Pengiriman smartphone global turun 6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Penurunan itu terjadi di tengah krisis pasokan memori dan tekanan ekonomi yang membuat pasar ponsel kehilangan tenaga pada periode Januari hingga Maret, menurut laporan Counterpoint Research.
Kelangkaan komponen DRAM dan NAND menjadi salah satu pemicu utama. Ketersediaan yang terbatas mengganggu jalur produksi vendor di berbagai negara dan mendorong biaya bahan baku naik, sehingga margin keuntungan perusahaan ikut tertekan.
Dampak krisis memori ke industri ponsel
Counterpoint Research menyebut produsen komponen saat ini lebih memprioritaskan kebutuhan pusat data untuk kecerdasan buatan. Kondisi itu membuat pasokan untuk sektor konsumen, termasuk smartphone, menjadi lebih ketat dan mahal.
Shilpi Jain, Analis Senior Counterpoint Research, mengatakan minat beli konsumen juga masih lemah akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik di Timur Tengah. Tekanan gabungan antara sisi pasokan dan permintaan ini membuat produsen harus menyesuaikan strategi bisnis agar tetap bertahan.
Biaya produksi yang meningkat juga memaksa sejumlah vendor membebankan kenaikan harga kepada pelanggan. Dampaknya paling terasa di segmen entry-level dan menengah, sementara segmen premium dinilai lebih tahan terhadap lonjakan biaya.
Peta persaingan ikut berubah
Di tengah pasar yang melemah, Apple justru mencatat hasil positif. Perusahaan itu menguasai 21 persen pangsa pasar dan tumbuh 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ditopang oleh penetrasi iPhone 17 serta kesiapan manajemen rantai pasok dalam mengamankan komponen penting.
Samsung bertahan di posisi kedua dengan pangsa 20 persen, tetapi kinerjanya turun 6 persen. Counterpoint menilai penundaan rilis seri Galaxy S26 ikut menekan performa vendor asal Korea Selatan itu pada kuartal tersebut.
Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa 12 persen setelah turun tajam 19 persen. Ketergantungan yang besar pada segmen ponsel terjangkau membuat perusahaan ini lebih rentan saat biaya komponen naik dan daya beli pasar melemah.
Oppo menempati posisi keempat dengan pangsa 11 persen dan mencatat penurunan 4 persen. Vivo berada di urutan kelima dengan pangsa 8 persen, meski pergerakan kinerjanya relatif lebih stabil dibandingkan beberapa pesaing lain di daftar yang sama.
Tantangan masih panjang bagi vendor
Counterpoint memperkirakan krisis memori belum akan cepat mereda dan dapat berlanjut hingga akhir tahun 2027. Situasi ini berpotensi mengubah arah persaingan industri smartphone karena vendor kemungkinan akan lebih fokus pada nilai perangkat dan ekosistem layanan ketimbang mengejar volume penjualan semata.
Perubahan strategi tersebut penting karena pasar tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah unit yang dikirim, tetapi juga oleh kemampuan produsen menjaga pasokan, menekan risiko biaya, dan mempertahankan daya tarik produk di tengah tekanan ekonomi global. Kondisi itu membuat industri smartphone memasuki fase yang lebih selektif dan kompetitif.
