
Samsung kembali menjadi sorotan setelah hasil uji awal Exynos 2600 menunjukkan efisiensi daya yang belum sesuai ekspektasi. Chip 2nm berbasis GAA itu tercatat mengonsumsi daya puncak sekitar 30,22W, sementara Snapdragon 8 Elite Gen 5 berada di kisaran 21,48W pada pengujian yang sama.
Selisih tersebut berarti konsumsi daya puncak Exynos 2600 sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding pesaing utamanya dari Qualcomm. Temuan ini penting karena Exynos 2600 diposisikan sebagai lompatan besar Samsung dalam proses fabrikasi 2nm generasi baru.
Hasil uji awal Exynos 2600 versus Snapdragon
Data ini merujuk pada pengujian yang dipublikasikan kanal YouTube TechStation365. Perangkat yang diuji meliputi Galaxy S26 dengan Exynos 2600, OnePlus 15 dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, dan Motorola Signature dengan Snapdragon 8 Gen 5.
Fokus pengujian ada pada Geekbench 6 dan tes dekompresi berkas ZIP 20GB. Dua skenario ini cukup relevan karena menggambarkan performa singkat sekaligus beban kerja yang menuntut efisiensi termal dan daya.
Berikut ringkasan angka yang dilaporkan:
| Chipset | Single-core | Multi-core | Daya puncak |
|---|---|---|---|
| Snapdragon 8 Elite Gen 5 | 3.641 | 10.902 | 21,48W |
| Exynos 2600 | 3.271 | 10.745 | 30,22W |
| Snapdragon 8 Gen 5 | 2.904 | 9.443 | 21,89W |
Dari tabel tersebut, Exynos 2600 memang mampu mendekati skor multi-core Snapdragon 8 Elite Gen 5. Namun, pencapaian itu dibayar dengan kebutuhan daya yang jauh lebih tinggi.
Secara hitungan kasar, selisih dari 21,48W ke 30,22W mencapai sekitar 40,7 persen. Itu menjelaskan mengapa isu efisiensi menjadi titik kritik utama, bukan sekadar performa mentah.
Mengapa angka ini dianggap mengecewakan
Secara teori, proses 2nm GAA semestinya memberi keunggulan pada efisiensi dan kontrol arus. Referensi pengujian menyebut Samsung membawa peningkatan lewat litografi yang lebih maju, jumlah nanosheet yang lebih banyak, dan gate control yang ditingkatkan.
Namun, hasil awal justru memperlihatkan bahwa keunggulan di atas kertas belum otomatis tercermin di perangkat komersial. Dalam praktiknya, Exynos 2600 masih terlihat lebih boros saat mencapai performa puncak.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi performa berkelanjutan atau sustained performance. Saat daya naik tinggi, panas ikut meningkat dan sistem biasanya akan menurunkan frekuensi untuk menjaga suhu tetap aman.
Artinya, performa singkat bisa tampak kompetitif, tetapi kestabilan dalam sesi berat yang lebih lama belum tentu sekuat rival. Ini menjadi perhatian besar untuk penggunaan seperti gaming, rendering, atau pemrosesan AI di perangkat.
Tes dekompresi juga menunjukkan pola serupa
Masalah efisiensi tidak hanya muncul di benchmark sintetis. Pada tes dekompresi file ZIP 20GB, Exynos 2600 juga dilaporkan mencapai daya puncak hingga 7,8W.
Sebaliknya, Snapdragon 8 Gen 5 dan Snapdragon 8 Elite Gen 5 sama-sama berada di bawah 5W dalam skenario tersebut. Snapdragon 8 Elite Gen 5 juga disebut menyelesaikan proses dekompresi lebih cepat.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa efisiensi Samsung Foundry masih tertinggal dari TSMC di kelas flagship. Dalam industri semikonduktor, efisiensi tidak hanya ditentukan arsitektur CPU, tetapi juga kualitas node, yield, manajemen termal, dan tuning perangkat.
Apa arti temuan ini bagi Galaxy S26
Karena Exynos 2600 diuji di Galaxy S26, perhatian kini tertuju pada pengalaman pakai nyata. Daya puncak yang lebih tinggi bisa berdampak pada suhu bodi, kestabilan frame rate, dan potensi pengurasan baterai saat beban berat.
Namun, hasil seperti ini tetap harus dibaca secara hati-hati. Pengujian pihak ketiga berguna sebagai indikator awal, tetapi performa akhir di pasar juga dipengaruhi optimasi firmware, sistem pendingin, dan pembaruan perangkat lunak setelah peluncuran.
Samsung masih punya ruang untuk memperbaiki scheduling, tuning voltase, dan pengendalian thermal lewat update. Meski begitu, data awal ini memberi sinyal bahwa transisi ke 2nm belum otomatis membuat Exynos unggul dalam efisiensi.
Poin penting dari hasil pengujian
- Exynos 2600 mencatat daya puncak 30,22W.
- Snapdragon 8 Elite Gen 5 berada di 21,48W.
- Selisih konsumsi daya puncaknya sekitar 40 persen.
- Skor multi-core Exynos 2600 dekat dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5.
- Pada tes dekompresi 20GB, Exynos 2600 juga tetap lebih boros.
Kanal TechStation365 menyimpulkan Exynos 2600 sebagai chipset yang haus daya, terutama karena konfigurasi 10-core membutuhkan suplai energi lebih besar untuk bekerja optimal. Di sisi lain, hasil ini sekaligus mempertegas bahwa TSMC masih memegang keunggulan penting dalam efisiensi chip flagship, sementara perhatian pasar kini mulai bergeser ke langkah Samsung berikutnya pada Exynos 2700.
Source: www.gizmochina.com








