RAMageddon 2026 Makin Nyata, Pasar PC Global Anjlok 11,6% hingga Krisis Memori 2027

Pasar PC global diproyeksikan melemah tajam akibat krisis memori yang belum menunjukkan tanda mereda. Firma riset IDC memperkirakan pengiriman PC dunia turun 11,6 persen pada 2026, lebih buruk dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kontraksi 8,9 persen.

Angka itu menegaskan bahwa kenaikan harga RAM dan komponen penyimpanan bukan lagi gangguan jangka pendek. Tekanan pasokan kini dinilai telah berubah menjadi masalah struktural yang memukul biaya produksi, harga jual perangkat, dan ritme upgrade konsumen.

Proyeksi IDC Makin Suram

IDC menyebut revisi turun itu sebagai sinyal bahwa kondisi pasar memburuk lebih cepat dari perkiraan awal. Selisih hampir 3 poin persentase dari proyeksi sebelumnya menunjukkan tekanan pada industri PC tidak lagi bersifat terbatas.

Laporan itu juga dinilai penting karena disusun sebelum memasukkan risiko tambahan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Artinya, proyeksi penurunan 11,6 persen masih bisa bergerak lebih rendah jika rantai pasok kembali terganggu atau permintaan konsumen ikut melemah.

Dalam konteks industri, pasar PC memang sangat sensitif terhadap harga komponen utama. Memori menjadi salah satu penentu biaya terbesar, terutama untuk laptop, desktop mainstream, workstation, dan perangkat gaming yang mengandalkan kapasitas RAM lebih tinggi.

Kelangkaan Memori Diperkirakan Berlanjut

Jitesh Ubrani, Research Manager IDC untuk Worldwide Mobile Device Trackers, menyampaikan bahwa kelangkaan memori diperkirakan bertahan hingga jauh ke 2027. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa pasar tidak akan cepat kembali normal seperti siklus koreksi komponen pada periode sebelumnya.

IDC juga memperkirakan akan ada pelonggaran harga mulai 2028. Namun, pelonggaran itu tidak berarti harga kembali ke level yang terlihat pada 2025, sehingga konsumen dan pelaku industri harus bersiap menghadapi normal baru dengan biaya memori yang tetap lebih tinggi.

Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah sinyal dari industri. Dell sebelumnya memperingatkan soal kelangkaan memori yang sangat berat, sementara Samsung disebut membatalkan rencana penghentian produksi DDR4 untuk merespons permintaan pasar yang masih tinggi.

Keputusan mempertahankan DDR4 menandakan transisi ke generasi memori baru tidak berjalan mulus. Di banyak segmen, pasar masih membutuhkan komponen lama karena ekosistem perangkat dan biaya migrasi belum sepenuhnya siap.

Dampaknya ke Harga PC dan Laptop

Bagi konsumen, dampak paling nyata biasanya muncul dalam dua bentuk. Harga perangkat naik, atau spesifikasi dipangkas agar harga tetap terlihat kompetitif.

Produsen PC besar seperti HP menghadapi tekanan biaya yang sulit dihindari. Jika harga memori terus tinggi, vendor cenderung menyalurkan beban itu ke harga laptop dan desktop, terutama pada model konsumen dan bisnis yang dijual massal.

Efek berantai juga bisa menyentuh perangkat di luar PC tradisional. Valve dan Framework termasuk nama yang disebut ikut terdampak oleh lonjakan biaya memori sepanjang tahun ini, yang memperlihatkan bahwa krisis komponen menjalar ke handheld gaming dan perangkat modular.

Untuk perusahaan seperti Framework, biaya komponen yang tinggi dapat menjadi ujian serius. Model bisnis yang mengandalkan kemudahan upgrade akan lebih mahal dijalankan jika modul memori dan motherboard sulit ditekan harganya.

Mengapa Krisis Ini Jadi Masalah Besar

Krisis memori tidak hanya soal RAM yang mahal di toko. Masalah utamanya ada pada gabungan beberapa tekanan yang terjadi bersamaan, yaitu pasokan yang ketat, biaya produksi yang meningkat, dan ketidakpastian permintaan global.

Jika pasokan tersendat, produsen akan memprioritaskan lini produk dengan margin lebih tinggi. Akibatnya, perangkat entry-level berisiko mengalami spesifikasi yang lebih konservatif atau ketersediaan yang lebih terbatas.

Dalam jangka menengah, kondisi ini juga dapat menunda siklus pembaruan perangkat. Konsumen yang biasanya membeli laptop baru bisa memilih menahan pembelian lebih lama karena selisih harga tidak lagi sebanding dengan peningkatan performa.

Yang Perlu Dicermati Konsumen

Berikut beberapa implikasi utama dari krisis memori terhadap pasar perangkat:

  1. Harga upgrade RAM dan SSD berpotensi tetap tinggi.
  2. Laptop baru bisa hadir dengan konfigurasi dasar yang lebih minim.
  3. PC gaming dan workstation menjadi lebih mahal untuk dirakit.
  4. Siklus ganti perangkat cenderung lebih panjang.
  5. Produk lama seperti DDR4 tetap relevan lebih lama dari perkiraan.

Di sisi lain, perawatan perangkat lama menjadi makin penting. Pengguna yang belum mendesak untuk mengganti perangkat penuh kemungkinan akan lebih diuntungkan jika fokus pada upgrade terbatas dan optimasi sistem yang sudah ada.

Kondisi ini juga dapat mengubah strategi pasar para vendor. Produsen yang mampu menawarkan daya tahan, kemudahan perbaikan, dan umur pakai lebih panjang berpeluang menarik minat pengguna yang kini makin berhitung sebelum membeli perangkat baru.

Dengan proyeksi IDC yang menunjukkan kontraksi 11,6 persen pada 2026 dan kelangkaan memori yang diperkirakan berlanjut hingga 2027, industri PC memasuki fase yang lebih berat daripada sekadar koreksi siklus biasa. Dalam situasi seperti ini, harga komponen memori tetap menjadi variabel utama yang akan menentukan arah penjualan PC global, spesifikasi perangkat baru, dan keputusan belanja konsumen di berbagai segmen.

Source: telset.id

Berita Terkait

Back to top button