Perbaikan ponsel kini menjadi sorotan baru bagi konsumen yang ingin memakai perangkat lebih lama. Laporan tahunan US PIRG menunjukkan iPhone menjadi ponsel dengan tingkat kemudahan perbaikan paling rendah, sementara Samsung juga belum terpaut jauh.
Temuan ini penting karena harga ponsel premium terus tinggi, tetapi biaya servis dan kerumitan bongkar pasang juga ikut meningkat. Bagi pengguna, isu repairability bukan hanya soal teknisi, melainkan soal umur pakai perangkat, ketersediaan suku cadang, dan hak untuk memperbaiki produk yang sudah dibeli.
Laporan US PIRG dan penilaian terbaru
US PIRG, kelompok advokasi konsumen di Amerika Serikat, merilis laporan berjudul Failing the Fix. Dalam laporan itu, Apple memperoleh nilai D- dan Samsung mendapat nilai D untuk aspek kemudahan perbaikan.
Penilaian terbaru ini memakai basis data European Product Registry for Energy Labeling atau EPREL. Metode tersebut dinilai lebih dekat dengan kondisi perbaikan di dunia nyata dibanding indeks lama dari Prancis yang sebelumnya dipakai dalam laporan serupa.
Perubahan metode membuat nilai kedua merek turun. Ini menunjukkan bahwa ketika tolok ukurnya diperketat dan dibuat lebih realistis, kelemahan desain perangkat modern menjadi lebih terlihat.
Apa yang dinilai dalam repairability
Sistem EPREL tidak hanya melihat apakah ponsel bisa dibuka. Penilaian juga mencakup kemudahan pembongkaran, jenis alat yang dibutuhkan, ketersediaan suku cadang, serta akses terhadap dokumentasi perbaikan.
Faktor-faktor itu menentukan apakah perangkat bisa diperbaiki secara efisien oleh teknisi independen maupun pusat servis resmi. Jika lem, komponen berlapis, atau pembatasan perangkat lunak terlalu dominan, biaya dan tingkat kesulitan perbaikan ikut naik.
Bagi konsumen, skor rendah berarti risiko biaya servis lebih mahal dan waktu perbaikan lebih lama. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa mendorong pengguna mengganti ponsel lebih cepat daripada memperbaikinya.
Apple terburuk, Samsung belum aman
Laporan tersebut menempatkan iPhone sebagai ponsel yang paling sulit diperbaiki di antara merek yang dievaluasi. Posisi Samsung memang sedikit lebih baik, tetapi jaraknya disebut tidak terlalu jauh sehingga tetap menandakan banyak ruang untuk perbaikan.
Masalah ini tidak selalu berarti semua model benar-benar mustahil diperbaiki. Namun secara umum, pendekatan desain dan ekosistem servis kedua perusahaan masih dinilai belum cukup mendukung perbaikan yang mudah, murah, dan terbuka.
Ada catatan penting dalam laporan itu terkait dukungan perangkat lunak. EPREL hanya mencantumkan lima tahun dukungan software, padahal Apple dan Samsung saat ini dikenal menawarkan dukungan yang lebih panjang pada sejumlah perangkat tertentu.
Akibatnya, sebagian penilaian bisa tampak kurang merefleksikan komitmen software terbaru dari kedua perusahaan. Meski begitu, nilai rendah dalam laporan ini tetap terkait banyak aspek lain, bukan semata masa pembaruan sistem operasi.
Faktor Right to Repair ikut memengaruhi nilai
Apple dan Samsung juga kehilangan poin karena tercatat menjadi bagian dari kelompok dagang yang disebut mengadvokasi posisi yang tidak sejalan dengan legislasi Right to Repair. Isu ini sudah lama menjadi perdebatan di banyak negara karena menyangkut akses konsumen dan teknisi independen terhadap alat, suku cadang, dan panduan servis.
Right to Repair pada dasarnya mendorong produsen agar tidak membuat perbaikan menjadi terlalu tertutup. Jika akses terhadap komponen asli, manual servis, atau alat kalibrasi terlalu dibatasi, pengguna akan semakin bergantung pada jalur servis resmi.
Keterbatasan data, tetapi arahnya tetap jelas
US PIRG mengevaluasi sepuluh perangkat per merek dalam laporan ini. Namun untuk Samsung, hanya lima perangkat yang sempat masuk penilaian karena banyak model belum tercantum di basis data EPREL saat laporan disusun.
Keterbatasan sampel itu bisa memengaruhi posisi akhir dalam peringkat. Meski begitu, laporan tersebut tetap memberi gambaran umum bahwa repairability perangkat dari kedua merek besar itu masih belum semudah yang diharapkan.
Merek lain tampil lebih baik
Di luar Apple dan Samsung, beberapa merek mencatat hasil yang lebih baik. Motorola meraih nilai B+, sedangkan Google mendapat nilai C-.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa desain ponsel yang lebih mudah diperbaiki tetap memungkinkan di pasar modern. Artinya, skor rendah bukan konsekuensi yang tak terhindarkan dari ponsel tipis atau fitur canggih, melainkan hasil dari pilihan desain dan kebijakan produsen.
Berikut ringkasan nilai yang disebut dalam laporan:
- Apple: D-
- Samsung: D
- Google: C-
- Motorola: B+
Bagi pasar, temuan ini bisa menjadi tekanan baru bagi produsen ponsel premium. Konsumen kini tidak hanya menilai kamera, performa, dan AI, tetapi juga mulai memperhatikan apakah baterai, layar, atau port pengisian daya bisa diganti tanpa proses yang rumit.
Di tengah dorongan regulasi global soal keberlanjutan dan pengurangan limbah elektronik, repairability berpotensi menjadi faktor pembeda yang semakin penting. Jika tren ini terus menguat, Apple dan Samsung kemungkinan akan menghadapi tuntutan yang lebih besar untuk membuka akses perbaikan, memperbaiki desain internal, dan memastikan suku cadang serta dokumentasi servis lebih mudah dijangkau.
Source: www.sammobile.com