Kehilangan LG Smartphone Eksperimen Gila Berhenti, Android Jadi Membosankan Tanpa Rival Samsung yang Berani Berinovasi

Android phones kini terasa kurang seru karena sebuah merek legendaris meninggalkan pasar. Merek tersebut adalah LG, yang dikenal sebagai salah satu inovator terpenting di dunia ponsel Android. Setelah LG berhenti memproduksi smartphone, keseruan dari eksperimen desain dan fitur unik mulai memudar.

Pada era awal 2010-an, LG dikenal dengan desain ponsel yang berani dan eksperimental. Misalnya, LG Optimus 3D yang menghadirkan layar 3D tanpa memerlukan kacamata khusus. Ponsel ini dilengkapi dengan kamera ganda yang menangkap gambar dari dua sudut berbeda untuk menciptakan efek tiga dimensi. Meski banyak brand mencoba fitur serupa, LG lah yang paling konsisten mengeksplorasi konsep ini.

Selain itu, LG DoublePlay juga termasuk eksperimentasi yang unik. Ponsel ini memadukan keyboard fisik yang dibagi dua dengan layar kedua berukuran dua inci. Desain ini meningkatkan kenyamanan saat mengetik dan menunjukkan keberanian LG dalam berinovasi di masa keyboard fisik masih populer.

LG juga pernah merilis G Flex, ponsel melengkung yang mampu sedikit ditekuk tanpa rusak. Keunikan lain adalah penutup belakang ponsel ini yang dapat menghilangkan goresan kecil sendiri, berkat bahan polimer khusus. Hal ini menandai kemampuan LG dalam menggunakan teknologi layar OLED fleksibel secara maksimal.

Selanjutnya, LG V10 mencoba memaksimalkan rasio layar terhadap bodi dengan menambahkan layar kedua kecil di atas ponsel. Layar kedua tersebut berfungsi seperti taskbar mini yang selalu menyala dan menampilkan notifikasi serta kontrol tambahan. Ponsel ini memberi gambaran awal tentang tren desain ponsel masa depan.

LG G5 merupakan salah satu contoh modulasi ponsel yang paling berhasil. Bagian bawah ponsel dapat dilepas untuk mengganti baterai atau menambahkan aksesoris, seperti DAC Hi-Fi untuk audio lebih baik atau modul kamera tambahan. Konsep modular ini disambut baik sebagai langkah inovatif di industri yang biasanya mengutamakan desain unibody.

Salah satu fitur paling aneh namun menarik adalah gestur tangan di LG G8 ThinQ. Dengan kamera inframerah, ponsel bisa mendeteksi gerakan tangan pengguna. LG juga menghadirkan “Hand ID”, teknologi biometrik yang membuka kunci ponsel dengan memindai pola vena di telapak tangan.

LG V50 ThinQ memperkenalkan konsep dual-screen dengan aksesori case layar kedua yang dapat dilipat. Solusi ini menjadi alternatif dari ponsel layar lipat yang mahal dan rentan rusak. Meskipun tidak sepenuhnya revolusioner, tindakan ini menunjukkan bahwa LG tidak takut mengikuti tren dengan cara unik.

Data pasar menunjukkan bahwa LG pernah menjadi rival terkuat Samsung di Amerika Serikat. Pada puncaknya sekitar 2012 hingga 2015, LG menguasai 8% pangsa pasar smartphone AS. Jika Apple dikeluarkan dari perhitungan, LG memiliki sekitar 13,7% dari pasar Android di AS, dengan Samsung memegang 50%. Ini membuktikan posisi strategis LG yang membawa daya saing nyata bagi pasar Android.

Penting untuk dicatat, LG juga berkontribusi signifikan dengan memproduksi Google Nexus 4 dan Nexus 5. Peran ini memperkuat posisi LG sebagai mitra terpercaya dan inovatif dalam ekosistem Android sebelum era ponsel Google Pixel dimulai.

LG akhirnya mengumumkan keluar dari pasar smartphone pada tahun 2021. Namun, perusahaan meninggalkan satu warisan terakhir yang mengesankan: LG Wing. Model ini unik karena layar utama dapat diputar ke kiri, memperlihatkan layar kedua sejajar membentuk huruf T. Fitur ini mendukung multitasking nyata, seperti menonton video sambil mencatat atau mengontrol musik terpisah.

Meskipun konsep LG Wing tidak sepenuhnya mendominasi pasar, ponsel ini mewakili tekad LG untuk terus mencoba pendekatan baru demi kenyamanan pengguna dan produktivitas. Ini menjadi penutup era eksperimentasi brutal yang jarang dilakukan oleh produsen lain.

Kini, tampaknya hampir semua produsen Android menjaga langkah aman dan jarang melakukan inovasi gila seperti LG. Beberapa seperti Xiaomi mencoba gimmick layar kedua, dan ponsel lipat mulai berkembang, tapi tidak ada yang setegar dan seberani LG dalam menguji batasan teknologi smartphone.

Era di mana LG merilis inovasi seperti layar bergaya multi-display, ponsel modular, dan fitur biometrik unik seperti Hand ID menghadirkan warna tersendiri dalam dunia Android. Setelah kepergian LG, para penggemar Android sering merindukan sensasi seru dan ide-ide liar yang membuat penggunaan ponsel terasa mengasyikkan dan penuh kejutan.

Meski dunia smartphone terus bergerak maju, tandanya jelas: Android phones stopped being truly fun after this legendary brand gave up. LG meninggalkan jejak inovasi yang sulit diikuti, meningkatkan standar kreativitas dan eksperimentasi di era kejayaan mereka.

Berita Terkait

Back to top button