Krisis Chip Memori Menekan Xiaomi, Harga HP Naik Hingga Rp 1 Juta Di Indonesia

Krisis chip memori global yang dipicu lonjakan kebutuhan komponen untuk kecerdasan buatan mulai terasa langsung di pasar ponsel Indonesia. Xiaomi menjadi salah satu produsen yang menyesuaikan harga beberapa lini produknya, termasuk Redmi dan Poco, dengan kenaikan yang terpantau mencapai Rp 1 juta.

Di pasar domestik, penyesuaian harga ini muncul pada awal April 2026 dan tidak hanya terjadi pada satu model. Pantauan di situs resmi dan kanal penjualan menunjukkan kenaikan bervariasi, mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 1 juta, tergantung model dan konfigurasi RAM serta penyimpanan.

Mengapa harga HP Xiaomi ikut naik

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menjelaskan bahwa biaya komponen memori naik tajam dalam beberapa kuartal terakhir. Untuk paket RAM dan penyimpanan 12 GB/512 GB saja, perusahaan disebut harus mengeluarkan biaya tambahan 1.500 yuan atau sekitar Rp 3,7 juta pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan itu dinilai sangat agresif karena disebut mencapai empat kali lipat dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya. Situasi tersebut membuat produsen ponsel harus menyesuaikan strategi harga agar tetap bisa menjaga produksi dan margin, terutama pada perangkat dengan spesifikasi memori besar.

Dampak paling terasa ada di lini Redmi

Redmi menjadi merek yang paling sensitif terhadap lonjakan biaya komponen karena posisinya di kelas harga terjangkau. Produk yang sebelumnya identik dengan harga agresif kini ikut mengalami revisi, termasuk pada model-model yang menyasar pembeli entry-level dan menengah.

Salah satu contoh datang dari Redmi K90 Pro Max di China yang dijadwalkan naik 200 yuan atau sekitar Rp 497.000. Xiaomi juga disebut membatalkan promosi untuk Redmi Turbo 5 dan Turbo 5 Max di pasar tersebut, menunjukkan bahwa tekanan biaya tidak hanya memengaruhi harga jual, tetapi juga program pemasaran.

Model yang terdampak di Indonesia

Di Indonesia, kenaikan harga terpantau pada sejumlah perangkat Xiaomi, Redmi, dan Poco. Besaran kenaikan berbeda-beda, sehingga konsumen yang mengejar spesifikasi tertentu perlu mencermati perubahan harga sebelum membeli.

Beberapa contoh yang sudah terlihat di pasar Indonesia antara lain:

  1. Redmi 15 varian 8 GB/128 GB naik menjadi Rp 2,5 juta dari harga awal Rp 2,3 juta di awal Maret 2026.
  2. Redmi 15 juga naik Rp 400.000 dibanding harga saat peluncuran yang berada di Rp 2,1 juta.
  3. Xiaomi 15T varian 12 GB/256 GB kini dibanderol Rp 7,5 juta, naik Rp 1 juta dari harga debut Rp 6,5 juta.
  4. Poco C85 varian 6 GB/128 GB naik menjadi Rp 1.949.000, atau naik Rp 500.000 dari harga peluncuran Rp 1.549.000.

Penyesuaian harga bukan hanya soal Xiaomi

Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menjelaskan bahwa harga produk dipengaruhi banyak faktor dan perusahaan meninjau harga secara berkala. Langkah ini dilakukan agar nilai yang ditawarkan tetap sejalan dengan kualitas dan inovasi produk yang dibawa ke pasar.

Penjelasan tersebut penting karena menegaskan bahwa harga smartphone tidak hanya dipengaruhi biaya komponen tunggal. Rantai pasok global, biaya produksi, logistik, hingga strategi distribusi juga ikut menentukan harga akhir yang diterima konsumen.

Gambaran kenaikan yang terpantau

ModelRAM/PenyimpananHarga BaruKenaikan
Redmi 158 GB/128 GBRp 2,5 jutaRp 200.000
Xiaomi 15T12 GB/256 GBRp 7,5 jutaRp 1 juta
Poco C856 GB/128 GBRp 1.949.000Rp 500.000

Kenaikan harga di Indonesia ini memperlihatkan bagaimana krisis chip memori global sudah masuk ke level ritel dan memengaruhi pilihan konsumen secara langsung. Selama permintaan komponen untuk AI masih tinggi, tekanan pada harga RAM dan penyimpanan kemungkinan tetap menjadi faktor penting yang akan membentuk harga HP Xiaomi, Redmi, dan Poco di pasar Indonesia.

Terkait