Harga RAM memang mulai turun dari puncaknya, tetapi pasar belum benar-benar pulih. Penurunan ini masih tipis dan belum menghapus tekanan besar yang sempat membuat harga melonjak tajam, terutama untuk modul DDR5 yang banyak dicari gamer dan perakit PC.
Kondisi ini menandakan krisis memori belum selesai, meski sinyal perbaikan sudah terlihat. Data dari laporan PC Gamer yang mengutip pergerakan harga pasar menunjukkan bahwa koreksi mulai terjadi, tetapi jalur menuju harga normal masih panjang.
Harga mulai terkoreksi, tapi masih jauh dari normal
Salah satu contoh yang menonjol adalah Corsair Vengeance RGB DDR5-6000 32 GB kit. Tiga tahun lalu, produk ini dijual sekitar USD 90 atau sekitar Rp 1,5 juta, lalu sempat melonjak ke kisaran USD 400 hingga mencapai penawaran tertinggi USD 440 saat krisis memuncak.
Pada awal Maret, harga perangkat itu turun menjadi USD 370. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding puncaknya, tetapi masih jauh dari harga wajarnya dan belum mencerminkan kondisi pasar yang stabil.
Bagi pengguna PC, penurunan ini tetap memberi sedikit ruang bernapas. Gamer dan perakit komputer bisa melihat ada peluang penghematan, meski selisihnya belum cukup besar untuk menyebut situasi kembali normal.
Apa yang mendorong harga turun?
Penurunan harga RAM diduga dipengaruhi beberapa faktor baru di industri teknologi. Salah satunya adalah TurboQuant, algoritma baru dari Google yang diklaim bisa menekan biaya memori hingga enam kali lipat.
Faktor lain datang dari OpenAI yang disebut mengalami kendala dalam penggalangan dana. Situasi ini ikut dinilai menahan laju permintaan di pasar komputasi canggih, sehingga memberi efek meredam pada harga memori.
Meski begitu, dampaknya belum merata ke seluruh pasar. Modul dari Corsair tampak jauh lebih murah dibanding sejumlah produk lain, sehingga penurunan harga yang terlihat belum tentu berlaku untuk semua merek dan semua jenis RAM.
Krisis masih dibayangi permintaan AI
Di sisi lain, persoalan utama di industri belum hilang. SK Hynix memperkirakan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di sektor semikonduktor masih bisa berlangsung sampai 2030.
Chairman SK Group, Chey Tae-won, bahkan menilai rantai pasok memori dan chip silikon tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Ia menyampaikan bahwa kekurangan pasokan dapat bertahan hingga 2030, terutama karena permintaan dari perusahaan teknologi besar dan proyek data center AI terus meningkat.
Odanya permintaan AI membuat industri chip terus berada di bawah tekanan. Produsen harus mengejar kebutuhan server, pusat data, dan perangkat komputasi generatif yang tumbuh cepat, sementara kapasitas produksi tidak mudah ditambah dalam waktu singkat.
Faktor yang membuat pasar memori masih rapuh
- Permintaan dari data center AI terus naik.
- Kapasitas produksi chip belum cukup mengejar kebutuhan pasar.
- Gangguan rantai pasok masih terjadi di beberapa titik.
- Ketegangan geopolitik menambah ketidakpastian industri.
- Insiden pada fasilitas gas helium ikut mengganggu produksi chip.
Kelima faktor itu membuat pasar memori tetap sensitif terhadap perubahan kecil. Begitu permintaan naik atau pasokan terganggu, harga RAM bisa kembali bergerak cepat dan sulit ditebak.
Perbaikan ada, tapi belum cukup untuk disebut pulih
Bagi konsumen, situasinya kini berada di fase transisi. Harga RAM memang tidak lagi setinggi saat puncak krisis, tetapi stok, biaya produksi, dan tekanan dari sektor AI masih membentuk pasar yang rentan.
Selama permintaan server dan data center tetap tinggi, penurunan harga kemungkinan berjalan bertahap dan tidak merata. Itulah sebabnya pasar RAM boleh dibilang mulai melunak, tetapi krisisnya sendiri masih jauh dari benar-benar selesai.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: inet.detik.com








