Harga HP Kompak Naik Lagi, Entry-Level Terdorong Hingga Rp1 Juta

Vendor smartphone kompak menaikkan harga perangkat di Indonesia pada awal 2026, dan kenaikannya tidak hanya terjadi di kelas premium. Pantauan harga dari laman resmi vendor menunjukkan kenaikan berkisar dari Rp100 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung model, kapasitas memori, dan segmen pasar.

Kondisi ini terlihat pada berbagai lini produk, termasuk ponsel entry-level yang selama ini menjadi andalan penjualan di pasar massal. Xiaomi dan Samsung termasuk dua merek besar yang ikut menyesuaikan harga, mulai dari seri murah hingga model dengan spesifikasi lebih tinggi.

Kenaikan Harga Menyebar ke Banyak Segmen

Di pasar Indonesia, penyesuaian harga muncul sejak awal April 2026. Beberapa model yang sebelumnya dijual lebih murah kini tampil dengan harga baru di kanal resmi vendor, dan perubahan itu tidak terjadi secara seragam.

  1. Samsung Galaxy A07 RAM 4GB/64GB naik dari Rp1,399 juta menjadi Rp1,599 juta.
  2. Redmi A5 RAM 4GB/128GB berubah dari Rp1,4 juta menjadi Rp1,6 juta.
  3. Beberapa model lain mengalami kenaikan kecil hingga menengah, dengan selisih mulai Rp100 ribu.
  4. Di sisi tertentu, kenaikan dapat menembus lebih dari Rp1 juta untuk tipe yang lebih tinggi spesifikasinya.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan biaya tidak hanya menyentuh satu merek. Produsen besar tampak sama-sama melakukan penyesuaian agar struktur harga mereka tetap sejalan dengan biaya produksi terbaru.

Biaya Komponen Naik Jadi Pemicu Utama

Faktor paling dominan datang dari lonjakan harga komponen memori. Counterpoint Research mencatat bahwa harga DRAM naik lebih dari 50% secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, sementara NAND Flash melonjak lebih dari 90% QoQ.

Kenaikan ini langsung memengaruhi Bill of Materials atau BOM, yaitu total biaya komponen dan proses produksi perangkat. Dalam industri smartphone, lonjakan harga memori biasanya berdampak luas karena hampir semua model memakai komponen tersebut.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, menegaskan bahwa kenaikan harga memori memberi dampak struktural terhadap biaya produksi smartphone. Ia menyebut produsen akan kesulitan menyeimbangkan biaya komponen, margin keuntungan, dan target pengiriman perangkat pada 2026.

Tekanan Paling Berat di Kelas Entry-Level

Tekanan biaya terasa paling tajam pada ponsel murah. Untuk smartphone entry-level dengan harga grosir di bawah US$200, konfigurasi umum seperti 6GB LPDDR4X dan 128GB eMMC diperkirakan dapat menaikkan BOM hingga 25% secara kuartalan pada Q1 2026.

Pada kondisi tersebut, memori bahkan bisa menyumbang hingga 43% dari total biaya produksi perangkat. Angka ini menunjukkan betapa sensitifnya segmen murah terhadap perubahan harga komponen.

Berbeda dengan kelas atas yang masih punya ruang untuk menyesuaikan strategi, segmen entry-level biasanya memiliki margin tipis. Karena itu, kenaikan biaya di level komponen cepat sekali diteruskan ke harga jual.

Mid-range dan Flagship Sama-Sama Tertekan

Tekanan biaya juga merambat ke kelas menengah. Pada segmen mid-range dengan harga US$400–US$600, konfigurasi seperti 8GB LPDDR5X dan 256GB UFS 4.0 membuat porsi biaya memori ikut naik pada Q1 2026.

Counterpoint memperkirakan porsi DRAM di segmen ini naik menjadi sekitar 14%, sementara NAND mencapai 11%. Pada Q2 2026, angkanya bahkan bisa bertambah lagi menjadi 20% untuk DRAM dan 16% untuk NAND.

Untuk segmen flagship, situasinya lebih kompleks karena bukan hanya memori yang mahal. Perangkat premium juga memakai chipset generasi baru berbasis fabrikasi 2nm, sehingga biaya produksi makin tinggi dan kenaikan harga ritel semakin sulit dihindari.

Langkah Vendor untuk Menahan Beban Biaya

Produsen smartphone kini mulai mengubah strategi. Mereka menyederhanakan portofolio produk, terutama di kelas entry-level, agar biaya inventaris dan produksi lebih terkendali.

Beberapa vendor juga menyesuaikan spesifikasi hardware pada fitur yang dinilai kurang penting. Di saat yang sama, target pengiriman untuk model murah mulai dipangkas agar risiko rugi tidak melebar.

Langkah efisiensi ini membantu, tetapi belum cukup untuk menahan tekanan harga memori yang sangat besar. Counterpoint menilai kenaikan harga ritel smartphone tetap sulit dihindari pada 2026, terutama jika harga komponen belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Perkiraan Dampak Harga ke Depan

Counterpoint Research memperkirakan smartphone entry-level bisa naik sekitar US$30 atau sekitar Rp507 ribu. Untuk beberapa flagship, kenaikan harga berpotensi mencapai US$150–US$200 atau sekitar Rp3,3 juta.

Di pasar Indonesia, kenaikan yang sudah terlihat saat ini memang belum setinggi proyeksi ekstrem itu. Namun tren awal April 2026 memberi sinyal bahwa vendor semakin hati-hati menjaga margin di tengah lonjakan biaya komponen, dan konsumen kemungkinan akan melihat lebih banyak penyesuaian harga pada bulan-bulan berikutnya.

Source: selular.id

Terkait