Sebuah peristiwa partikel energetik dari Matahari pada 2018 diduga berkaitan dengan pemanasan besar di atmosfer bawah Mars. Pengukuran menunjukkan suhu di ketinggian tertentu melonjak sekitar 50 derajat Celsius ketika peristiwa itu berlangsung bersamaan dengan badai debu global.
Temuan ini membuka kemungkinan bahwa aktivitas Matahari tidak hanya memengaruhi lingkungan antariksa dan atmosfer atas, tetapi juga dapat berinteraksi dengan cuaca di Planet Merah. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Peristiwa 2018 yang Bertepatan dengan Badai Debu
Mars mengalami badai debu global pada 2018, sebuah peristiwa yang kemudian mengakhiri operasi rover Opportunity milik NASA setelah 15 tahun menjelajah permukaan planet itu. Pada waktu yang sama, Mars juga dilanda peristiwa solar energetic particle atau SEP, yakni hujan partikel berenergi tinggi yang berasal dari Matahari.
Tim peneliti memakai data dari Trace Gas Orbiter (TGO) milik Badan Antariksa Eropa atau ESA untuk meneliti lima peristiwa SEP di Mars. Wahana tersebut digunakan untuk mengamati kemungkinan perubahan suhu pada lapisan bawah atmosfer Mars.
Dari lima kejadian yang dibandingkan, sinyal pemanasan paling kuat hanya terlihat pada peristiwa 2018. Suhu dilaporkan naik sekitar 50 derajat Celsius pada ketinggian kurang lebih 75 hingga 125 kilometer.
| Peristiwa | Kondisi di Mars | Perubahan suhu teramati |
|---|---|---|
| SEP 2018 | Bertepatan dengan badai debu global | Sekitar 50 derajat Celsius pada ketinggian 75–125 km |
| SEP Juli 2021 | Tidak disebut bersamaan dengan badai debu global | Sekitar sepersepuluh hingga seperlima dari kenaikan pada 2018 |
Perbandingan dengan peristiwa SEP pada Juli 2021 membuat anomali 2018 terlihat semakin menonjol. Kenaikan suhu pada 2021 jauh lebih kecil, hanya sekitar sepersepuluh hingga seperlima dibandingkan lonjakan yang terukur pada 2018.
Lana Williams, peneliti PhD dari Lancaster University, mengatakan kepada IFLScience bahwa tim tidak melihat banyak interaksi pada sebagian besar peristiwa yang dianalisis. “Kami menemukan bahwa tidak banyak interaksi terjadi, kecuali pada satu peristiwa ini di mana kami melihat pemanasan dalam jumlah yang cukup signifikan,” katanya.
Dampak Partikel Matahari Masih Diteliti
Peristiwa SEP sebelumnya sudah dikaitkan dengan gejala di atmosfer atas Mars. Wahana MAVEN milik NASA pernah mendeteksi aurora samar yang menyebar di lapisan atas planet tersebut saat terjadi hujan partikel dari Matahari.
Adapun pengaruh partikel itu pada lapisan atmosfer yang lebih rendah belum banyak dipahami. Padahal, pengukuran dari sejumlah rover dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa partikel energetik tersebut dapat mencapai wilayah yang lebih dekat ke permukaan Mars.
Menurut laporan Kompas.com, tim peneliti berhati-hati untuk tidak menyimpulkan bahwa badai matahari secara langsung menyebabkan fenomena di permukaan Mars. Data yang tersedia baru menunjukkan adanya keterkaitan menarik pada satu peristiwa, bukan pola yang telah terbukti berulang.
Tantangan lain muncul setelah MAVEN mengalami anomali ketika berada di balik Mars pada Desember tahun lalu. Tim misi belum berhasil membangun kembali kontak dengan wahana itu, meski data dari instrumen lain masih dapat dipakai untuk penelitian lanjutan.
Data Baru Dibutuhkan untuk Menguji Polanya
Lima peristiwa SEP yang dianalisis berlangsung dalam rentang 2018 hingga 2021. Para peneliti masih menunggu analisis data TGO untuk periode 2022 dan sesudahnya guna melihat apakah pola serupa muncul kembali.
Peristiwa matahari yang sangat aktif pada siklus saat ini juga menjadi perhatian, termasuk badai matahari pada 2024. Saat kejadian itu, hujan partikel dari Matahari sempat terlihat melalui pengamatan kamera rover Curiosity di permukaan Mars.
Williams menilai pengamatan lanjutan penting untuk memahami respons seluruh atmosfer terhadap badai matahari. Penelitian ini dipresentasikan dalam National Astronomy Meeting 2026 yang diselenggarakan Royal Astronomical Society di Birmingham, Inggris.
Hasil sementara tersebut memperlihatkan Mars bukan dunia yang sepenuhnya pasif dan tandus. Atmosfernya dapat dibentuk oleh proses internal planet sekaligus gangguan dari aktivitas Matahari di ruang angkasa.
