
Samsung Galaxy S26 Ultra mulai diuji lebih jauh setelah unitnya sampai ke reviewer dan pembeli awal. Salah satu pertanyaan terpenting bukan hanya soal performa, tetapi juga apakah ponsel flagship ini cukup mudah diperbaiki agar bisa bertahan selama masa pakai panjang.
Pertanyaan itu relevan karena Samsung menjanjikan dukungan pembaruan Android hingga tujuh tahun. Umur software yang panjang idealnya diimbangi perangkat keras yang tahan lama dan mudah diservis ketika baterai melemah, layar rusak, atau port pengisian aus.
Hasil teardown iFixit: ada kemajuan, tapi belum merata
Lembaga perbaikan independen iFixit membongkar Galaxy S26 Ultra lewat video teardown resmi di YouTube. Hasilnya disebut campuran, karena ada beberapa bagian yang dinilai lebih ramah perbaikan, tetapi ada pula keputusan desain yang justru menyulitkan teknisi.
Dari temuan iFixit, komponen yang paling menonjol adalah baterai. Bagian ini justru menjadi kabar baik bagi pemilik Galaxy S26 Ultra, karena proses pelepasannya dinilai jauh lebih mudah dibanding banyak ponsel premium lain.
Baterai jadi sorotan utama
Menurut iFixit, baterai Galaxy S26 Ultra dapat dilepas dengan relatif mudah setelah panel belakang dibuka dan modul speaker bawah disingkirkan. Setelah itu, kabel baterai bisa diakses dan proses penggantian berlangsung lebih lurus tanpa hambatan besar.
iFixit memuji mekanisme pelepasan baterai yang digunakan Samsung. Baterai dibungkus sistem plastik dengan lapisan perekat yang mudah terkelupas saat tab penarik dilepas, sehingga risiko kerusakan saat servis menjadi lebih kecil.
Baterai memang komponen yang paling cepat menurun seiring waktu. Dalam banyak kasus penggunaan jangka panjang, penggantian baterai adalah jenis perbaikan yang paling mungkin dibutuhkan, sehingga kemudahan pada area ini menjadi nilai penting.
Selain baterai, port USB-C juga mendapat penilaian positif. iFixit menemukan bahwa port tersebut memakai desain modular, sehingga dapat diganti tanpa harus membongkar bagian inti secara berlebihan.
Desain modular pada USB-C penting karena port ini termasuk komponen yang paling sering dipakai setiap hari. Aus fisik, longgar, atau gangguan pengisian biasanya muncul lebih cepat daripada kerusakan pada motherboard, sehingga penggantian yang mudah menjadi keuntungan nyata.
Layar dan kamera depan justru jadi titik lemah
Masalah mulai muncul saat iFixit mencoba melepas layar. Kamera depan disebut merekat kuat ke rakitan layar, sehingga proses pembongkaran menjadi rumit sejak tahap awal.
Untuk melepaskan panel layar, tim iFixit harus memakai panas sangat tinggi dan alat hisap. Bahkan sebelum layar benar-benar lepas, panel itu dilaporkan terpisah akibat gaya yang dibutuhkan saat proses pembongkaran.
Setelah panel terpisah pun pekerjaan belum selesai. iFixit masih memerlukan heat gun dan tenaga tambahan untuk membebaskan layar dari sasis, yang menunjukkan tingkat kesulitan tinggi bahkan untuk teknisi berpengalaman.
Kondisi ini membuat penggantian layar dan kamera depan tidak bisa disebut sederhana. Galaxy S26 Ultra juga hanya dibuka dari satu arah, sehingga teknisi harus masuk dari panel belakang lalu bekerja melewati banyak lapisan sebelum mencapai layar.
Skor perbaikan tertinggal dari Apple dan Google
Di akhir pengujian, iFixit memberi Galaxy S26 Ultra skor repairability 5/10. Angka itu berada di bawah dua pesaing utamanya, yakni Google Pixel 10 dengan 6/10 dan iPhone 17 dengan 7/10.
iFixit menyebut proses pelepasan layar sebagai salah satu alasan utama skor Samsung tertahan. Selain itu, masalah ketersediaan suku cadang resmi dan panduan perbaikan yang dinilai belum memadai juga ikut menurunkan nilai.
Berikut perbandingan skor yang disebut dalam laporan iFixit:
- Samsung Galaxy S26 Ultra: 5/10
- Google Pixel 10: 6/10
- iPhone 17: 7/10
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa Samsung belum memimpin dalam aspek reparabilitas. Padahal, di kelas flagship premium, kemudahan servis kini makin diperhitungkan karena berdampak langsung pada biaya kepemilikan jangka panjang.
Tantangan bukan hanya desain, tetapi juga ekosistem servis
iFixit juga mengkritik cara Samsung menyediakan suku cadang di toko resminya. Menurut laporan tersebut, daftar part sering tampil dengan nomor model yang kurang deskriptif dan minim gambar, sehingga menyulitkan pengguna umum untuk mencari komponen yang tepat.
Sebagai pembanding, Apple dinilai lebih rapi lewat program Self Service Repair yang menyediakan akses part, penyewaan alat, dan manual resmi. Google juga dinilai lebih terbuka karena bekerja sama dengan iFixit untuk menjual suku cadang Pixel dan menghadirkan panduan perbaikan.
Dalam konteks itu, Galaxy S26 Ultra terlihat punya fondasi bagus pada sektor baterai dan USB-C. Namun keunggulan itu belum cukup untuk menutupi kerumitan perbaikan layar serta lemahnya dukungan suku cadang dan dokumentasi resmi.
Untuk perangkat dengan harga $1,300, ekspektasi pasar wajar jika lebih tinggi. Selama Samsung masih tertinggal dalam desain servis dan ketersediaan part, daya tahan jangka panjang Galaxy S26 Ultra akan tetap bergantung bukan hanya pada kualitas hardware, tetapi juga pada seberapa mudah perangkat itu diperbaiki saat kerusakan benar-benar terjadi.
Source: www.androidcentral.com








