Jack Dorsey, mantan CEO Twitter sekaligus pendiri Block Inc, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang mencapai sekitar 4.000 pegawai. PHK ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan menuju organisasi yang lebih ramping dan sangat bergantung pada kecerdasan buatan (AI).
Menurut Dorsey, keputusan ini bukan karena bisnis melemah, melainkan karena perusahaan memasuki fase baru yang banyak menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Block yang sebelumnya memiliki lebih dari 10.000 karyawan kini mempekerjakan kurang dari 6.000 orang.
Pemangkasan Pegawai Hingga 40 Persen
Block memangkas sekitar 40% tenaga kerja dari total karyawan. Pada akhir 2019, perusahaan ini hanya memiliki 3.835 pegawai. Namun, seiring lonjakan penggunaan layanan digital selama pandemi, jumlah karyawan melonjak hingga melampaui 10.000. PHK ini mengembalikan jumlah pegawai ke level di bawah 6.000.
Dorsey menegaskan bahwa pihaknya memilih bertransformasi menjadi organisasi yang lebih cepat dengan mengandalkan alat-alat AI. Hal ini juga membuat tim yang lebih kecil dapat mencapai hasil kerja yang lebih besar dan lebih optimal berkat teknologi tersebut.
AI Tingkatkan Produktivitas dan Efisiensi
Block menggunakan alat internal bernama Goose untuk membantu pengkodean dan tugas rutin, tetapi lonjakan kemampuan model AI eksternal melebihi performa alat tersebut pada akhir 2025. CFO Block, Amrita Ahuja, menyatakan output per insinyur meningkat lebih dari 40% sejak September berkat alat AI.
Selain memangkas karyawan, perusahaan justru menambah tenaga teknik senior yang fokus pada pengembangan kecerdasan buatan. Strategi ini menggambarkan pergeseran prioritas dari kuantitas ke kualitas tenaga kerja yang memiliki keahlian AI.
Langkah Ini Bagian dari Tren Global Industri Teknologi
Block bukan satu-satunya yang melakukan pengurangan pegawai besar-besaran karena AI. Perusahaan seperti Amazon, Meta Platforms, Microsoft, dan Verizon juga melakukan pemangkasan serupa. Amazon bahkan menyebut AI sebagai teknologi paling transformatif sejak internet dan menyesuaikan struktur organisasi untuk berjalan lebih efisien.
Perusahaan lain seperti Google, IBM, Dropbox, dan Salesforce juga melakukan restrukturisasi guna mengalihkan fokus investasi dan perekrutan ke pengembangan AI. Pola umumnya adalah ekspansi besar selama pandemi, kemudian penyesuaian drastis saat teknologi AI memungkinkan otomatisasi lebih efisien.
Dampak AI Terhadap Pasar Kerja di Industri Teknologi
Kecanggihan AI semakin mengubah model kerja kantor modern. Misalnya, model Claude di Anthropic dibuat lebih optimal untuk tugas profesional, dan OpenAI terus memperluas adopsi AI generatif dalam operasi bisnis.
AI meningkatkan produktivitas secara signifikan, namun sekaligus mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja konvensional. Kondisi ini menciptakan tantangan sekaligus peluang baru di dunia kerja teknologi.
Jack Dorsey mengantisipasi bahwa restrukturisasi berbasis AI akan terus merembet ke banyak perusahaan lain. Transformasi ke organisasi yang lebih kecil, terampil, dan berorientasi AI kini menjadi tren yang menentukan masa depan industri teknologi global.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






