Pengiriman smartphone global turun 6 persen secara tahunan pada kuartal pertama, menurut laporan awal Market Monitor dari Counterpoint Research. Penurunan ini terjadi saat industri menghadapi kekurangan komponen memori DRAM dan NAND, ditambah permintaan konsumen yang melemah di banyak pasar.
Di tengah kontraksi pasar tersebut, Apple justru menempati posisi teratas dengan pangsa pasar global 21 persen. Capaian ini penting karena menjadi kali pertama Apple memimpin pasar smartphone global pada kuartal pertama dalam satu periode tahunan.
Apple memimpin saat pasar melemah
Counterpoint Research mencatat pertumbuhan pengiriman Apple naik 5 persen secara tahunan. Kinerja ini didorong oleh permintaan kuat untuk iPhone 17, program trade-in, serta pertumbuhan di pasar utama Asia-Pasifik, termasuk India.
Kombinasi produk baru dan strategi penjualan dinilai membantu Apple menjaga momentum saat konsumen lebih selektif dalam berbelanja. Ketika pasar massal melambat, segmen premium justru memberi ruang bagi Apple untuk memperluas dominasinya.
Secara umum, sentimen pasar global masih berhati-hati. Counterpoint juga menyoroti bahwa sejumlah merek menyesuaikan harga dan strategi produksi, termasuk menunda peluncuran produk untuk merespons kondisi permintaan yang belum pulih.
Posisi lima besar vendor smartphone global
Berikut gambaran posisi merek berdasarkan pangsa pasar global pada kuartal pertama menurut Counterpoint Research:
| Peringkat | Merek | Pangsa pasar |
|---|---|---|
| 1 | Apple | 21 persen |
| 2 | Samsung | 20 persen |
| 3 | Xiaomi | 12 persen |
| 4 | Oppo | 11 persen |
| 5 | Vivo | 8 persen |
Data ini menunjukkan persaingan yang tetap ketat di papan atas. Selisih Apple dan Samsung hanya 1 poin persentase, sehingga perubahan strategi produk dan pasokan komponen masih bisa mengubah peta pasar pada kuartal berikutnya.
Samsung tertahan, Xiaomi tertekan pasokan
Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 20 persen. Namun, merek asal Korea Selatan itu mencatat penurunan 6 persen secara tahunan akibat lemahnya permintaan di segmen mass market dan tertundanya peluncuran lini Galaxy S26.
Meski begitu, Counterpoint menyebut momentum awal Galaxy S26 tetap kuat. Varian Galaxy S26 Ultra disebut memperoleh traksi tertinggi, yang menunjukkan pasar premium masih punya daya tahan lebih baik dibanding kelas entry-level.
Xiaomi mempertahankan posisi ketiga dengan pangsa 12 persen. Namun, perusahaan ini juga terkena dampak kelangkaan memori yang masih berlangsung, terutama karena fokusnya cukup besar di segmen entry-level yang sensitif terhadap harga.
Laporan tersebut menyebut segmen premium Xiaomi tetap menunjukkan ketahanan. Seri Xiaomi 17 disebut tampil baik di pasar China, sehingga memberi bantalan terhadap tekanan yang muncul di kelas bawah.
Oppo, Vivo, Google, dan Nothing ikut mencuri perhatian
Oppo dan Vivo masing-masing menempati posisi keempat dan kelima. Pangsa pasar Oppo tercatat 11 persen, sedangkan Vivo 8 persen.
Counterpoint menyatakan Oppo tampil kuat di segmen entry-level melalui seri Oppo A5. Di sisi lain, Oppo Find N5 juga mendapat respons baik di pasar, menandakan portofolio Oppo cukup seimbang dari kelas bawah hingga perangkat yang lebih premium.
Vivo dilaporkan masih membukukan pertumbuhan di India meski secara keseluruhan mengalami sedikit penurunan. Kinerja di India menjadi faktor penting karena negara itu terus menjadi salah satu pasar smartphone dengan pertumbuhan strategis di Asia.
Di luar lima besar, dua merek lain mencatat pertumbuhan yang menonjol. Google tumbuh 14 persen secara tahunan, sementara Nothing melonjak 25 persen, menurut Counterpoint Research.
Angka tersebut menunjukkan pasar masih memberi peluang bagi pemain yang menawarkan diferensiasi produk dan pengalaman perangkat lunak. Dalam situasi pasokan komponen yang ketat, identitas merek dan inovasi fitur menjadi faktor yang semakin menentukan.
Apa penyebab pasar smartphone turun
Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan pelemahan pasar global pada awal tahun ini:
- Kekurangan pasokan DRAM dan NAND.
- Permintaan konsumen yang lebih lemah.
- Penundaan peluncuran produk oleh sejumlah merek.
- Konsumen menahan belanja non-prioritas.
- Ketidakpastian global, termasuk tensi di Timur Tengah.
Faktor-faktor tersebut membuat produsen lebih berhati-hati dalam mengatur volume produksi. Kondisi ini juga mendorong merek untuk lebih mengandalkan efisiensi rantai pasok dan strategi harga yang fleksibel.
Counterpoint memperkirakan prospek pasar sepanjang tahun ini masih lemah. Firma riset itu menilai krisis pasokan memori dapat bertahan hingga akhir 2027, sehingga tekanan terhadap vendor belum akan hilang dalam waktu dekat.
Dalam beberapa kuartal ke depan, pertumbuhan diperkirakan lebih banyak datang dari software, perluasan ekosistem, dan layanan digital. Arah ini memperlihatkan bahwa persaingan smartphone global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah unit yang dikirim, tetapi juga oleh kemampuan merek membangun nilai tambah di luar perangkat keras.
Source: www.gadgets360.com