Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mendorong penerapan watermark pada konten yang dibuat dengan teknologi artificial intelligence atau AI. Langkah ini dinilai penting karena generative AI kini mampu menghasilkan gambar dan suara yang sangat mirip dengan aslinya.
Nezar menilai penanda tersebut bisa membantu publik membedakan mana konten asli dan mana hasil AI. Ia menyoroti bahwa pesan seperti itu penting terutama di tengah maraknya informasi digital yang beredar cepat di media sosial.
Konten AI kian sulit dibedakan
Perkembangan generative AI membuat hasil olahan mesin semakin meyakinkan. Dalam penjelasannya, Nezar menyebut teknologi ini bahkan bisa menampilkan seseorang seolah-olah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Kondisi itu membuat risiko disinformasi ikut meningkat. Saat konten palsu terlihat nyata, masyarakat dapat lebih mudah terkecoh dan salah menilai informasi yang mereka terima.
Kelompok rentan butuh perlindungan lebih
Nezar menegaskan bahwa watermark bukan hanya soal penandaan teknis, tetapi juga perlindungan bagi publik. Ia menyebut orang tua dan lanjut usia sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena belum sepenuhnya mengikuti perkembangan digital.
Menurut dia, banyak orang masih kesulitan memastikan apakah informasi di ruang digital benar atau tidak. Situasi ini membuat kelompok yang kurang akrab dengan teknologi lebih rentan menjadi korban hoaks berbasis AI.
PP Tunas diarahkan untuk anak
Nezar juga menjelaskan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas tidak dirancang untuk kelompok usia dewasa. Regulasi itu difokuskan pada upaya membangun ekosistem digital yang sehat bagi anak-anak.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fokus kebijakan pemerintah dalam aturan itu berbeda dari isu perlindungan lansia. Karena itu, kebutuhan penandaan konten AI tetap menjadi pembahasan tersendiri dalam upaya menjaga ruang digital yang lebih aman bagi semua pengguna.
Dialog dengan perusahaan teknologi terus berjalan
Untuk memastikan aturan dapat diterapkan, pemerintah terus berkomunikasi dengan sejumlah perusahaan teknologi yang memiliki platform digital. Nezar menyebut respons mereka cukup positif dan menunjukkan sikap kolaboratif.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari Google, Meta, dan TikTok dalam pelaksanaan PP Tunas. Selain pembatasan usia pengguna, dialog tersebut juga membahas solusi teknologi lain yang dianggap relevan untuk mendukung penerapan aturan di ruang digital.
