswa yang berani mengakui kelalaian dan meminta maaf biasanya lebih dihargai daripada yang selalu menyalahkan keadaan atau orang lain. Sikap bertanggung jawab menunjukkan kedewasaan dan kemauan untuk belajar dari kesalahan.

Pada akhirnya, reputasi baik di kampus tidak hanya lahir dari hasil akademik. Kebiasaan kecil seperti datang tepat waktu, menghargai dosen, dan jujur saat berbuat salah sering kali memberi pengaruh besar terhadap cara dosen memandang mahasiswa.

Source: www.idntimes.com
Terbaru