Xiaomi Tergelincir 19 Persen, Tekanan Biaya dan Strategi Lama Mengguncang Pengiriman Global

Xiaomi Corp mencatat penurunan pengiriman ponsel pintar paling tajam di antara lima produsen terbesar dunia pada kuartal pertama tahun ini. Volume pengiriman perusahaan itu turun 19,1 persen secara tahunan menjadi 33,8 juta unit, menurut data IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker yang dirilis pada Rabu, 15 April 2026.

Angka tersebut turun jauh dari 41,8 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. IDC menilai Xiaomi memang sengaja mengurangi pengiriman model lama untuk menghindari lonjakan harga yang lebih besar di pasar yang sedang tertekan biaya komponen dan logistik.

Tekanan pasar global makin berat

Penurunan Xiaomi terjadi di tengah kondisi industri yang tidak stabil. Lonjakan harga komponen, kenaikan biaya energi, dan biaya logistik yang meningkat membuat banyak produsen harus menyesuaikan strategi distribusi dan produksi.

Dalam laporan itu, Direktur Riset IDC Nabila Popal menyebut tahun 2026 sebagai “titik balik kritis” bagi para vendor ponsel. Ia menilai kenaikan biaya akibat perang di Timur Tengah turut memperburuk risiko penurunan prospek pasar ponsel pintar global.

Posisi Xiaomi dibanding pesaing utama

Jika dibandingkan dengan produsen lain, penurunan Xiaomi terlihat paling dalam. OPPO berada di peringkat keempat dengan pengiriman 30,7 juta unit dan penurunan 9,9 persen secara tahunan, sedangkan vivo di posisi kelima mencatat 21,1 juta unit dengan pelemahan 6,8 persen.

Berikut ringkasan kinerja beberapa merek besar menurut data IDC:

  1. Xiaomi: 33,8 juta unit, turun 19,1 persen.
  2. OPPO: 30,7 juta unit, turun 9,9 persen.
  3. vivo: 21,1 juta unit, turun 6,8 persen.
  4. Honor: tumbuh 24 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi di antara sepuluh besar.
  5. Apple dan Samsung: sama-sama mencatat pertumbuhan pengiriman.

Data itu menunjukkan bahwa tekanan paling besar dirasakan oleh pabrikan asal China yang sangat bergantung pada pasar massal dan sensitif terhadap perubahan harga. Di sisi lain, Apple dan Samsung justru lebih terlindungi karena dominasi mereka di segmen premium.

Strategi model lama dan dampaknya

Xiaomi mengambil langkah mengurangi pengiriman perangkat lama agar tidak terjadi kenaikan harga besar-besaran di pasar. Strategi ini bisa menjaga harga agar tetap kompetitif, tetapi di saat yang sama menekan volume pengiriman jangka pendek.

Langkah tersebut juga mencerminkan perubahan pendekatan bisnis di tengah biaya produksi yang kian mahal. Di pasar yang makin selektif, produsen harus menyeimbangkan antara menjaga margin, mempertahankan daya saing harga, dan menghindari penumpukan stok.

Apple dan Samsung masih kuat di premium

IDC menyebut Apple dan Samsung menguasai sekitar seperlima dari total pengiriman global. Posisi itu memberi keduanya kekuatan tawar yang lebih tinggi terhadap pemasok memori dan komponen lain dibanding para pesaing dari China.

Keunggulan di segmen premium juga membuat kedua perusahaan itu lebih mampu menahan tekanan harga. Konsumen kelas premium cenderung lebih stabil terhadap kenaikan harga, sehingga pertumbuhan keduanya tetap terjaga ketika pasar menengah mengalami pelemahan.

Merek China lain masih mencari ruang tumbuh

Di luar Xiaomi, OPPO, dan vivo, sejumlah merek China lain justru mencatat pertumbuhan positif. Honor menjadi sorotan utama karena membukukan kenaikan 24 persen secara tahunan, didukung ekspansi agresif ke pasar luar negeri.

Huawei dan Lenovo juga masuk dalam daftar merek yang menunjukkan pertumbuhan, menandakan bahwa persaingan belum sepenuhnya ditentukan oleh tekanan biaya saja. Dalam kondisi pasar yang berubah cepat, keputusan soal segmentasi produk, ekspansi geografis, dan efisiensi rantai pasok menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pengiriman ponsel pintar.

Terkait