Samsung semakin menunjukkan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada chip prosesor pihak ketiga. Langkah ini menjadi sorotan setelah peningkatan signifikan dalam pengeluaran perusahaan untuk chipset pada flagship seperti seri Galaxy S. Strategi ini bertujuan menekan biaya produksi sekaligus menjaga profitabilitas.
Peningkatan Pengeluaran Chip Prosesor Samsung
Menurut laporan bisnis tahunan Samsung, pengeluaran perusahaan untuk mobile application processors atau AP melonjak sekitar 26,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencapai 13,8272 triliun won, naik dari 10,9326 triliun won. Kenaikan ini terjadi seiring keengganan Samsung menggunakan Exynos 2500 pada seri Galaxy S25, karena tingkat produksi yang rendah.
Hal ini membuat seluruh model Galaxy S25 bergantung pada Snapdragon 8 Elite besutan Qualcomm untuk pasar global. Dampaknya, proporsi biaya bahan baku divisi Device Experience Samsung naik dari 16,1 persen menjadi 18,5 persen dalam kurun satu tahun.
Dominasi Qualcomm pada Flagship dan Imbas ke Biaya
Seri Galaxy S terbaru memperlihatkan ketergantungan penuh pada prosesor Snapdragon. Galaxy S25 dan Z Fold 7, contohnya, seluruhnya dibekali Snapdragon 8 Elite guna menyajikan performa premium. Namun, untuk Galaxy Z Flip 7, Samsung tetap mencoba menggunakan Exynos 2500 demi menekan separuh beban pembelian chip eksternal.
Bagian terkini dari upaya efisiensi biaya ini dilandasi fakta bahwa prosesor menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya produksi smartphone flagship. Ini menempatkan chipset sebagai salah satu komponen termahal dalam manufaktur ponsel pintar kelas atas.
Keinginan Memperluas Penggunaan Chip Exynos
Samsung mulai mengubah pendekatannya melalui peluncuran Galaxy S26. Model reguler dan S26+ sudah memakai Exynos 2600 untuk sebagian besar pasar, antara lain India, Eropa, dan Korea Selatan. Langkah ini diperkirakan akan membantu Samsung menurunkan ketergantungan terhadap pemasok eksternal serta meningkatkan profitabilitas perusahaan ke depannya.
Di lain sisi, Samsung tetap mempertahankan Snapdragon 8 Elite Gen 5 untuk Galaxy S26 Ultra secara global. Strategi pemisahan chip berdasarkan wilayah dan model ini membuka kemungkinan Samsung mengimplementasikan skema serupa pada generasi berikutnya.
Perbandingan Strategi Penggunaan Chip Samsung pada Seri Flagship Terakhir
| Seri Galaxy | Chip untuk Wilayah Utama | Model Ultra |
|---|---|---|
| Galaxy S25 | Snapdragon 8 Elite (global) | Snapdragon |
| Galaxy S26 | Exynos 2600 (Asia/Eropa/Korsel), Snapdragon 8 Elite Gen 5 (Ultra global) | Snapdragon |
| Galaxy Z Fold 7 | Snapdragon 8 Elite | – |
| Galaxy Z Flip 7 | Exynos 2500 | – |
Potensi Implementasi Lebih Luas Exynos di Masa Mendatang
Industri memperkirakan Samsung akan memperkuat produksi dan distribusi Exynos. Keputusan ini sangat erat kaitannya dengan target efisiensi biaya untuk perangkat flagship. Bila produksi yield Exynos terus meningkat, Samsung diproyeksikan bisa memperluas penggunaan chipset internal di lebih banyak lini produk mendatang, seperti Galaxy S27.
Model distribusi chip berbasis wilayah sendiri bukan hal baru bagi Samsung. Beberapa tahun lalu, pendekatan ini pernah dipraktikkan pada produk flagship, meski menimbulkan perbedaan performa yang sempat menuai kritik. Kini, dengan teknologi manufaktur yang kian maju dan efisiensi kualitas yang terus digenjot, implementasi chip Exynos skala global kian mungkin dilakukan.
Alasan Penghematan dan Kendala di Balik Langkah Samsung
Ada sejumlah alasan kuat Samsung mendorong pemakaian lebih banyak Exynos, di antaranya:
- Mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal seperti Qualcomm.
- Memperbaiki margin keuntungan pada produk flagship.
- Memperkuat daya saing di industri ponsel pintar premium.
- Memanfaatkan ekosistem internal untuk efisiensi pengembangan produk.
Namun, tantangan terbesar terletak pada kapasitas produksi dan stabilitas performa chip Exynos, terutama untuk flagship. Kegagalan produksi Exynos 2500 di Galaxy S25 menyiratkan risiko yang masih harus dibenahi sebelum ekspansi lebih lanjut dapat dilakukan.
Samsung menunjukkan indikasi kuat bahwa ekspansi penggunaan Exynos bisa menjadi strategi kunci dalam menekan biaya chip sekaligus mendongkrak profitabilitas di tengah kompetisi industri yang semakin kompetitif. Pemantauan industri akan terus mengarah pada pengujian kualitas dan kesiapan Samsung dalam mengatasi ketergantungan pada prosesor pihak ketiga, serta apakah strategi ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi perusahaan.
Source: sammyguru.com





