Tim Cook Datang ke China Saat AS Memanas, Apple Bertaruh pada Lonjakan iPhone

Kunjungan CEO Apple Tim Cook ke Chengdu, China, menarik perhatian karena berlangsung saat hubungan Washington dan Beijing kembali memanas. Agenda itu berpusat pada acara Apple Store untuk peringatan hari jadi perusahaan yang ke-50, tetapi kunjungan tersebut juga dibaca sebagai sinyal penting bagi posisi Apple di pasar China.

China tetap menjadi salah satu pilar utama bisnis Apple, baik sebagai pasar penjualan maupun basis rantai pasok global. Karena itu, setiap langkah Cook di negara tersebut dinilai tidak bisa dilepaskan dari tekanan geopolitik, persaingan industri, dan pengawasan regulator yang terus meningkat.

Kunjungan di tengah tekanan geopolitik

Laporan referensi menyebut kunjungan Cook terjadi ketika ketegangan AS-China meningkat terkait perang Iran dan investigasi baru dari AS atas praktik perdagangan China. Situasi itu berkembang setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif era Donald Trump terhadap impor dari China.

Konteks ini membuat lawatan Cook ke Chengdu memiliki bobot lebih besar daripada sekadar agenda perayaan ritel. Di tengah hubungan yang rumit antara dua ekonomi terbesar dunia, Apple tampak berupaya menjaga kedekatan operasional dan komersialnya dengan pasar China.

Bagi Apple, China bukan hanya pasar smartphone terbesar di dunia. Negara itu juga memegang peran penting dalam produksi perangkat, jaringan pemasok, serta ketersediaan komponen untuk berbagai lini produk.

Di saat yang sama, Apple menghadapi tantangan yang tidak ringan di sana. Perusahaan harus menavigasi tuntutan regulator, kritik media pemerintah, dan persaingan yang semakin agresif dari merek lokal.

Apple longgarkan kebijakan App Store

Beberapa hari sebelum kunjungan Cook, Apple menurunkan komisi App Store di China. Tarif untuk pembelian dalam aplikasi dan transaksi berbayar dipangkas dari 30% menjadi 25%.

Apple juga mengurangi biaya bagi pengembang kecil dari 15% menjadi 12%. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap tekanan regulasi dan tuntutan ekosistem digital yang lebih terbuka di China.

Namun pelonggaran itu belum dianggap cukup oleh sebagian pihak. People’s Daily, media Partai Komunis China, menilai pengguna dan pengembang di China masih belum memiliki akses ke sistem pembayaran pihak ketiga dan distribusi aplikasi alternatif.

Media tersebut juga mendorong regulator agar terus menekan Apple membuka ekosistemnya. Kritik itu menunjukkan bahwa isu antimonopoli dan keterbukaan platform masih akan menjadi bagian penting dari hubungan Apple dengan otoritas China.

Penjualan iPhone justru menguat

Di balik tekanan politik dan regulasi, kinerja perangkat keras Apple di China justru menunjukkan penguatan. Counterpoint Research mencatat penjualan iPhone melonjak 23% dalam sembilan minggu pertama tahun ini.

Angka itu menonjol karena pasar smartphone secara keseluruhan justru turun 4% pada periode yang sama. Data ini mengindikasikan bahwa Apple masih mampu memperluas pangsa di tengah perlambatan pasar.

Laporan referensi juga menyebut penjualan Apple di Greater China naik 38% pada kuartal terakhir menjadi USD 25,5 miliar. Lonjakan itu didorong permintaan tinggi terhadap iPhone 17.

Momentum iPhone di China didukung promosi dan subsidi tukar tambah dari pemerintah yang mencakup model dasar iPhone 17. Di sisi lain, sejumlah pesaing Android seperti Oppo dan Vivo disebut harus menaikkan harga karena biaya chip memori meningkat.

Faktor tersebut memberi ruang bagi Apple untuk mempertahankan daya saing harga pada segmen tertentu. Kombinasi insentif pasar dan produk baru akhirnya membantu Apple mencatat performa yang lebih kuat dari perkiraan.

China tetap vital bagi rantai pasok Apple

Kehadiran petinggi Apple di China tidak berhenti pada Tim Cook. COO Apple Sabih Khan juga mengunjungi mitra manufaktur, termasuk pabrik baterai Sunwoda di Shenzhen serta lini perakitan Foxconn di Shenzhen dan Chengdu.

Rangkaian kunjungan itu menegaskan bahwa hubungan Apple dengan China masih sangat dalam pada level operasional. Meski Apple terus berupaya mendiversifikasi produksi ke negara lain, kapasitas manufaktur China tetap sulit tergantikan dalam waktu singkat.

Berikut poin penting dari posisi China bagi Apple:

  1. Pasar penjualan iPhone yang sangat besar.
  2. Basis manufaktur dan perakitan utama.
  3. Jaringan pemasok komponen yang matang.
  4. Sumber pertumbuhan pendapatan regional.
  5. Arena penting untuk persaingan dengan merek lokal.

Bagi investor, perkembangan di China juga punya dampak langsung terhadap persepsi pasar atas Apple. Ketika Wall Street masih menunggu gebrakan nyata perusahaan di bidang AI, kekuatan bisnis iPhone di China menjadi penopang penting sentimen terhadap saham.

Laporan referensi menyebut saham Apple turun lebih dari 8% sepanjang tahun ini, sementara Nasdaq turun sekitar 5%. Dalam situasi itu, kinerja kuat di China membantu Apple menjaga narasi pertumbuhan saat perhatian pasar belum sepenuhnya beralih ke strategi AI perusahaan.

Kunjungan Tim Cook ke Chengdu pada akhirnya memperlihatkan satu hal yang konsisten. Di tengah ketegangan AS-China, kritik regulator, dan tekanan kompetisi, Apple masih menempatkan China sebagai pasar dan mitra industri yang terlalu penting untuk diabaikan.

Berita Terkait

Back to top button